Lewati ke konten

Empat Hal yang Sedang Kami Usahakan

August 11, 2025 · Admin Suku Sastra

1

Selama hari-hari terakhir Juli hingga hari-hari awal Agustus 2025, kami sibuk sekali. Festival Sastra Yogyakarta 2025 mengajak kami berkolaborasi dalam perumusan gagasan dan pencatatan peristiwa untuk acara tersebut.

Kami, sebagai komunitas sastra, sedang belajar untuk menjalankan kerja-kerja kolaboratif lintas-komunitas seperti ini. Sehingga, di sana-sini masih banyak yang perlu ditingkatkan. Namun, ada juga beberapa hal yang membuat kami sedikit bisa menegakkan kepala.

Misalnya, kami masih harus mencari bentuk pencatatan yang paling pas untuk kegiatan perayaan sastra. Straight news tentu saja tidak istimewa walaupun harus ada. Jadi, kami mencoba bentuk feature yang sudah dimodifikasi sehingga lebih terasa “sastrawi”.

Sejauh ini, hasilnya bisa dibaca dalam rubrik “FSY 2025” di situs sukusastra.local/. Berhasil atau tidaknya usaha kami itu, pembaca yang menentukan. Umpan balik dari pembaca tentu akan sangat membantu kami meningkatkan diri.

2

Pada bulan kemerdekaan Indonesia, kami juga sedang berusaha memerdekakan diri dari inkonsistensi dalam pengelolaan situs web serta kegiatan kami sendiri. Banyak ide, rencana, dan mimpi, tetapi semua harus diperlakukan secara realistis.

Termasuk kesadaran bahwa kesinambungan kegiatan kesastraan secara kolektif tidak bisa selamanya mengandalkan diri pada semangat gotong royong dan semangat membara belaka.

Kita hidup dalam zaman yang oleh Mark Fisher disebut telah dikuasai oleh realisme kapitalis. Kapital, dalam segala bentuknya, telah meresap sedemikian rupa dalam kehidupan manusia, baik dalam skala privat maupun kolektif. Dalam sastra yang kita cintai dengan membabi buta pun realisme kapitalis itu telah memaksakan kekuasaanya.

Dan kita, walaupun tetap melawan ekses-ekses negatif kapitalisme lanjut itu, tidak boleh konyol dan karenanya kita harus bermain dengan jurnalisme yang oleh Jacob Oetama disebut sebagai “jurnalisme anggun”: kompromi sampai batas tertentu.

Karenanyalah kami harus mengusahakan kapital ekonomi yang harapannya kemudian dapat ditransformasi menjadi kapital estetik/literer dan simbolik. Diskusi tentang buku sastra mewajibkan adanya buku itu, dan sebisa mungkin kita harus membelinya: harus diakui, realisme kapitalis itu beroperasi sebagai rezim gagasan dan praktik yang totaliter.

Jadinya, sejauh yang kami mampu, kami masih berusaha menjalankan situs web sukusastra.local/ dan komunitas kami dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan kami. Semoga konsistensi ini bisa kami pertahankan.

3

Kami melakukan modifikasi dalam Ketentuan Pengiriman Karya. Sejak lama, sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlanjut hingga tahun-tahun ke depan, kesadaran lingkungan dan perubahan iklim, di antara soal-soal lain, makin sering disuarakan.

Dalam bidang teori sastra sendiri telah cukup lama, setidaknya sejak 1980-an di Barat (geospasial ini perlu ditekankan dan diperiksa kembali apakah berlaku untuk konteks Indonesia), muncul teori ecocriticism.

Pokok dari teori ini adalah pembacaan kembali teks-teks sastra kanon maupun baru dengan perspektif yang menjadikan alam sebagai bagian integral dalam struktur karya sastra. Lebih ringkasnya, memandang alam sebagai subjek atau agensi yang aktif, bukan sekadar latar belakang atau backdrop yang pasif.

Suku Sastra ingin mendorong penciptaan kreatif dalam puisi, cerpen, esai, kritik, resensi buku, dan mungkin juga cerita perjalanan atau naskah drama, tentang kedua tema itu–kesadaran lingkungan dan perubahan iklim–untuk, sebagai pilot project, dua atau tiga bulan ke depan.

Selama September, Oktober, dan November 2025, kami akan memprioritaskan untuk membaca lebih cermat dan mengapresiasi serta memublikasikan karya-karya sastra yang mengangkat tema kesadaran lingkungan dan perubahan iklim.

4

Seorang pembaca menanyakan kepada kami melalui DM di akun Instagram SukuSastra tentang apa yang kami lakukan dengan data-data pribadi yang disertakan sebagai syarat administratif. Terima kasih atas “peringatan penting” itu.

Sebagai media daring, memiliki kebijakan privasi terkait pengguna dan/atau pengunjung situs memang sudah sepatutnya menjadi keniscayaan.

Beberapa kali hal itu menjadi pembicaraan internal di dalam Suku Sastra. Hanya, kami belum merumuskannya secara definitif. Kami berjanji akan mengusahakan kebijakan privasi itu dan menyatakannya dengan sejernih dan sejelas mungkin dalam waktu dekat.

Beberapa poin utamanya, misalnya tentang kerahasiaan dan penggunaan data pribadi yang menyertai ratusan naskah yang kami terima tiap bulannya sejauh ini, sedang kami pelajari. Kami juga sedang mempelajari EULA (End User License Agreement/Perjanjian Lisensi Pengguna Akhir) agar, setidaknya, sesuai dengan standar atau bare minimum praktik kebijakan privasi di internet.

Yang jelas, kami tidak akan pernah menyalahgunakan data pribadi penulis untuk kepentingan komersial.

***

Pada akhirnya, semua yang kami lakukan ini hanya upaya kecil dari sebuah perjalanan panjang yang kami lakoni bersama. Empat hal di atas mungkin tampak menjadi bagian yang berbeda atau terpisah, namun sebenarnya memiliki akar yang sama, yaitu menjaga agar denyut kehidupan sastra tetap relevan, berdaya, dan berpihak pada kebaikan.

Kami tahu, perjalanan ini tidak akan mulus. Kadang tersendat, melambat, menanjak, bahkan menukik tajam. Tapi, kami percaya, selama ada ruang belajar, berbenah, berkolaborasi, kesempatan-kesempatan itu akan menumbuhkan harapan-harapan. Semoga apa yang kami lakukan ini kelak berarti, tidak hanya bagi kami, tetapi juga ekosistem sastra yang kita cintai bersama.***

A
Tentang Penulis

Admin Suku Sastra

Admin Suku Sastra menangani semua tetek bengek di situs web SukuSastra.com, mulai dari memeriksa kelengkapan tulisan sebelum memposting di situs web hingga mengontrol tampilan.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.