Peristiwa
Rawa yang Mengingat Mayat
July 20, 2025
Seorang lelaki dalam seragam, yang menatap tubuh-tubuh tak bernyawa di tepi pulau, akhirnya bertanya pada dirinya sendiri: siapa dirinya dalam peperangan ini? Ia pemimpin pasukan, pelaku serangan, yang kini hanya bisa mengamati tubuh-tubuh yang tergeletak. “Mereka juga anak seseorang, ayah seseorang, bagian dari negeri ini,” katanya pelan, seperti berbicara kepada hantu. Serangan itu terjadi hanya beberapa bulan sebelum para pemimpin negara dan petinggi GAM duduk bersama dan memutuskan untuk berdamai. Tapi, di pulau itu, tidak ada yang mereka temukan, kecuali kematian yang tidak perlu.
Begitulah sepenggal suara dari novel Paya Nie yang memenangi Sayembara Novel DKJ 2023.
Erika Rizky, moderator di Malam Buku Warung Sastra pada 4 Juli 2025, membuka percakapan dengan bertanya apa yang pembaca rasakan setelah membaca novel itu.
Seorang hadirin berkata bahwa Paya Nie membuka sesuatu yang selama ini tertutup: pemberontakan GAM dari sudut pandang perempuan. Ada hal lain juga yang mengganggu pikirannya setelah membaca, yakni KTP Merah Putih. Nasionalisme, dalam kisah ini, terasa seperti sesuatu yang disodorkan paksa. Identitas negara datang seperti formalitas, bukan pilihan.
Paya Nie adalah nama rawa yang dulunya ladang ganja dan pernah pula menjadi tempat latihan bersenjata. Kini ia disebut kawasan lindung. Ida Fitri, sang penulis, memilihnya sebagai latar karena ia tinggal tak jauh dari sana. Ia bisa mengamati perubahan rawa itu dari balik jendela rumahnya, mendengar suara binatang-binatang kecil, dan melihat belukar tumbuh tanpa batas.
Bagi Erika sendiri, buku ini lebih dari sekadar novel. Ia seperti kamus kecil ekologi lokal. Di dalamnya disebut nama-nama yang jarang dipakai di ruang kota: binyut, burung belibis, seroja, kalakai. Ida menulis cerita tentang konflik dengan suara tanahnya sendiri. Ia menambahkan legenda ke dalam realitas. Legenda tentang ikan yang menyeberangi bukit.
Cerita ini, kata Ida, bukan tentang tentara melawan GAM. Ia tidak tertarik pada narasi besar. Ia ingin menulis tentang rakyat, tentang perempuan-perempuan yang hidup sebelum dan selama konflik. Ini tentang kehidupan perempuan yang terselubung diam dan rasa takut. Dalam novel itu, konflik tidak datang begitu saja, dan tidak selesai begitu saja. Penyebabnya panjang, Ujungnya tidak terang.
Ida lahir dan besar di Aceh. Tahun 1999 ia sudah duduk di bangku SMA. Ia tahu suara tembakan dan takut pada peluru nyasar. Ia hidup dalam ketegangan: saat 17 Agustus tiba, ada pihak yang memaksa pengibaran bendera, ada pihak lain yang melarangnya keras. Malam-malam, jika ada yang mengetuk pintu, perempuanlah yang membuka. Konon, semua pihak lebih lunak pada perempuan. Tapi, tidak selalu begitu. Perempuan juga bisa dihina dipukul, diperkosa, bahkan dibunuh.
“Tidak ada satu generasi pun di Aceh yang bebas dari konflik,” kata Ida.
Pertanyaan mengarah ke pilihan sudut pandang. Mengapa bukan tentara atau GAM yang menjadi tokoh utama? Ida menjawab pendek: karena yang paling rentan sering kali tidak dianggap penting—perempuan dan anak-anak. Emak-emak di kampung tidak bicara soal ideologi. Mereka tidak pernah dididik soal itu. Tapi, mereka tahu kehilangan. Mereka tahu cara merawat luka tanpa menyebutnya.
Erika menemukan satu syair perang dalam novel itu, cuplikan dari Hikayat Syabi yang tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Syair itu dibiarkan tetap dalam bahasa ibu. Di halaman lain, ada lagu Nina Bobo versi Aceh. Itu bukan lagu yang menidurkan, melainkan lagu yang melepas anak ke medan perang. Kedua hal itu tidak ditulis sebagai dramatisasi. Mereka muncul begitu saja seperti napas. Seperti sesuatu yang memang sudah tinggal di tubuh rakyat Aceh.
“Bagaimana pendapat Anda sebagai pembaca laki-laki?” tanya Erika kepada Sunlie, tenang, seolah waktu belum berlalu sejauh itu.
Sunlie tiba terlambat. Ban motornya pecah di tengah jalan. Ia menghambur ke panggung dengan langkah cepat, nyaris tergesa, dan langsung mengambil tempat di kursi pembahas. Diskusi sudah berjalan lima belas menit.
Sunlie menjawab, “Tidak perlu dibedakan.”
Semua manusia sama di hadapan cerita. Novel Paya Nie, kata Sunlie, mengingatkannya pada Mo Yan yang berkisah tentang anak-anak dan perempuan yang menjadi korban utama perang. Negara hanya menghitung mereka sebagai angka, bukan sebagai tubuh yang kehilangan, atau suara yang bisu. Setelah perang selesai, bisakah korban menuntut keadilan? Bahkan untuk didengar pun mereka harus menunggu sangat lama.
Menurut pengamatan Sunlie, cerita dalam Paya Nie hanya berlangsung selama dua atau tiga hari. Tapi, waktu terasa lambat, karena ketegangan membuat waktu membeku. Ida menulis dari gosip ke gosip, dari ingatan ke ingatan. Ia menulis seperti menyusup—berjalan pelan di semak belukar, sambil tetap mendengar suara dari kejauhan.
Tokoh-tokohnya tidak besar. Mereka bukan pahlawan. Mereka tidak gagah. Tapi, mereka hidup. Ada dua cuak: satu dari GAM, satu dari TNI. Keduanya kemungkinan bersaudara dari bapak yang sama. Ada Mail, yang suka mengintip perempuan. Ada seorang PNS yang kawin berkali-kali. Ada Kartini, perempuan yang jadi penembak jitu.
Tokoh Kartini bergabung dengan GAM karena soal ekonomi. Ia berasal dari keluarga perempuan semua. Di Aceh, menurut hemat Ida, pemujaan terhadap laki-laki masih dilanggengkan, sehingga banyak bayi perempuan dianggap kegagalan. Mereka lahir tanpa persiapan matang dari orang tuanya yang hanya sekadar mengejar kelahiran anak laki-laki. Ini tentu menimbulkan efek domino pada kehidupan sosial dan ekonomi di Aceh, seperti yang terjadi pada tokoh Kartini.
Seorang peserta bertanya, “Apakah pemberian nama Kartini merupakan sindiran terhadap pola pikir Jawa-sentris?”
Pertanyaan itu tak dijawab langsung. Tapi, ada komentar dari peserta lain. Berdasarkan pengalamannya, nama Jawa bisa menyelamatkan. Nama Jawa sangat membantu seseorang masuk ke sistem. Karena setiap orangtua ingin anaknya tetap hidup. Kadang, nama adalah tameng.
Sunlie menyebut, Ida tidak memihak. Tidak pada TNI, tidak pada GAM. Di pihak GAM pun ada tokoh pemerkosa. Cerita ini, katanya, lebih seperti pengakuan bahwa semua pihak bisa melakukan kekerasan, dan bahwa rakyat selalu berada di tengah—tidak punya pilihan, hanya bisa bertahan.
Seorang peserta yang lain lagi bertanya, “Adakah cerita dari sudut pandang anak-anak?”
Tidak secara langsung. Tapi, ada anak yang melihat penembakan. Anak-anak yang, begitu mendengar suara tembakan, langsung tiarap ke tanah. Seolah tubuh mereka tahu lebih dulu daripada pikiran mereka.
Sunlie tidak mempermasalahkan. Rawa adalah tempat berbahaya. Tidak mungkin ibu membawa anak ke sana. Justru anak-anak yang ditinggal di rumah itulah yang memenuhi pikiran para perempuan di rawa.
Endah Raharjo, mantan jurnalis yang pernah mewawancarai penyintas di Aceh, turut berbicara. Ia pernah bertemu anak-anak yang dibawa ke hutan sejak masih balita. Mereka dilatih sebagai pasukan. Mereka hanya tahu cara mencuri dan membunuh. Ketika dewasa, mereka tidak tahu bagaimana hidup sebagai manusia biasa. Mereka lahir tahun delapan puluhan. Saat perjanjian damai ditandatangani tahun 2007, anak-anak itu telah dewasa, tetapi dunia telah meninggalkan mereka.
“Orang-orang yang tumbuh di tengah kekerasan memiliki ruang tanpa dasar dalam dirinya,” kata Ida.
Bertahun-tahun setelah suara tembakan reda, dan rawa-rawa kembali jadi tempat tumbuh seroja dan kalakai, seorang tokoh fiksi bernama Kapten Eka Kurnia berdiri lama di antara tubuh-tubuh yang telah kehilangan nama. Ia pernah percaya bahwa serangan itu penting, bahwa gencatan senjata bisa membawa semacam kemenangan. Tapi, tak ada yang ia temukan di sana selain pohon-pohon bisu dan kematian yang bahkan tidak tahu untuk apa datangnya.
Pada 15 Agustus 2005, pemimpin negaranya duduk semeja dengan musuh yang katanya tak bisa diajak bicara. Mereka sepakat untuk berdamai, sedangkan ia hanya bisa mengingat mayat-mayat itu. Dalam ingatan itulah, di panggung Malam Buku, Sunlie menantang Ida Fitri untuk melanjutkan ceritanya tentang Aceh.