Peristiwa
Puisi, Suatu yang Lain dalam Kompetisi
September 8, 2025
Kita melihat langkah-langkah kaki yang berjalan terburu-buru pada suatu pagi–sejak pukul delapan. Itu keramaian yang kita anggap masih terlalu dini ketika kita kemudian tersadar bahwa hari ini, bagi sejumlah orang—muda mudi—bukanlah hari biasa.
Dingin toh masih tercatat pada termometer, dan kita—tanpa perlu bertanya—merasa bahagia waktu menapakkan kaki pada ruang auditorium yang dingin. Kontras dengan cuaca panas di luar yang tadi kita rasakan dan sepertinya bakal membikin iri orang-orang di sana. Tapi, dingin yang masih tercatat selalu bisa disiasati. Dan, pagi ini, puisilah pelakunya.
Sebab puisi, konon, dapat memeluk pembaca dan pendengarnya sekaligus. Dan kali ini mereka, muda-mudi itu, sama-sama bakal merayakannya. Mereka akan membaca puisi keras-keras dalam upaya untuk menunjukkan diri, berkompetisi, dan yang paling penting sebagai bagian panjang dari proses memahami.
Minggu (09/07/2025), ruang yang dominan berwarna putih dan abu-abu, dengan lampu kuning terpacak di dinding kanan-kiri, dan barisan kursi berwarna biru tua telah berjejer rapi untuk menyambut 83 orang muda-mudi (tingkat menengah atas) yang akan membaca puisi.
Ruangan itu ada di gedung Grhatama Pustaka Yogyakarta. Sebelah kanan dari pintu masuk utama gedung. Sepotong panggung yang ditandai dengan kontur lebih tinggi di bagian paling depan siap digunakan untuk lomba membaca puisi, yang merupakan salah satu rangkaian Jogja Book Fair 2025. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.
Pukul sembilan lebih tiga puluh, para peserta memasuki ruangan setelah menandatangani daftar hadir dan mengambil nomor urut di luar gedung. Mereka kemudian duduk rapi untuk menunggu juri. Juga menyiapkan emosi, rasa, dan lain sebagainya ketika nanti nomor urutnya dipanggil dan dipersilakan maju untuk membaca puisi.
Tentu, mereka menyimpan perasaan takut masing-masing. Atau mungkin juga gugup dan gelisah. Barangkali pula bulir-bulir keringat sudah meluncur dari punggung atau pelipis mereka sedari tadi.
Tapi, keberanianlah yang kemudian memperkukuh tekad mereka untuk terus mengikuti rangkaian itu. Dan tentu sambil berharap pula mendapat piala atau piagam untuk dipersembahkan kepada ibu bapak. Atau sekadar “untuk pengalaman saja”, seperti yang diungkapkan salah seorang peserta.
Komang Ira Puspitaningsih, Ikun Sri Kuncoro, dan Febrinawan Prestianto kemudian datang. Mereka duduk di bagian depan, berhadap-hadapan dengan stage, dan bersiap-siap untuk mencatat dan menilai—menjadi dewan juri.
Kemudian para muda-mudi itu maju satu persatu.
Kawruh, lakon dan laku kami//adalah magma dari budi pekerti menderap-derap di ruangan seperti kuda dalam lukisan. Puisi dari Evi Idawati itu menjadi yang pertama dibacakan. Ketika mendengarnya, dalam hemat kita, ia menjawab kegamangan soal Yogya. Benarlah bahwa Yogya merupakan tiupan potret kini dan riuh tradisi. Dan kita tahu Jonggrang bermukim di diri … di setiap//sudut lintang memancar bunyi gamelan mendendang jaman.
Pada kenyataannya, Sudah terlampau lama mata kita yang terbuka//Selalu gagal membaca//dan rabun pada isyarat-isyarat Cinta. Maka, ajakan Suminto A. Sayuti untuk belajar lagi, kemudian terdengar di sela-sela pembacaan. Puisi, kali itu, hadir sebagai tangan yang terulur, mengajak untuk senantiasa Kembali kita belajar membaca//Membaca diri, membaca untingan kata hati.
Kegentingan untuk terus membaca (dalam arti yang lebih luas), tentu ada banyak, tapi yang pertama dan terutama supaya terhindar dari kesalahpahaman, dari gagal menyelam di telaga hikmat//kerna kita hampir selalu lupa sangkan-paran alamat. Dan puisi ketika dibaca dengan hati-hati tentu bakal menunjukkan kita pada alamat-alamat, mengurai simpul-simpul salah paham, menjadi mata awas yang, seperti dilakukan salah seorang pembaca puisi, memandang jauh ke depan.
Lantas, setelah membaca dan menafsir, Lepaskan pula terompah sepatu dan seluruh buku//menapaklah dengan kaki telanjang dalam ajakan Iman Budhi Santosa yang kita dengar kemudian dibacakan. Karena, yang “mengerti” rawan sekali untuk terjebak pada menara-menara tinggi. Maka, “Kembalilah ke Jawa…” ketika Tinggal satu jalan yang ditunjukkan kota-kota berdebu//pada usia enam satu adalah ajakan untuk kembali pulang.
Dan pulang bukan semata menapak tanah yang biasa kita anggap sebagai rumah atau soal kembali ke kampung halaman. Merasakannya lewat puisi dalam ruangan dingin ini bolehlah kita sebut juga sebagai pulang untuk merasuk kembali papatah-petitih ke dalam puisi//merayakan sekuntum melati mekar//pada setiap hati sanubari.
Betapa pun mendengar dibacakan berulang kali oleh para peserta, puisi-puisi itu tetap menyimpan daya magisnya tersendiri. Sebab, setiap peserta membacakannya dengan cara berbeda. Ada yang menepuk-nepuk dada, menginjak-injak bumi, sampai menunjuk-nunjuk langit. Dan dengan nada pembacaan yang beragam pula, dari yang lirih, riuh rendah, sampai tinggi walaupun selalu ada pola-pola sama yang terulang.
Begitulah, puisi, kita barangkali percaya, selalu merupakan dunia tersendiri. Ia selalu bisa ditafsir dan dimaknai berulang kali. Tatkala kita mendengar pembacaan tiga puisi oleh 83 pembaca tadi, tentu saja ada pemaknaan lain yang bisa kita bawa pulang.
Yang pasti, ketika dikatakan bahwa “sejarah dunia adalah sejarah orang muda”, bolehlah kita percaya pembacaan puisi oleh muda-mudi tadi menjadi penanda bahwa sastra Indonesia masih eksis dan sejarahnya bakal terus berlanjut. Meskipun demikian, kembali perlu dipertanyakan kembali: apakah pembacaan semacam itu adalah sebuah bentuk apresiasi yang selalu perlu diawali dengan pemahaman atau hanya sekadar performatif belaka?
Mari kembali kita belajar membaca–seperti dalam puisi Suminto A. Sayuti.***