Generasi saat ini sudah berbeda. Pak Aziz menekankan bahwa pustakawan tidak boleh kehabisan cara menarik minat siswa untuk berkunjung ke perpustakaan.
Warta Suku Sastra
Menyajikan kabar terbaru seputar sastra, seni, kebudayaan, informasi kompetisi, serta agenda komunitas sastra tanah air.
Generasi saat ini sudah berbeda. Pak Aziz menekankan bahwa pustakawan tidak boleh kehabisan cara menarik minat siswa untuk berkunjung ke perpustakaan.
Novel-novel Mbak Okky memang konsisten pada semangat gugatan. Novel-novel itu menggugat dominasi kekuasaan yang mencengkeram kebebasan manusia.
Dalam sastra sendiri ada banyak karya yang kemudian menjadikan perempuan sebagai subjek utama, dan tidak lagi hadir hanya sebagai subjek atau taklukan.
Identitas perempuan selalu berlapis. Justru di era paling patriarkis, ketika feodalisme laki-laki berkuasa, muncul sosok-sosok hebat.
Menulis bisa menjadi sarana refleksi, menghibur diri, stress release, dan bahkan menghasilkan uang.
Mereka akan membaca puisi keras-keras dalam upaya untuk menunjukkan diri, berkompetisi, dan yang paling penting sebagai bagian panjang dari proses memahami.
Era medsos menyediakan berbagai kemungkinan persebaran informasi. Media sosial tampak bisa jadi alternatif cara menyebarkan informasi —tak terkecuali buku-buku macam karya Tan Malaka.
Membaca puisi bukan perkara membaca saja. Ada seni peran, storytelling, dan sebagainya yang dipertunjukkan.
Menulis sejarah kampung bukan semata persoalan membentuk narasi alternatif, melainkan memperkaya narasi yang telah ada–menambah berbagai kemungkinan perspektif.