Peristiwa
Perpustakaan dan “Kata-Kata yang Mendidih”
September 11, 2025
Ketika masih mahasiswa, saya kerap kali mendengar cerita teman-teman yang habis gelud omong dengan petugas perpustakaan. Persoalannya macam-macam, mulai dari terlambat mengembalikan buku dan salah prosedur hingga remahan masalah lainnya.
“Pokok’e petugase galak!”
Gambaran mengerikan perpustakaan ini dirasakan oleh sebagian besar teman-teman mahasiswa. Bahkan sampai S2 pun, narasi petugas perpustakaan yang galak ini hampir menjadi mise en scène setiap kampus. Sementara itu, aturan-aturan normatif perpustakaan juga mencekik pengunjung sehingga mereka enggan masuk perpustakaan lagi.
Lobi Grhatama Pustaka seperti mencoba mereparasi citra seram perpustakaan di siang hari pada Rabu (10/9/2025). Para pustakawan dan audiens lain berkumpul dengan seragam mayoritas putih. Mereka dibersamai oleh penggawa Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI), yaitu Nur Arofah (ketua ATPUSI DIY), dan Abdul Wahid Aziz (pengurus pusat ATPUSI) selaku pemateri, dipandu oleh Mega Istiqomah (Ketua ATPUSI Kota Yogyakarta) sebagai moderator.
Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.
Siang itu, Bu Nur khususnya, menyadari mengakarnya gambaran ketidaknyamanan dalam mindset masyarakat luas tentang perpustakaan.
“Perpustakaan hanya tempat untuk meminjam buku, bukan meminjam uang,” katanya.
Saya tertawa dan merasa sedih mendengarnya. Andai saja perpustakaan menyediakan layanan peminjaman uang, petugas yang galak mungkin tak jadi soal. Namun, itu mustahil. Oleh karenanya, Bu Nur menyarankan, selain keramahan petugas, perpustakaan harus “mempercantik” buku-buku yang ditampilkan.
“Didandani, mbedha’i, pupuran, lipstikan, blush on-an sehingga wajah perpustakaan menjadi menarik. Namun, koleksi juga harus bagus. Seapik-apike wajah lek jerone elek, yo kecewa. Karena nyowone, rogone perpustakaan ada di koleksi,” kata Bu Nur.
Pak Aziz sepakat dengan Bu Nur dan menambahkan, “Ora kakeyan aturan agar anak-anak merasa nyaman, apalagi perpustakaan sekolah.”
Dahulu waktu SMA, perpustakaan sekolah menjadi tempat favorit saya di jam istirahat. Selain bisa melihat-lihat novel, saya juga bisa membeli pentol di belakang gedungnya. Tempatnya sederhana. Hanya ada rak-rak buku dan beberapa meja panjang di ruangan yang lebarnya dua kali lipat ruang kelas.
Kesederhanaan ini membuat saya nyaman. Saya bisa membaca novel sambil guling-guling dan makan pentol sampai kadang-kadang saosnya muncrat. Bayangkan, betapa free style–nya manusia satu ini. “Nikmat mana lagi yang kau dustakan,” gumam saya waktu itu.
Generasi saat ini sudah berbeda. Pak Aziz menekankan bahwa pustakawan tidak boleh kehabisan cara menarik minat siswa untuk berkunjung ke perpustakaan. Saat ini, perpustakaan yang dikelola oleh Pak Aziz di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta bahkan memperbolehkan pengunjung untuk makan dan minum. Syaratnya, wajib menjaga kebersihan dan keamanan untuk buku-buku.
Konsep Gallery, Library, Archive, and Museum (GLAM) menjadi aspek penting untuk menjaga kenyamanan di perpustakaan. Selain itu, perpustakaan harus menjadi Maker Space, ruang kerja kolaboratif untuk mendukung kegiatan kreatif siswa, apalagi sekarang sudah zaman media sosial (medsos).
“Gen Z saat ini sudah suka ngonten dan pustakawan harus sadar akan hal itu. Meskipun terkesan FOMO, kalau urusan literasi dan kesehatan, tidak masalah. FOMO soal buku tidak apa-apa. Yang paling penting, perpustakaan bisa menjadi kunci kreativitas anak-anak,” kata Pak Aziz.
Konten-konten bisa diunggah di TikTok, Instagram, dan medsos lainnya sebagai produksi kreativitas siswa—sekaligus mempromosikan perpustakaan.
Namun, keresahan saya pada bagian ini ada pada screen time. Saya pribadi sering kali merasa terdistraksi jika belajar melalui gawai.
Audiens yang sejak tadi menyimak tampak tidak sabar menyembulkan unek-uneknya. Dua orang diberi kesempatan oleh moderator untuk bertanya. Permasalahan utama yang mereka bawa adalah perpustakaan digital.
Pak Aziz menanggapi, “Perpustakaan digital sudah ramai, tetapi tidak jadi tren. Perpustakaan digital harus disesuaikan dengan pemustakanya. Konsep perpustakaan digital sejauh ini yang saya tahu diwujudkan melalui paket aplikasi untuk mengenkripsi buku digital menjadi kode-kode.”
Mekanisme seperti itu, bagi Pak Aziz, mampu menghindari tindakan menyalin atau memperbanyak buku.
Selain medianya, konten buku-buku pelajaran (teks/non-fiksi) harus selalu up to date. Isinya harus disesuaikan dengan kurikulum terbaru, berbeda dengan buku bacaan (non-teks/fiksi) yang mungkin masih relevan.
Kedua narasumber tidak menyebutkan ke mana buku non-teks/fiksi harus mengacu atau berkiblat. Maka, mari saya berikan salah satu acuan yang mungkin menarik dari Maxim Gorki dalam novel Ibunda yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer:
“Aku membutuhkan pertolonganmu. Beri aku buku-buku itu—buku-buku yang menyebabkan orang tak dapat tidur semalaman jika telah membaca sekali. Kami menghendaki binatang landak untuk kami tanam di bawah batok kepala mereka—dengan duri-durinya yang tajam itu! Bilang kepada kawan-kawan yang menulis buat kalian itu agar juga menulis buat daerah udik! Usahakan sedemikian rupa sehingga kata-katanya mendidih. Dengan demikian, rakyat akan berjuang hingga tewas memperjuangkan kepentingannya.”
Saya kira, meskipun buku itu tentang perjuangan kaum buruh, Gorki mencoba menyuarakan semangat revolusioner melalui pentingnya literasi bagi semua kalangan. Terbukti, bahan bacaan di perpustakaan tokoh Pavel bukan main banyaknya!
Buku bisa menggerakkan dan membakar semangat perubahan. Buku adalah akar revolusi dan pemantiknya adalah “kata-kata yang mendidih”. Perpustakaan harus mampu memeliharanya, memanfaatkan isinya, bahkan kalau bisa membuatnya lebih matang.***