Lewati ke konten

Peristiwa

Sejarah Kampung Menurut Siapa?

September 7, 2025

Sejarah Kampung Menurut Siapa?

Bagaimana kalau kamu adalah penunggang kuda dalam novel Negeri Senja. Penunggang kuda dari selatan yang ditunggu-tunggu warga Negeri Senja itu. Kamulah yang sebenarnya ditulis oleh Seno Gumira dalam novel tentang kamu dan negeri yang senantiasa berlangit keemasan. Di tempatmu, semburat jingga itu bernama Sandikala, menyala seperti mata iblis.

Ini tentu khayalanmu ketika rindu rumah dan mega merah di pelabuhan menjelang matahari terbenam. Keras sekali rindumu pada pelabuhan dan pantai-pantai di tempat itu. Bahkan seorang penyair yang sedaerah denganmu menjadikannya sebuah judul puisi: Di Ampenan Apa Lagi yang Kau Cari?

Namun, sejarah di tempatmu berasal nyaris belukar. Hanya darah dan sengketa yang selalu terbayang. Tombak-tombak prajurit Karangasem, upeti-upeti kepada Belanda, dan letusan Samalas kerap membuatmu menggigil di malam hari. Riwayat itu diikat dalam dongeng-dongeng oleh para ninik. Kamu perlahan melepasnya dan menguburnya bersama masa lalu yang lain.

Sesekali kamu dihantui walau sudah merantau ke tanah Kawi–katamu, untuk memperhalus budi pekerti sebagai pelajar. Di kota Yogyakarta, kamu mendandani pikiran, menyesaki otakmu dengan bacaan-bacaan yang jauh dari kampung halaman. Akan tetapi, di pelataran Grahatama Pustaka (Sabtu, 6 September 2025), Mas Iqbal Saputra dan Pak Faiz Ahsoul mengajak kalian menengok kembali asal-muasal. Menulis ulang sejarah kampung!

Gelaran itu sendiri terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

***

Manusia, ruang, dan waktu membentuk sejarah. Pengertian itu dijejalkan sejak bangku sekolah. Namun, siapa yang menulisnya? Kamu tahu bahwa sejarah tidak lepas dari otoritas. Pak Faiz berpesan agar melihatnya dari yang paling dekat, yaitu kampung. Kampung yang tidak sebatas data-data statistik, tetapi konstruksi berpikir.

“Percuma! Keduanya harus sama-sama kuat, baik narasi lokal maupun global. Jika tidak, kita akan menjadi liyan. Asing dengan akar sendiri,” papar Pak Faiz.

Kamu tersentak mendengarnya. Lari dari masa lalu tidak akan menyelesaikan apa pun. Semakin kamu bersembunyi, kamu semakin gelisah. Ada banyak potongan kisah, pantun, syair, babad, dan hikmah di daluang tua di kampungmu. Belum lagi yang masih tersimpan di desa-desa adat. Kamu bisa berangkat dari sana. Kalau bukan orang asli, siapa lagi yang akan memulai, kendati penulisan sejarah itu tidak bisa sembarang.

“Sejarah kampung bukanlah angan-angan. Harus ada dasar dan niat yang kuat untuk menulisnya,” ujar Mas Iqbal.

Untuk menengahi perdebatan siapa yang berhak menulis sejarah kampung, Pak Faiz maupun Mas Iqbal punya strategi. Mereka mencoba menyederhanakan metode ilmiahnya. Bukan berarti keluar dari standar baku, melainkan melakukan modifikasi yang tetap mengedepankan langkah-langkah sebagaimana yang dilakukan oleh akademisi.

Mereka rutin melakukan pelatihan di sekolah atau suatu komunitas di lokus yang ingin mereka tulis sejarahnya. Anak-anak muda dan orang tua diajak untuk berkolaborasi.

“Orang tua bercerita, anak muda punya karya” adalah slogan yang selalu dibawa oleh Pak Faiz setiap mengadakan pelatihan. Ia pernah menulis buku berjudul Ngeteh di Kepatihan. Proyek itu dilakukan bersama anak-anak muda di sekitar kompleks Keraton.

“Dampak menulis sejarah lokal itu bisa berupa makin kuatnya sistem sosial di kampung kita. Artinya ada daulat dalam data dan daulat sejarah,” jelas Pak Faiz.

Sementara itu, Mas Iqbal yang berbasis di Belitung melakukan pendekatan yang hampir serupa, yaitu mulai dari memperhatikan toponimi yang unik. Bisa jadi, nama-nama adalah cikal bakal dari penamaan suatu tempat.

“Artinya, perkampungan itu tidak semata-mata nongol. Ada narasi di baliknya. Nah, itu yang perlu kita cari,” lanjut Pak Faiz, lalu tertawa mengingat kembali bagaimana ia kerap merasa takjub dengan pengalamannya di lapangan.

Mas Iqbal menambahi, “Melihat kampung berarti melihat cara berpikir antara pusat dan pinggir.” Sebab, otoritas itu bisa saja kolonial, negara, atau institusi akademik. Menurut Mas Iqbal dan Pak Faiz, yang paling berhak mendefinisikan kampung pada dasarnya adalah komunitas kampung setempat. Tentu, pekerjaan besar itu tidak singkat. Butuh konsistensi. Mas Iqbal sendiri sudah melakoni kerja-kerja semacam itu sejak 2008 di Pusat Studi Kebudayaan Belitung.

Apa pun bisa menjadi bahan tulisan sejarah kampung. Misalnya, warisan dari nenek moyang yang selama ini diabaikan atau hanya tergeletak di nama-nama jalan. Mas Iqbal, yang begitu antusias menceritakan Belitung, memecahnya menjadi tiga: ide, aktivitas, dan artefak. Ia mengikuti model yang sudah dibuat oleh Koentjaraningrat.

“Melalui sejarah yang ditulis dalam pantun, nenek moyang kami mendistribusikan tentang psikologi, tentang bagaimana eksistensialisme kami, dan tentang cara kami mengambil kesempatan,” ujar Mas Iqbal, terkagum-kagum dengan ceritanya sendiri.

Kelas ini semestinya berbentuk lokakarya. Kedua narasumber telah menyiapkan presentasi Powerpoint yang bersifat teknis, tetapi karena disekat ruang dan waktu, materi seminar hanya dipaparkan sekenanya. Namun, itu tak membuat semangat kalian luntur. Termasuk Meira, selaku moderator yang sedari awal melempar pertanyaan.

“Aku misalnya ingin meriset kampungku. Bagaimana nanti kita mendapatkan tulisan yang kredibel? Bagaimana dominasi peneliti orang luar? Takutnya nanti bias, mem-framing warganya,” tanya Meira dengan sungguh-sungguh.

Pak Faiz mengambil contoh dari kerjanya Clifford Geertz. Antropolog itu dikenal karena bukunya The Religion of Java, yang mengategorikan praktik beragama orang Islam di Jawa menjadi tiga golongan: Abangan, Santri, dan Priyayi.

“Kok, kita di Jawa sesimpel itu, ya? Memakai sarung dianggap santri. Orang-orang Nasrani juga memakai sarung,” gumam Pak Faiz.

Kamu percaya bahwa Geertz tidak sebanal yang dikira Pak Faiz. Perlu diakui bahwasannya karya Geertz adalah salah satu etnografi terlengkap tentang praktik beragama orang Islam di Jawa pada masa itu. Bagimu, itu hanya perbedaan kerangka berpikir. Bahkan jika mau adil, kita bisa melihat kritik Talal Asad–professor antropologi–dalam bukunya Genealogies of Religion.

Kritiknya terhadap Geertz terletak pada bagaimana konfigurasi simbol di dalam suatu agama itu tidaklah universal. Sebab, bagi Talal Asad, simbol itu tidak pernah lepas dari kuasa otoritas, bukan sekadar makna yang tiba-tiba muncul. Kamu mafhum bahwa itu adalah hal biasa dan tak lebih dari pergesekan wacana tradisi berpikir modern dengan pasca-modern.

Cara pandang ilmu sejarah dan ilmu-ilmu humaniora lainnya telah jauh berkembang. Perkawinan antardisiplin keilmuan kian mewarnai satu sama lain. Tujuannya satu: holisme ilmu pengetahuan!

Kamu juga merasakan solidaritas kawan-kawan yang ingin menulis ulang sejarah kampungnya. Sejarah yang bukan dari perspektif orang luar. Namun, kamu juga sangsi sebab, sebagaimana yang dikatakan Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution, ilmu hari ini amat dipengaruhi oleh subjektivitas politik, bukan oleh objektivitas ilmu itu sendiri. Tentu, kedua faktor itu patut diperhatikan dan jangan sampai refleksi personal yang lebih mendominasi.

Bagi Mas Iqbal dan Pak Faiz, kerja menuliskan ulang sejarah kampung adalah kerja kolektif. Tidak bisa sendiri, atau cukup berbekal kemauan karena di belakang itu semua tidak gratis. Diperlukan modal yang tidak sedikit.

“Ingat pentahelix. Di sana ada pemerintah. Manfaatkan dana mereka. Jangan sok-sokan tidak melibatkan pemerintah,” seloroh Mas Iqbal.

Menulis sejarah kampung bukan semata persoalan membentuk narasi alternatif, melainkan memperkaya narasi yang telah ada–menambah berbagai kemungkinan perspektif. Baik Mas Iqbal dan Pak Faiz pun menolak istilah ‘alternatif’ itu.

“Seolah kalau alternatif, ada narasi dominan yang harus ditumbangkan,” tutup Pak Faiz yang diamini juga oleh Mas Iqbal.

Kamu, setelah selesai acara itu, merasa terberkati. Sayup-sayup potongan sajak dari penyair Ampenan itu kian berdentang di kepalamu:

kita akan mengunjungi pantai lagi
tiang-tiang hitam sisa pelabuhan adalah hati kita
hati yang berkarat oleh sekian alamat,juga nama-nama dan cinta yang cepat menua.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.