Pohon Durian di Depan Candi Kedaton
March 7, 2025 · Dwi Rahariyoso
Masa silam telah dicatat sebagai pohon
ketika reinkarnasi tiba seperti seorang tua
memandang sungai yang terus-menerus keruh
melayani zaman dan kerakusan
lalu ia ditinggalkan begitu saja bersama gema
yang jatuh dari kuali atau periuk anak-anak kelaparan;
menjadi dewasa dan gagap pada apa saja yang tersisa
di atas tanah Swarnadwipa.
Para biksu yang berlayar jauh dari seberang
sesekali mengingat Muara Jambi seperti Batanghari
sebelum sungai-sungai menjadi dangkal,
bau mati bersama kapar,
gema dupa digantikan azan
sebatang durian bergeming,
makara yang hilang
seperti karma masa silam yang harus ditebus ribuan mantra
dari dalam peripih tembikar kuna
mereka mendengungkan seloka diam-diam
agar jagad tidak murka dan orang-orang berpesta
sambil terus mengingat tuhannya
Setiap dharma
dicatat dalam lembar-lembar prasasti
maupun relief di tepi tembok candi
tetapi, manusia demikian sengsara
meneguk arak sambil menikmati farji
sebagaimana dikisahkan perawi
tiada sesal yang terjadi
kecuali pada amsal yang sakral,
yaitu mati!
Agamamu demikian agung
meriwayatkan keselamatan sebagai laku
kesedihan yang bertubi-tubi di pelataran candi
yang disangsikan orang-orang masa kini
sepanjang tepian Batanghari
arca dan makara bukan milik mereka lagi—
sekadar tontonan dalam etalase kaca museum
tak ada yang diingat kecuali aroma nostalgia
manuskrip-manuskrip dari kulit kayu tua
yang dibawa para biksu mencatat keberadaan
Sumatra
di sela-sela reruntuhan batu bata, bau arang, arca yang patah,
perang, huru-hara adalah dunia yang sepi;
sebuah jazirah yang dibuka untuk ditinggali
dalam ribuan perjalanan melintasi sungai
2024
Dwi Rahariyoso, lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 5 September 1981. Beberapa puisinya pernah termuat dalam antologi bersama dan beberapa media cetak lokal dan daring. Alumnus prodi Sastra Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Yogyakarta dan S2 Ilmu Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Beberapa puisinya pernah diterbitkan terbatas dalam bentuk stensilan dengan judul “Di Sebuah Lukisan Tentang Masa Depan” tahun 2016, yang bekerjasama dengan Flock Project dan dikurasi oleh Arif Furqan. Saat ini berdomisili di Jambi.
Baca Biografi Selengkapnya →