Peristiwa
Mengetuk Pintu Kompas Minggu
July 21, 2025
Risda Nur Widia memang bukan wajah asing bagi sebagian besar hadirin di kebun Omah Petroek pada Senin sore, 7 Juli 2025 itu.
Saya memperhatikan wajah-wajah muda yang duduk berderet. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswanya. Saya kira mereka mengenal Risda dengan cukup dekat. Itu terlihat dari cara mereka merespons. Hangat, kadang diselingi tawa kecil, seolah panggung bukan sekat, melainkan ruang bersama yang sudah lama mereka tempati.
Tapi, sore itu, bersama Hilmi Faiq, Risda duduk di kursi pembicara bukan sebagai dosen. Ia hadir sebagai penulis yang pernah tanpa lelah mengetuk pintu Kompas. Sepuluh tahun kemudian, barulah pintu itu terbuka.
Mungkin mahasiswa Risda hadir karena sungguh ingin belajar. Mungkin pula karena tugas kuliah yang tak memberi pilihan. Boleh jadi kehadiran mereka berada di antara kesadaran dan keterpaksaan, antara hasrat mencari ilmu dan memoles angka di transkrip indeks prestasi yang harus diselamatkan.
Meskipun alasan mereka berbeda-beda, kedatangan mereka tetap penting. Siapa tahu, dari ruangan kecil itu, satu-dua dari mereka bisa menemukan sesuatu yang tidak diajarkan di buku teks. Terlebih, mereka paham betul bahwa pertemuan dengan kepala desk budaya Kompas adalah kesempatan langka.
Sebelum sesi tanya jawab dibuka, moderator Innezdhe Ayang agaknya sudah bisa menebak isi kepala mereka.
“Tulisan yang baik lahir dari bacaan yang baik,” Faiq menjawab pertanyaan pembuka dari moderator. Faiq menyarankan agar para mahasiswa Risda untuk keluar dari kebiasaan membaca status Instagram dan Facebook. Membaca, katanya, adalah latihan yang tidak bisa ditunda.
Sebelum membicarakan percerpenan di Kompas lebih lanjut, Faiq membahas tentang kewartawanan.
Menjadi wartawan barangkali bukan cita-cita, melainkan kecelakaan yang tidak dapat dihindari. Begitu, kurang lebih, cara Hilmi Faiq memandang awal mula perjalanan jurnalistiknya. Ia pernah punya niat jadi dosen—sebuah rencana hidup yang, seperti banyak rencana hidup lain di republik ini, akhirnya gagal. Maka, ia mengetuk pintu Kompas, dengan membawa bekal beberapa opini yang pernah ia tulis semasa mahasiswa. Pintu itu terbuka.
Jurnalisme, kata Faiq kemudian, adalah latihan keras dalam melihat dan mendengar. Ia menajamkan penglihatan dan mempertajam pendengaran. Apa yang dulu samar, kini bisa ditangkap dengan kata. Ia teringat pada kalimat Seno Gumira Adjidarma: ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Tapi, bagi Faiq, sastra tak hanya bicara. Sastra menyublimkan sesuatu yang tak bisa disebut terang-terangan.
Tahun 2021, Faiq mulai mengkurasi cerpen Kompas. Ia membaca cepat dan menilai lebih cepat lagi. “Lima belas detik pertama menentukan,” katanya. Cerpen yang tidak sanggup menawan dalam waktu itu, ia tinggalkan. Dalam setahun, ada dua sampai tiga ribu cerpen masuk. Dimuatnya hanya satu per minggu. Ada empat redaktur, dan keempatnya harus sepakat. Itulah sebabnya cerpen Risda baru lolos sepuluh tahun sejak pertama kali dikirimkan.
Tentu saja ada jalan lain: Kompas Ide. Tayang seminggu dua kali, dan peluang diterimanya lebih besar. Tapi, nilai yang dipegang tetap sama: amanat hati nurani rakyat. Cerpen-cerpen Kompas adalah cermin realisme yang tak hanya memantulkan, tapi juga mengingatkan. Realisme yang memapah si miskin dan menegur si kaya. Realisme yang bukan sekadar gincu eksotisme lokalitas, melainkan napas dari tubuh rakyat Indonesia yang tergerus oleh kemajuan.
Cerpen yang dimuat, menurut Faiq, harus memiliki rasa. Tidak hanya menceritakan, tapi juga menampilkan: takut, marah, jijik, sedih, dan cemas. Lima emosi itulah yang menggugah manusia agar tak sekadar membaca, tapi juga mengalami. Bila penulis belum dikenal, redaksi akan meminta tiga naskah lain. Untuk apa? Untuk menilai konsistensi dan untuk memastikan karyanya bukan hasil jiplakan. Kalau ketahuan menjiplak, redaksi akan menyebarkan ke media lain. Itu artinya mati sebelum tumbuh.
Risda menimpali Faiq. Katanya, menulis adalah perpanjangan dari kebiasaan membaca. Lalu Risda membagikan kiat-kiat masuk Kompas: paragraf pertama harus menggigit. Kalimat pertama harus bekerja seperti tamparan. Ia menyebut ayat Seno di pembuka Sepotong Senja untuk Pacarku sebagai contoh kalimat yang sederhana tapi tak terlupakan:
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja — dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?
“Bahasa yang baik adalah awal dari pemahaman yang benar,” katanya. Maka, ia mendorong mahasiswanya untuk serius dalam belajar mengarang.
Risda sendiri merasa tidak memperoleh kesadaran estetik dari ayah yang pengrajin kriya. Justru dari komunitas skateboard-lah ia memperolehnya. Ketika berkeliling kota bersama teman-teman komunitasnya, muncul pertanyaan-pertanyaan: kenapa toilet di kota ini lebih bersih daripada di kampung? Kenapa jalan rusak hanya di daerah kami? Dari pertanyaan itu lahir kebutuhan untuk bercerita.
Ia lebih percaya pada tubuh. Cerita adalah caranya memuaskan estetika tubuhnya, bukan estetika visual kriya. Di dalam cerpen, ia bisa meletakkan kejengkelan, kekaguman, dan pertanyaan—semuanya dalam satu kalimat.
Bagi Risda, fiksi adalah ilmu pengetahuan. Kesalahan kita, katanya, adalah mengira fiksi sebagai pelarian. Di masa kecil, novel sering dianggap pemborosan oleh orang tua. Tapi, cerita adalah jendela. Juga pintu.
Ia juga menyebut bahwa banyak penulis berselingkuh dengan artistik. Mereka menyesuaikan diri dengan nilai-nilai artistik media. Tapi, sejatinya, tone of voice bisa digali dengan mencuri dan memodifikasi. Kadang satu kata—misalnya hujan—bisa menjadi pemantik seluruh semesta cerita. Tulisan yang absurd, jika dipahami baik-baik, adalah hasil dari abstraksi yang dibulatkan dalam pengetahuan. “Menulis,” katanya, “adalah menjabarkan abstraksi dalam tubuh.” Jangan takut. Tapi, juga jangan gila ingin jadi penulis. Bisa-bisa gagal total, katanya sambil tertawa.
Sesi tanya jawab dibuka. Mayoritas peserta mengarahkan pertanyaan pada Faiq. Mereka tahu, tak setiap hari bisa berhadapan langsung dengan penyaring tulisan Kompas. Risda? Yah, ia seperti udara kampus: akrab dan konstan.
Salah satu pertanyaan datang dari ujung ruangan, “Cerpen apa yang paling menggambarkan Indonesia?”
“Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan,” jawab Faiq, lalu menyebut nama Kuntowijoyo. Tapi, ia cepat menambahkan, bahwa Indonesia tak bisa dilihat dari satu sudut pandang. Ia juga menyebut cerita tentang lingkungan oleh Seno Gumira Adjidarma (Macan), dan soal agama oleh Raudal Tanjung Banua (Aroma Doa Bilal Jawa). Semua itu seperti prisma—memantulkan cahaya dari sudut yang berbeda.
“Bagaimana cara membuat orang suka membaca?”
“Gabung komunitas,” jawabnya. Contohnya Jakarta Book Party.
“Bagaimana membuat ending?”
“Mulailah dari outline,” katanya tenang.
“Apakah menonton bisa menggantikan membaca?”
“Yusi Avianto Pareanom dan Rio Johan menulis dari film,” jawabnya. Tapi, ia mengingatkan, “Bagaimana mau belajar main bola jika tidak suka rumput?”
Lalu muncul pertanyaan yang selalu muncul: jika cerpen indah, tapi tidak berpihak pada rakyat, apakah tetap dimuat?
Jawaban Faiq tak berubah: “Sekadar indah, tapi tidak memihak, pasti ditolak. Dan sebaliknya: pesan yang bagus, kalau tulisan tidak bagus, juga mohon maaf. Cerpen Kompas mencari keduanya. Estetik dan etik. Yang satu tanpa yang lain akan timpang.”
Setelah acara selesai, sesuatu yang tak saya duga terjadi. Para mahasiswa mengerubungi Risda. Bukan untuk membahas cerpen atau proses kreatif, melainkan bimbingan skripsi! Saya tersenyum, lalu diam-diam merenungkan kalimat yang tadi sempat diucapkan oleh Risda: tidak ada jalan pintas dalam membentuk manusia berpikir.
Kita mengkurasi bacaan sejak dalam pikiran—memilah bacaan yang menanamkan sesuatu ke dalam batin kita. Sesuatu yang tumbuh perlahan, seperti akar yang mencari air dalam diam.
Bila seseorang tumbuh bersama buku, dan buku itu hadir bukan sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan, ia akan menapaki satu demi satu tangga bacaan. Dari yang ringan menuju yang berat. Dari yang menyenangkan menuju yang menantang. Karena seperti tubuh yang lapar akan nasi, pikiran pun kelak lapar akan makna yang lebih dalam.***