Lewati ke konten

Putu Wijaya dan Umur Panjang Kreativitas

April 11, 2025 · Admin Suku Sastra

Putu Wijaya

Putu Wijaya adalah salah satu dari segelintir sastrawan Indonesia yang dianugerahi longevity bukan hanya dalam hal umur biologis, melainkan juga umur kreativitas.

Lahir pada 11 April 1944, Om Putu menekuni seni menulis sejak SMP. Ia tercatat sudah menerbitkan tulisan sastranya sejak 1960-an. Ia menulis hampir semua genre sastra modern, mulai dari novel, cerpen dan esai hingga naskah drama.

Keterampilan tulis-menulisnya juga dipraktikkan di ranah jurnalistik dan audiovisual. Ia pernah menjadi wartawan, antara lain, di Tempo dan Zaman serta menulis naskah skenario film maupun televisi–bahkan pernah pula memperoleh Piala Citra.

Ia pernah studi hukum di Yogyakarta. Namun, minat utamanya tetap sastra. Sembari tetap menulis sastra, ia juga aktif berteater dengan Teater Mandiri, Teater Kecil, dan Teater Populer.

Dalam karier menulis sastra yang merentang hingga empat dasawarsa lebih, Om Putu menghasilkan karya sastra dalam jumlah luar biasa: puluhan novel, ratusan cerita pendek, ratusan esai, dan belasan naskah drama.

Sehingga, cukup sulit untuk menyebut seluruh karya sastranya secara lengkap: mungkin yang paling menonjol adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, atau YEL.

Tentu ada naik turun kualitas karya dalam produktivitas semacam itu dan tak semua tulisannya memuaskan pembaca atau bertabur pujian kritikus.

Pada masa-masa awal kemunculan Putu Wijaya di ranah sastra, khususnya cerpen yang terbit di majalah sastra pada 1970-an, Wildan Yatim menganggap Om Putu “punya harapan besar buat kesusastraan kita, tapi saya takut melihat kecenderungannya kini dengan adegan-adegan renung yang ganjil dan berjungkir”.

Novel Bila Malam Bertambah Malam yang terbit pada 1971 memang memperlihatkan kecenderungan “adegan renung yang ganjil dan berjungkir” itu. Dalam novel itu, Om Putu menggunakan teknik arus kesadaran dengan pengolahan bahasa Indonesia yang paten, tetapi dengan cerita yang “menjungkirkan” nilai-nilai konvensional bangsawan Bali.

Penjungkiran nilai-nilai konvensional, tetapi pada latar sosial-budaya yang lebih luas, itu tampaknya menjadi obsesi Om Putu. Pada 1995 terbit buku kumpulan cerpennya yang berjudul YEL.

Ignas Kleden, setelah mencermati 80 teks cerpen dalam  buku itu, menduga bahwa penjungkiran semacam itulah yang dimaksudkan oleh Om Putu sebagai “teror mental”: “daripada meninabobokan pembaca, dia bertekad membangunkan mereka, sekalipun karena itu dia harus menimbulkan rasa kaget dan terkejut”.

Lebih lanjut, Pak Kleden menganggap cerita-cerita Om Putu dalam buku itu–dan mungkin juga dalam karya-karya yang lain–adalah semacam dongeng karena “segala sesuatu yang dijumpainya dapat disuruh bercerita tentang apa saja, tanpa peduli apakah itu realistis atau tidak, logis atau tidak”.

Yang membedakan dengan dongeng lama, dongeng Putu Wijaya “tidak bersifat didaktis, tetapi secara sadar memilih untuk menjadi anti-didaktis. Dia tidak berusaha menyampaikan nilai-nilai kehidupan, tetapi mempertanyakan, mengguncang-guncangnya, meremehkan, atau mengjungkirbalikkannya”.

Daftar karya sastra Putu Wijaya dan kompendiumnya mungkin memang sangat melimpah, bahkan bertambah-tambah hingga di usianya yang ke-81 pada 2025 ini. Namun demikian, hasil dari energi kreatif puluhan tahunnya itu tentu tak boleh dilewatkan.

Selamat berulang tahun ke-81, Om Putu Wijaya.

A
Tentang Penulis

Admin Suku Sastra

Admin Suku Sastra menangani semua tetek bengek di situs web SukuSastra.com, mulai dari memeriksa kelengkapan tulisan sebelum memposting di situs web hingga mengontrol tampilan.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.