Ternyata persoalan perluasan sastra ke dunia global tidak semata-mata persoalan pusat dan pinggiran atau daerah dan ibu kota, tapi bagaimana kita bisa mengakses informasi yang lebih terbuka melalui internet.
Warta Suku Sastra
Menyajikan kabar terbaru seputar sastra, seni, kebudayaan, informasi kompetisi, serta agenda komunitas sastra tanah air.
Ternyata persoalan perluasan sastra ke dunia global tidak semata-mata persoalan pusat dan pinggiran atau daerah dan ibu kota, tapi bagaimana kita bisa mengakses informasi yang lebih terbuka melalui internet.
Komunitas sastra tidak hanya bergiat dengan menulis dan mengapresiasi karya sastra, tetapi juga merawat dan melakukan peremajaan terus-menerus, tidak hanya anggota tetapi juga gagasan.
Sastra tidak berhenti pada teks, tetapi bisa melintas ke karya lain semisal film dan seni rupa.
Pada setiap tahun akademik baru, selalu ada satu atau dua mahasiswa yang masih bersedia menghidup-hidupinya di kampus. Mereka, ketiga pembicara itu, adalah di antaranya.
Rangkaian silent reading cukup simpel: duduk, perkenalan, membaca, lalu pulang.
Menutup tidak artinya Festival Sastra Yogyakarta ini berhenti hanya sampai tahun ini. Tapi, justru ini menjadi awal untuk festival-festival seperti ini selalu ada.
Di atas panggung, ia bukan hanya seorang penulis atau musisi. Ia adalah pengarsip hidup.
Suasana Festival Yogyakarta 2025 kian semarak dengan penampilan musik dan pertunjukan monolog yang berlangsung di Panggung Teras di depan Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan pada Minggu malam (03/08/2025).
Kolaborasi semacam inilah yang menghidupkan ruang-ruang baru. Seperti pertemuan antara Festival Sastra Yogyakarta dan Palmerah Yuk!—yang tak hanya ingin membincangkan sastra, tapi juga mengajak tubuh untuk bergerak bersama pikiran.