27 Agustus 2026 Ruang Wijayakusuma, Taman Budaya Embung Giawangan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Narasumber: Mahfud Ikhwan Ramayda Akmal Raudal Tanjung Banua Muhidin M. Dahlan Diselenggarakan atas inisiatif Komunitas…
Kategori
27 Agustus 2026 Ruang Wijayakusuma, Taman Budaya Embung Giawangan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Narasumber: Mahfud Ikhwan Ramayda Akmal Raudal Tanjung Banua Muhidin M. Dahlan Diselenggarakan atas inisiatif Komunitas…
Dua bulan ini kami sibuk sekali dengan kegiatan sastra. Di akhir Agustus, kami menyelenggarakan “Bienial Sastra Indonesia Modern 2026”. Bulan berikutnya, “Resiliensi Tanpa Henti: Lokakarya Penulisan Cerita Inspiratif…
Politik tidak hanya hidup di gedung parlemen. Politik juga bisa muncul di meja makan, bangku kuliah, tempat kerja, bahkan di atas ranjang.
Empat hal ini mungkin tampak menjadi bagian yang berbeda atau terpisah, namun sebenarnya memiliki akar yang sama, yaitu menjaga agar denyut kehidupan sastra tetap relevan, berdaya, dan berpihak pada kebaikan.
Kita tak bisa memaksakan sepenuhnya logika pasar kapitalis dalam dunia sastra, tapi juga tak mungkin menggantungkan semuanya pada negara.
Tiap kali nama Umar Kayam diucapkan, beberapa judul karya prosa fiksi langsung disangkutkan dengannya, sering kali tidak secara urut waktu: Para Priyayi, Sri Sumarah, Bawuk, atau Seribu Kunang-Kunang…
Daripada meninabobokan pembaca, Putu Wijaya bertekad membangunkan mereka, sekalipun karena itu dia harus menimbulkan rasa kaget dan terkejut.
Tidak adil rasanya kalau mengadili Idulfitri generasi Z dengan Idulfitri generasi milenial—apalagi boomer.
Sastra kita selalu berada di persimpangan antara perlawanan dan refleksi, antara menjadi saksi sejarah dan menjadi penggerak perubahan.
Kesamaan pilihan bentuk itu mengokohkan keyakinan kami bahwa kritik sastra masa kini harus didekatkan kepada publiknya, yaitu pembaca sastra Indonesia–pada semua spektrum jenis dan gaya bahan bacaan. Esai lebih lentur dan kurang intimidatif ketimbang, katakanlah, skripsi atau tesis yang angker.