Dari kedua kelompok, lahir rekomendasi serupa: pentingnya ruang berjejaring, pelatihan berkelanjutan, dan kolaborasi lintas komunitas.
Warta Suku Sastra
Menyajikan kabar terbaru seputar sastra, seni, kebudayaan, informasi kompetisi, serta agenda komunitas sastra tanah air.
Dari kedua kelompok, lahir rekomendasi serupa: pentingnya ruang berjejaring, pelatihan berkelanjutan, dan kolaborasi lintas komunitas.
Tunduk pada jalannya alam, patuh pada kejujuran, dan setia pada kewajaran. Dan kau, sebab kata-kata itu, merasa mulai memahami bahasa bambu.
Festival Sastra Yogyakarta 2025 mengusung “Rampak” sebagai simbol kesetaraan, keharmonisan, dan kolaborasi serta menjadi tema utama.
Festival Sastra Yogyakarta 2025 bukan sekadar agenda. Ia adalah upaya merawat denyut kebudayaan, agar terus rampak, terus bersuara bersama.
Jaksa penuntut ada empat orang. Bukan jaksa sungguhan, tentu saja. Tapi, dalam teater yang dimainkan dengan kesungguhan itu, keempatnya duduk sebagai jaksa: Gonjes Kepal SPI, Katrin Bandel, Astrid Resa, dan Saut Situmorang.
Tahun 2021, Faiq mulai mengkurasi cerpen Kompas. Ia membaca cepat dan menilai lebih cepat lagi. “Lima belas detik pertama menentukan,” katanya. Cerpen yang tidak sanggup menawan dalam waktu itu, ia tinggalkan.
Mengapa bukan tentara atau GAM yang menjadi tokoh utama? Ida menjawab pendek: karena yang paling rentan sering kali tidak dianggap penting—perempuan dan anak-anak. Emak-emak di kampung tidak bicara soal ideologi.
Artie menulis embrio Nyi Sadikem sebagai catatan kasar di buku dan terpikir untuk menciptakan sosok gowok yang tidak lazim. Gowok ciptaan Artie adalah perempuan Indo Belanda bernama Elizabeth van Kirk. Lazimnya, gowok adalah perempuan pribumi Jawa.
Cerita-cerita dalam buku itu awalnya muncul di koran Minggu: Tempo dan Media Indonesia. Dua tempat yang masih memberi ruang pada cerita yang tak tahu diri. Saat itu cerpen di koran harus mengandung unsur jurnalistik. Sastra harus mengabarkan sesuatu. Sastra harus seperti berita yang malu-malu disebut fiksi.