Peristiwa
Saya Juga Menulis, Kak Dea
July 9, 2025
Sebagai seseorang yang telah gagal menerbitkan empat novel—satu di antaranya bahkan ditolak tanpa dibaca, dan tiga sisanya karam dalam folder bernama “Final_ReallyFinal”—dan kini sedang mengupayakan satu lagi lewat sayembara paling prestisius di negeriku, kukira aku pantas masuk dalam golongan yang disebut Dea dengan penuh hormat: orang-orang yang tetap menggonggong meski tak pernah ada yang mendengar.
Itulah barangkali alasanku mengekor Dea Anugerah ke Buku Akik pada Ahad, 29 Juni 2025. Aku ingin mendengar pengakuan cinta seorang pemenang penghargaan Kusala terhadap orang-orang yang mencintai kebudayaan tanpa pernah dicintai balik.
Ya, malam itu Dea mengaku jatuh cinta pada orang-orang bertopi pet yang mondar-mandir di taman budaya sampai usia mereka mengejutkan kartu identitas. Mereka selalu menenteng proposal yang tak pernah disetujui. Mereka menulis puisi yang tak pernah dibacakan. Mereka mengarang cerita yang tak pernah selesai. Itu, bagi Dea, lebih romantis daripada penyair yang ingin mencintai hingga jadi abu.
Lantas, apakah karya seorang Dea Anugerah dicintai oleh kesusastraan Indonesia? Sangat mungkin bahwa Bakat Menggonggong diterbitkan ulang karena kritik sastra datang berbondong-bondong menyembah. “Namun, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Balqis Nabila, sang moderator.
Dea Anugerah sempat menghilang. Bukan karena ditelan bumi, melainkan ditelan bayi.
Selama pandemi, Dea punya anak. Ia menggemuk. Perutnya melaju, pipinya melar, dan emosi-emosinya tak lagi tertib. Ia terkejut karena menyadari tubuh bisa berubah tanpa perlu arahan, cukup diberi tangis setiap malam dan sisa susu di kerah baju. Ia juga baru sadar bahwa mengasuh anak bisa mengubah bentuk tubuh siapa saja—termasuk lelaki, jika ia cukup nekad untuk ikut campur.
Tubuhnya bukan lagi tubuh untuk berpikir, tapi tubuh untuk bertahan. Ia menjadi orang lain di cermin, tapi tetap dirinya sendiri di dalam kepala. Lalu, suatu pagi, ia bangun dan tahu: hidupnya perlu dirapikan pelan-pelan seperti baju yang kebanyakan kantong.
Maka Dea mulai bergerak. Ia berolahraga. Ia bersosialisasi. Ia mengunyah kalimat-kalimat yang dulu ia muntahkan. Dengan congkak, ia datang kembali ke dunia lewat lirik-lirik hip-hop.
Hip-hop melontarkan Dea ke perjumpaan-perjumpaan yang tak selalu masuk akal. Ia bertemu Arwin Hidayat, misalnya, gara-gara urusan hip hop di Yogyakarta. Itu sebenarnya lebih mirip jalan memutar yang tak disengaja. Ia melihat wajah Arwin di sampul buku Seno Gumira Adjidarma. Lalu mereka bertemu. Mereka jagongan. Mereka tertawa. Ternyata humor mereka cocok.
Ilustrasi dalam buku Bakat Menggonggong bukan dibuat khusus. Arwin sudah lama menggambarnya, di Bali, mungkin di antara suntuk dan kemuraman. Dea hanya diminta memilih, seperti anak kecil yang disodori toples kue.
Saat menulis Bakat Menggonggong, Dea membayangkan hanya tujuh orang akan membacanya. Itu sudah termasuk editor dan istrinya. Memang, banyak penulis menyebut karyanya anak jiwa. Tapi, Dea ragu ia punya jiwa. Jadi, kalau karyanya jelek, ya dibuang saja. Tak usah dibikin drama.
Dea memang menulis tanpa berniat menyenangkan siapa-siapa. Karenanya, ketika ada pembaca sungguhan yang mengirim pesan lewat media sosial, ia sempat terdiam. Tujuh ternyata bisa jadi delapan atau sepuluh, atau mungkin dua belas kalau yang nyasar dihitung.
Cerita-cerita dalam buku itu awalnya muncul di koran Minggu: Tempo dan Media Indonesia. Dua tempat yang masih memberi ruang pada cerita yang tak tahu diri. Saat itu cerpen di koran harus mengandung unsur jurnalistik. Sastra harus mengabarkan sesuatu. Sastra harus seperti berita yang malu-malu disebut fiksi.
Dea muak. Karenanya Bakat Menggonggong meluncur. Kumcer itu tidak menyuarakan kebenaran, tapi menyodok pembaca agar tahu bahwa menulis bisa dengan banyak cara. Ya, Dea merasa dirinya sobat struktur, pemuja struktur cerita. Ia mencintai bagaimana Charles Dickens mengatur cerita seperti seorang ibu merapikan lemari anaknya yang berantakan.
Namun, tetap saja ada pembaca resah yang berkata, “Aku tidak menemukan pesan moral dalam ceritamu.” Itu karena Dea memang tidak sedang berkhotbah. Ia tidak percaya manusia bisa diringkas jadi satu pesan. Hidup tidak bekerja seperti slogan. Ia ingin menampilkan kerumitan manusia—seperti orangtua yang tampak harmonis di foto, tapi tak bicara selama tujuh tahun di ruang makan yang sama.
Jika ingin menyebarkan ide, Dea menulis esai. Seperti dalam Hidup Ini Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya. Di sana, ia membayangkan dirinya tukang ojek baik hati yang mengantar pembaca sampai ke tujuan, diberi lima bintang, lalu pergi tanpa pamit. Tapi, dalam Bakat Menggonggong, ia adalah tukang ojek mabuk yang menabrakkan diri ke truk, dan mungkin juga menyeret penumpangnya.
Penerbitan ulang Bakat Menggonggong, bagi Dea, merupakan pertanda bahwa tubuhnya, yang sempat tiada beda dengan seonggok karung di sudut dapur, pelan-pelan mulai bergerak lagi.
Pun begitu, ia berkata tak akan lagi menulis dengan nada segetir Bakat Menggonggong. Alasannya sederhana: ia sudah kaya.
“Yang berhak sinis adalah mereka yang tidak punya pilihan lain,” katanya pelan. Suaranya seperti seseorang yang membaca doa tanpa percaya.
Seseorang bertanya, “Apakah tolok ukurnya kemapanan?”
“Iya,” jawabnya. “Contohnya, ketika kamar kos bocor, orang kaya bisa panggil tukang. Orang miskin cuma bisa meringkuk sambil berharap hujan reda. Pada saat itu, ia berhak sinis.”
Dari arah jalanan depan Buku Akik, samar-samar kudengar seekor anjing menggonggong terus meski hujan turun, warung sudah tutup, dan tak ada satu pun yang menggubris.
Ketika acara bubar, Dea masih duduk. Seorang peserta menyodorkan buku untuk ditandatangani, lalu berkata gugup, “Saya juga menulis, Kak.”
Dea mengangguk dan menandatangani halaman depan. Namun satu kalimat menyelinap keluar dari halaman Bakat Menggonggong:
“Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup.”
Tak ada yang menjawab. Tapi, kurasa aku dan orang-orang bertopi pet di taman budaya mendengarnya.
Catatan redaksi: Tulisan ini adalah tulisan kedua atau terakhir dari satu seri dua tulisan. Tulisan sebelumnya bisa dibaca di sini.