Lewati ke konten

Kami Sibuk Sekali

August 20, 2026

Kami Sibuk Sekali

Dua bulan ini kami sibuk sekali dengan kegiatan sastra. Di akhir Agustus, kami menyelenggarakan “Bienial Sastra Indonesia Modern 2026”. Bulan berikutnya, “Resiliensi Tanpa Henti: Lokakarya Penulisan Cerita Inspiratif untuk Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas”.

Nama-nama kegiatan ini panjang dan kami harus sering-sering membuka file-file terkait untuk mengingatnya dengan tepat, apalagi kami menggunakan dana publik, sehingga nomenklatur wajib tepat-sama demi kelancaran administrasi.

Dan tentu saja membuat kami lelah fisik dan mental. Bagi penyelenggara, sebuah kegiatan tidak hanya berlangsung pada hari-H, tetapi jauh hari sebelumnya. Tahap persiapan itulah yang menguras tenaga fisik dan mental serta waktu kami.

Ada yang dikorbankan. Namun, ada juga yang didapatkan–begitu banyak hingga kami sulit menyusunnya dalam sebuah daftar. Salah satunya adalah jaringan dan sahabat baru atau lama yang makin erat. Pertama, komunitas-komunitas seni dan sastra, dan kedua, sosok-sosok baru, muda, dan segar yang berpotensi melanjutkan perjuangan di jalan sastra.

Lesbumi, Kantor Sajak, Gawe Institut, Jembatan Edukasi Siluk, Rumah Sastra Yogya, Cak Udin, Cak Soni, Cak Rahmat, Mas Latief, Muflih, Aldo, Alvin, Rinjani, Mamay, Abdul, Agusta, Mas Adnan, Mbak Ima, Mas Paksi Raras Alit, Mas Adib, Mas Armada. Sungguh, sulit menyusun nama-nama komunitas dan sosok-sosok hebat ini dalam sebuah daftar definitif.

Dan selama itu kerja-kerja keredaksian terus berjalan. Kami mengamati naskah-naskah yang dipercayakan kepada kami untuk diapresiasi. Banyak sekali yang sekadar tulisan hasil AI tanpa pengolahan lebih lanjut–untuk naskah semacam ini, langsung kami merahkan dan tak pernah kami tengok lagi.

Namun, kami bersyukur masih banyak naskah yang ditulis dengan daya upaya manusiawi meskipun tak bisa dibilang sudah layak untuk disebut sebagai “sastra”–oh, di zaman ini memang semakin rumit istilah “sastra” itu. Kejujuran itulah yang membuat kami bahagia. 

Demikianlah cara kami di Komunitas Suku Sastra merayakan sastra. Atau, lebih tepatnya: “memperjuangkan” sastra, mengingat dahsyatnya gelombang asupan-asupan banal-kapitalistik yang mengepung kita setiap detik di zaman ini.

Kami masih percaya dan yakin bahwa puisi dan prosa, sebagaimana lukisan, patung, musik, tari, dan teater–dan semua ekspresi estetik manusiawi yang jujur dan berjiwa–adalah cara yang manjur untuk memaknai dan mensyukuri keberadaan kita di sini dan saat ini.

Sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Salam hangat selalu.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.