Mana Sastra Lebaranmu?
March 30, 2025 · Admin Suku Sastra
Tiap generasi punya kenangannya sendiri-sendiri tentang Idulfitri. Tidak adil rasanya kalau mengadili Idulfitri generasi Z dengan standar Idulfitri generasi milenial—apalagi boomer. Namun, rasanya banyak yang akan bersepakat bahwa Idulfitri tahun ini terasa lebih sepi dan hambar daripada tahun-tahun sebelumnya.
Sebagian besar dari kita akan segera bisa menuding penyebabnya: pemerintahan transisi. Mantra efisiensi pemerintahan baru itu, langsung maupun lewat jalan berputar, sempat bikin pasar modal dihentikan jual-belinya. Padahal, dalam pemahaman ilmu ekonomi, pasar modal tidak pernah bohong sejauh terkait keadaan ekonomi.
Dan ekonomi menjadi percikan awal untuk semua dinamika dalam masyarakat. Semua revolusi maupun reformasi dipicu oleh kekacauan ekonomi. Juga dalam masa lebaran tahun ini keadaan ekonomi yang kacau menimbulkan dinamika—atau kemunduran, yang entah sejenak entah lama—dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya.
Ekonomi sedang seret, jadi orang menunda pengeluaran, yang bikin lebaran kurang ingar bingar dibanding tahun-tahun lalu. Tentu tak semua orang menganggap demikian. Buktinya, di pedalaman Jawa Timur, dan mungkin di daerah-daerah lain, horeg masih digelar hampir sepanjang malam. Boleh jadi itu eskapisme, boleh jadi memang hanya itu yang diketahui generasi saat ini tentang cara merayakan suatu kemenangan.
Generasi dua atau tiga dasawarsa lalu juga punya cara merayakannya sendiri. Ketika listrik belum masuk desa pada 1980-an, anak-anak dan remaja keliling kampung sambil bertakbir diterangi obor. Pada 1990-an, cerita-cerita tentang perjalanan mudik mulai menjadi cerita wajib di sekitar lebaran: pada dasawarsa itu, orang yang melakukan urbanisasi ke kota-kota besar memerlukan pulang ke kampung halaman pada momen Idulfitri—yang kemudian menjadi tradisi populer hingga sekarang.
Para penulis sastra Indonesia mulai marak merayakan Idulfitri sejak 1990-an itu, terutama dengan tema mudik. Lebaran di Karet, di Karet … karya Umar Kayam seluruhnya berisi cerpen-cerpen dengan tema mudik, yang tentu saja mengambil latar waktu sekitar libur lebaran. Tentu, sastrawan punya kacamata lain, yang lebih kritis, ketimbang kacamata populer dalam memandang Idulfitri.
Namun, kita juga melihat perubahan. “Ke Solo, Ke Njati” mendokumentasikan bagaimana wong cilik di Jakarta yang ingin pulang ke kampung halaman harus berjibaku berebut alat transportasi umum: bus. Jibaku seperti itu lazim dan dialami banyak sekali orang pada 1990-an, tetapi mungkin tidak demikian pada hari ini: banyak pemudik yang memilih kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil—terlihat dari kemacetan gila di jalan tol yang seharusnya bebas hambatan itu.
Hanya, tidak semua penulis sastra kita menjadikan lebaran sebagai tema utama. Pramoedya Ananta Toer, melalui “Hadiah Kawin” dalam kumcer Cerita Dari Blora, menjadikan lebaran sebagai bingkai untuk cerita percintaan yang lucu sekaligus tragis.
Penyair kita tidak melulu mengamati fenomena sosial, tetapi juga mengamati misteri. Tentu saja, yang dimaksud di sini adalah Sitor Situmorang: Malam Lebaran. Tidak ada bulan saat malam lebaran karena saat itu adalah tanggal satu dalam penanggalan bulan. Apakah Sitor hanya berhalusinasi, atau sedang menyodorkan simbolisasi-melalui-teks-puisi, atau apakah? Kita juga diperkenankan bertanya-tanya apakah puisi-puisi Khong Guan Joko Pinurbo boleh disebut sebagai puisi bertema lebaran mengingat lekatnya biskuit itu dengan sajian lebaran!
Dan kedua penyair itu beragama Kristen, yang boleh jadi punya pemahaman berbeda tentang lebaran—tetapi toh tetap mampu bikin puisi yang mencengkeram.
Contoh-contoh karya yang dikutip di atas adalah karya-karya “kanon” dari para penulis yang juga “kanon”. Tentu masih banyak penulis cerpen dan penyair lain yang menghasilkan karya yang bermutu. Adakah di antara Anda yang pernah membaca cerpen atau puisi bertema lebaran yang ditulis oleh penulis dari generasi Z saat ini dan mengandung mutu sastra yang baik juga? Mari kita diskusikan.***
Admin Suku Sastra
Admin Suku Sastra menangani semua tetek bengek di situs web SukuSastra.com, mulai dari memeriksa kelengkapan tulisan sebelum memposting di situs web hingga mengontrol tampilan.
Baca Biografi Selengkapnya →