Peristiwa
Malam Tumplak Wajik: Pungkasan Kegiatan Suku Sastra
October 30, 2024
The Ratan adalah saksi pertemuan demi pertemuan. Delapan kali pertemuan telah membuat peserta dan panitia dari Suku Sastra semakin akrab. Hangat seperti cahaya lampu kuning yang tergantung di bawah pohon-pohon besar sepanjang jalannya. Dan di pertemuan pungkasan malam ini, hangat terasa berlipat-lipat.
Usai nyenja dengan diskusi Kesaksian Sastra dengan peserta lokakarya penulisan kritik sastra dan cerpen eksperimental, yakni Marisa dan Bangkit yang dipandu Mbak Kiarra, maka malam pun berlanjut dengan upacara Tumplak Wajik dan penutupan kegiatan lokakarya. Dipandu oleh duet pembawa acara Saviera Ajeng dan Elso Faris, acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Dalam sambutannya, Fairuzul Mumtaz atau biasa dipanggil Mas Fairuz menceritakan proses panjang dari kelas lokakarya yang dimulai sejak Agustus. Kelas yang pada mulanya diharapkan diikuti oleh mereka yang telah banyak menulis cerpen atau kritik justru lebih banyak diikuti oleh mereka yang baru belajar menulis.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri, mulai dari pendampingan yang intens oleh Prof. Faruk dan Dr. Yoseph Yapi Taum selaku pemateri di kelas kritik, dan Bang Raudal Tanjung Banua dan Mbak Ramayda Akmal di kelas cerpen, hingga pendampingan dan asistensi yang gigih dan super ketat dari Suku Sastra, yang sering dilakukan oleh akademisi Dr. Muhammad Qadhafi dan An Ismanto.
Mas Fairuz juga mengungkapkan bagaimana peserta diberi kesempatan untuk uji publik dan mempresentasikan tulisan mereka di hadapan khalayak. Peserta diminta menyelesaikan naskahnya setengah jadi, kemudian proses asistensi yang ketat, dan sampailah di tangan editor.
Selain konten, dalam kelas khususnya cerpen eksperimental, dapatlah ditemukan kemungkinan baru penciptaan prosa di Indonesia. Diharapkan, benih-benih itu dimulai dari kelas yang diadakan Suku Sastra kali ini.
Mas Dhafi selaku pendamping yang sejak awal hingga akhir menjadi tempat sambat para peserta, terutama kelas kritik sastra, tampak terharu menyaksikan tulisan para peserta telah dibukukan.
Mas Fairuz menambahkan pertanyaan reflektif tentang jumlah yang diluluskan oleh jurusan Sastra Indonesia, namun dari jumlah itu sangat sedikit bahkan tidak ada yang menjadi kritikus. Maka, dengan adanya kelas-kelas yang diadakan oleh Suku Sastra, semoga pernyataan sumir “bubarkan jurusan sastra” yang pernah beredar di media sosial akan pelan-pelan tenggelam dengan sendirinya.

Pak Ratun sebagai perwakilan Balai Bahasa Yogyakarta serta Kemendikbud dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada Suku Sastra. Ia juga mengungkapkan rasa bangganya atas kelas-kelas dan kegiatan yang diadakan oleh Suku Sastra.
Selama ini, Balai Bahasa bekerja sama dengan komunitas-komunitas dan meneruskan cita-cita para sastrawan. Pak Ratun berharap kontribusi yang diberikan Balai Bahasa serta Suku Sastra dapat berimbas banyak kepada masyarakat. Dirinya menambahkan, semoga tidak ada lagi kemunduran.
Acara dilanjutkan dengan penandatanganan poster oleh peserta kelas lokakarya kritik sastra dan eksperimental cerpen. Seluruh peserta yang hadir turut menandatangani poster.

Setelah itu, dilakukan pemotongan tumpeng oleh Mas Fairuz dan doa bersama yang dipimpin Bapak Kertorejo selaku sesepuh desa Panggungharjo, tempat Komunitas Sastra Suku Sastra bermastautin. Pemotongan tumpeng menjadi simbol bahwa Suku Sastra telah resmi lahir dan aktif kembali.
Kini, Suku Sastra membuka diri untuk masyarakat. Mulai tahun depan, Suku Sastra juga diharapkan dapat memberikan honorarium bagi para penulis yang dimuat di situs web sukusastra.local/.

Penampilan pertama di malam penutupan kali ini adalah dramatic reading oleh Feri Ludiyanto. Feri membacakan cerpen salah satu peserta kelas cerpen, yakni Lintang Zulfikar, yang berjudul Sebuah Kisah. Cerpen yang meniru bentuk pengucapan kitab suci ini mengandung repetisi kata atau frasa tertentu yang mengingatkan pembaca pada gaya tutur sastra lisan.

Penampil berikutnya adalah pembacaan puisi oleh Mbak Nora Septi Arini. Dengan vokal yang empuk, Mbak Nora membacakan puisi berjudul Dongeng Pepohonan karya Iswadi Pratama. Arif Billah menyusul dengan membacakan puisi karyanya sendiri yang berjudul Senjakala Sima. Fragmen demi fragmen mengantar menuju puncak kisah yang menggetarkan—menegangkan.

Doorprize malam itu juga dimeriahkan dengan pertanyaan-pertanyaan unik. Salah satunya membaca tulisan aksara Jawa yang tertempel di sebuah pohon di dekat panggung. Uang seratus ribu dari Pak Ratun menjadi salah satu hadiah. Mbak Misni sebagai salah satu penerima doorprize mengucapkan terima kasih atas dedikasi panitia. Ia menyaksikan sendiri kerja-kerja panitia dari sejak siang-sore. Doorprize semakin meriah dengan diajukannya pertanyaan-pertanyaan unik kepada tiga penonton bertopi: Bayu, Sulastri, dan Aan.
Acara pada malam itu disponsori pula oleh Pusbanglin, Badan Bahasa, dan Kemendikbud Ristek, juga Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta serta Java and Co, The Ratan Homestay, Kedai Vegan King Mas Mus, Dapur Cening, Gudeg Jeng Ayu, Duta Moza Soundsystem, dan Wani Migunani.

Masuk sesi stand up comedy dari Yos, Damli, dan Rafif. Ketiganya membawakan materi yang sangat variatif. Komedian Yos kesal jadi orang Batak, komedian Damli punya pacar orang Cina, serta komedian Rafif yang tak enak jadi orang Arab. Mereka menyulut gelak tawa penonton dan menambah kehangatan acara di malam itu.

Malam semakin syahdu dengan penampilan akustik Sasmita Musik. Pertama membawakan musikalisasi puisi Kuatrin Sebuah Poci puisi karya Goenawan Mohamad, dilanjut Kepada Kawan karya Aan Mansyur, dan diakhiri dengan Sebuah Buku Harian karya Suminto A Sayuti.
Kursi di depan panggung telah hilang dari pandangan. Maka tibalah penampilan Slamet Digital. Penonton kembali merapat. Beberapa pengunjung turut berjoget dan berdendang. Beberapa penonton mendekat dengan menyangga ponsel mereka, tak tahan untuk tidak mengabadikan momen jedag-jedug itu. Dibuka dengan lagu Bernadya yang tak sampai tuntas dan dilanjut dengan lagu Andai Ku Merasa Bodoh serta Lir-ilir.
Penampilan King Mas Mus menjadi pungkasan di malam itu. Mereka menutup dengan lagu-lagu reggae, antara lain Vegan Vegetarian, Apa yang aku tanam, itu yang aku makan, Hidup yang menyehatkan, dan Vegan Vegetaria.
Menuju pukul 23.00 WIB, dua-tiga penonton mulai berpamitan pulang. Sebagian masih tampak menikmati jogetan.
Dan penggalan lirik musikalisasi puisi Sebuah Buku Harian karya Suminto A Sayuti yang di pertengahan dibawakan oleh Sasmita Musik, entah mengapa masih terngiang.
Perjalanan tak berujung
Akan bermula kembali di sini
Sementara resah datang menghardik
Sementara hati terasa cabik-cabik
Diskusi dan pertemuan akan dirindukan. Karya-karya akan senantiasa dinantikan. Dan Suku Sastra menjadi titik awal memulai perjalanan.***