Lewati ke konten

Peristiwa

Sekali Lagi, Sastra!

September 10, 2025

Sekali Lagi, Sastra!

“Pain is inevitable, but suffering is optional,” tulis Murakami dalam What I Talk About When I Talk About Running. Gagasan itu sebetulnya berasal dari ajaran Buddhisme bahwa rasa sakit adalah keniscayaan, tetapi tidak demikian halnya dengan penderitaan. Keberadaan sastra memang tidak langsung menghapus penderitaan di dunia ini, tetapi dengan sastra pelan-pelan manusia bisa mempersedikit rasa sakitnya.

Sastra tidak langsung mengubah seseorang. Ia bukan dogma sebagaimana khotbah atau kitab suci yang absolut. Ia mengajak manusia untuk berdialog dan bernegosiasi, menyusup ke dalam hati, dan hanya mengguncang ketika si pembaca bersedia membuka diri.

Kamu tidak akan menulis panjang lebar dan mendayu-dayu sebab dua narasumber di depanmu: Okky Madasari dan Ramayda Akmal telanjur membuatmu segan. Malam ini (Sabtu, 6 September 2025) di Grhatama Pustaka, kamu hanya fokus mencatat dan mengambil banyak pelajaran dari keduanya–para penulis yang karya dan sepak terjangnya tidak perlu diragukan lagi.

Kamu harus menegaskan: gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Mbak Ayda membuka pembicaraan dengan Entrok, novel perdana yang mengantarkan Okky Madasari ke panggung sastra Indonesia. Ketertarikan penulis Jatisaba itu tak lepas dari refleksi situasi hari ini yang makin relevan dengan penggambaran di novel Entrok. “Bukan hanya urusan perempuan, tetapi langsung perempuan dan kapitalisme, perempuan dan otoritarianisme,” kata Mbak Ayda.

“Inilah waktu yang tepat untuk membaca Entrok,” Mbak Okky merespons dengan suara menggeletar. “Tetapi, saya justru tidak menginginkan hal itu. Saya justru khawatir.”

“Bagaimana mungkin juga kita sepakat dengan militerisme dan rezim otoriter yang kian hari kian beringas mencampuri urusan sipil?” katamu dalam hati sambil mengangguk setuju.

Berkaca dari entrok atau beha, Okky Madasari mengaku bahwa cerita Entrok terinspirasi dari pengalaman hidup Sang Nenek. Situasi kemiskinan pada masa itu ia simbolkan dengan entrok yang tidak semua orang mampu membelinya.

“Tetapi, kita juga berusaha menempatkan konteks sosial politik. Karena Entrok itu menceritakan situasi Orde Baru, otomatis ceritanya akan mengalir tentang bagaimana kekuasaan itu bekerja, rezim otoritarian bekerja, Orde Baru bekerja,” papar Mbak Okky.

Novel-novel Mbak Okky memang konsisten pada semangat gugatan. Novel-novel itu menggugat dominasi kekuasaan yang mencengkeram kebebasan manusia. “Kekuasaan itu bisa agama, politik, identitas, ekonomi, dan narasi. Semua kekuasaan yang mendominasi kehidupan kita,” ujar Mbak Okky.

Kamu percaya sebagai pembaca bahwa sastra bisa menjadi senjata yang efektif untuk melawan. Tidak langsung menusuk jantung musuh, tetapi lebih mirip seperti cara menguliti hewan. Hal ini yang sering kali membuat karya sastra juga diperhitungkan oleh penguasa–karena sastra berpotensi menyulut kesadaran.

“Jika Mbak Okky mengatakan Entrok sebagai kawan berjuang atau bensin perjuangan, siapa yang ingin Mbak Okky usik sebenarnya?” tanya Mbak Ayda.

“Justru yang ingin saya usik adalah pembaca karya-karya saya. Para pembaca inilah yang kemudian akan berteriak. Teman-teman yang memang akan kita kobarkan. Di situlah karya sastra bekerja,” ujar Mbak Okky penuh percaya diri.

Diskusi berlanjut ke novel Maryam yang mengangkat isu Ahmadiyah. Ide novel itu berasal dari pengalaman Mbak Okky berteman dengan salah satu pemeluk aliran tersebut. Bahkan, Mbak Okky langsung riset ke lapangan, yaitu ke Lombok, untuk memperkuat latar novelnya.

Mbak Ayda makin getol melontarkan pertanyaan yang  menyingkap rahasia di balik penciptaan novel-novel Mbak Okky.

“Peran sastra bukan sebagai senjata langsung, tetapi yang membuka jalan menuju kenyataan, kenyataan yang senyata-nyatanya. Namun, demikian, mungkin ada satu-dua pihak yang terusik. Bagaimana Mbak Okky melihat konsekuensi akan hal itu?” tanya Mbak Ayda.

Mbak Okky terlihat mengambil napas dan berkata bahwa yang paling utama dari menulis adalah upayanya untuk membebaskan pikiran. “Yang terpenting adalah kemandirian berpikir,” tegas Mbak Okky. Ia mengaku ketika menulis karya sastra, ia tidak sedang melayani satu pihak. Misalnya, saat menulis Maryam, penulis tidak hanya bersimpati kepada Ahmadiyah. Ia juga mengkritik sisi patriarki di dalam komunitas itu.

Udara malam kian menggigit, tetapi kamu harus tetap fokus. Atmosfer talk show agak naik ketika beberapa hal yang disampaikan Mbak Okky mungkin tidak mengenakkan bagi sebagian orang. Tentu datangnya bukan dari peserta yang sedang khusyuk menyimak.

Kamu pun tidak tahu siapa yang barangkali tersinggung. Entah. Kamu hanya menduga. Kamu segera mengusir lalu-lalang itu dari benakmu. Sebab, pikiranmu malam ini juga sedang tidak beres, tetapi kamu harus tetap menulisnya dalam kondisi ini.

“Ah, ini biasa,” kamu berkilah–sebab kamu selalu mampu menemukan alasan untuk bersetia menulis.

Mbak Ayda melanjutkan ke sesi tanya jawab. Hampir semua pertanyaan peserta nadanya mirip-mirip. Mulai dari keresahan mereka akan situasi Indonesia belakangan hingga rasa takut dan harapan yang bercampur gelisah. Lalu, pertanyaan terkait proses kreatif Mbak Okky yang tidak hanya sebagai penulis, tetapi juga menyediakan wadah kepada calon-calon penulis, yakni berupa Omong-Omong Institute.

Lima belas tahun Okky Madasari berkarya tidak bisa dikatakan sebagai proses yang singkat. Kendati Mbak Okky tidak hanya menulis sastra, tetapi sastra selalu punya tempat dalam kerja-kerjanya. Bahkan, sastra membuat tulisan ilmiah Mbak Okky menjadi khas dan berbunyi.

Begitu pula sebaliknya. Novel-novel Mbak Okky tidak terasa kosong. “Saya tidak perlu mengutip Karl Marx atau Gramsci di dalam novel saya. Atau mengatakan si tokoh ini teralienasi. Tetapi, dengan menunjukkan gerak mereka, peristiwa, dan konflik cerita, dengan sendirinya akan terlihat,” terang Mbak Okky.

Anak-anak muda yang bercita-cita ingin menjadi penulis atau ingin menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan bergemuruh meminta saran. Mbak Okky menanggapi semangat-semangat muda itu dengan hangat. Ia percaya bahwa seorang penulis tidak hanya cukup dengan menulis, tetapi bertanggung jawab untuk mengantarkan gagasannya.

“Bebaskan imajinasi kalian. Tidak cukup meng-copy paste realitas. Kita harus meramunya dengan imajinasi. Kita meramunya dengan visi kepengarangan kita,” tutup Mbak Okky.

Mbak Ayda juga sepakat bahwa potongan-potongan dari fakta yang dijahit itu kadang bisa sama, bisa juga berbeda dengan realitasnya.

“Imajinasi dan visi kepengarangan, menurut saya, justru menjahit puzzle-puzzle itu, mau disusun seperti apa,” Mbak Ayda menambahkan.

Sesi diskusi ditutup dengan pembacaan puisi oleh Mbak Okky mengingat dalam waktu dekat ia akan mengeluarkan buku puisi berjudul Kita Adalah Jelata yang berisi 100 sajak. Salah satu puisi yang dibacakan adalah persembahan kepada almarhum Affan Kurniawan dan Reza Sandy. Potongan terakhir puisi itu cukup membuat empat pilar di beranda DPAD DIY terguncang:

Kita adalah Affan dan Reza Sandy yang terus hidup gentayangan mengganggu tidur nyenyak mereka yang zalim dan sewenang-wenang.

Dan selepas acara itu, kamu pun seperti menemukan alasan untuk bersetia menulis sastra. Salah satu upaya untuk menolak menderita, barangkali juga sesekali untuk mengusik!***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.