Lewati ke konten

Peristiwa

Meneroka Bahasa Mistika di Ruas Bambu

July 31, 2025

Kredit: Ruli Andriansah

Hari cukup tinggi saat kau terbangun dengan kepala nyaris delirium. Belikatmu kaku betul dan tubuh masih seperti akan tumbang seperti potret meme Saddam Husein. Kau terdampar di ambang kesadaran. Namun, kau teringat Kiarra—kawanmu—menitip tugas soal sastra. “Nek dirimu butuh data sastra dari pembicara, tanya aja pas sesi,” pesannya. Tersisa dua jam lagi sebelum kau hadir meliput Bahasa, Hantu-Hantu & Pepohonan

Lepas bersolek dan menyantap telur ceplok, Minggu, 27 Juli 2025, kau memacu Kodrat—matic yang menemanimu sejak sekolah menengah. Keluar dari Jakal, menuju utara dengan telinga yang dibekap lirik-lirik Spanyol, kau meliuk macam kobra, menyalip ragam hambatan hingga tiba di Ruas Bambu Nusa, desa Wukirsari. 

Ah! Ini mah Suara Dewandaru, pikirmu. Artinya, ini kali kedua. Tempo yang lalu, kau datang selepas senja, bukan siang bolong macam sekarang. Kini nampak jelas satu kompleks utuh yang terdiri dari beberapa area. Kau berjabat tangan dengan Ali, Tev, dan Lana. Kau memperkenalkan diri dan maksud keberadaan. Mereka adalah orang-orang yang setidaknya bisa kau pegang selama acara.

“Oalah, Suku Sastra. Kemarin juga menulis tentang Pak Bre,” terang Ali.

Di Amfiteater, indramu memindai sekitar. Amat sulit untuk melewatkan detail-detail material. Podium melingkar dari bata merah yang disusun empat tingkat, gersik tonggeret, cericit burung, serta sinar matahari serupa kain halus menyelangi bambu-bambu. Dan bambu, mau tak mau, melemparmu pada sembarang hal: selain panda dan Tiongkok, kumcer Kawabata Daun-Daun Bambu dan Novel Batang Bambu karya Alsanousi yang paling merasuk.

Desau angin dan lantun Air Mata Tumpa–Massada via speaker saling meningkahi, yang kian pelan ketika Ali menuju pusat panggung dan mengenalkan program Ruas Pustaka. Harapannya, kegiatan mereka bisa menjelma menjadi jembatan bagi pembaca dan pegiat literasi yang ingin bertumbuh. Krisis ekologi dan spiritual menjadi jangkar keresahan peristiwa dengan dua dua pembicara, Titah AW dan Irfan Afifi. “Tema ini sepertinya tidak akan ada tanpa mereka berdua,” pungkas Ali sebelum menyilakan keduanya mengambil tempat.

Sesi pertama dibuka Titah, yang menukilkan esainya perihal Jalan Lintas Selatan Yogyakarta. Sebagai pewarta yang mistika, ia tak keberatan dijuluki jurnalis klenik. Tak hanya setelah melahirkan Parade Hantu Siang Bolong, tetapi juga kemantapannya menggarap tema serupa. “Bagi saya, ketika berbicara hantu atau mitos, bukan mencari benar atau tidaknya, tetapi apa di baliknya,” papar Titah yang kini fokus menafakuri terma antroposen. Ia juga sesekali melempar beberapa nama dan buku yang sedang dibaca, salah duanya Decolonizing Methodologies dari Linda Tuhiwai Smith dan Finding The Mother Tree oleh Suzanne Simard. 

Dari orang-orang pantai selatan hingga suku Maori, Titah mencari keterhubungan mitos dan sistem pengetahuan antarlokus, juga berharap adanya semangat baru untuk melibatkan dan mendengarkan agen di luar manusia. Ia menceritakan pertemuannya dengan Mbah Mudi dan pohon yang tidak mau ditebang di Bantul. “Kata kuncinya, teman-teman, pohonnya tidak mau ditebang. Tidak mau.” Kau dan yang lainnya mangut-mangut, lalu mencatat kalimat itu pada lembar kerja.

Kolonialisme tak ubahnya buldozer yang menggilas logika berpikir tempatan dan menambatkan akarnya dengan paksa. Bagi Titah, kita perlu merengkuh kembali hantu, mitos, dan cerita rakyat dengan tangan yang lebih hangat, bukan cepat-cepat mendepaknya dari tempurung rasional kita. Bahkan, rasionalisme hari ini telah diartikan sempit, hanya menurut barat. Kalau masih mistik, seolah namanya bukan rasional dan bukan ilmu. Ini bukti laten warisan kolonial.

Berlanjut ke Irfan Afifi, seorang Jawa dan Islam, sematan itu bukan belaka isapan, tetapi ia tahbiskan dalam kumpulan esainya, Saya, Jawa, dan Islam. Ternyata Irfan semuasal dengan Titah, yaitu Jawa Timur. “Wingit. Saya merasa agak keramat dengan tempat ini, tapi tergantung kita memandang keramat atau tidak dalam hidup.” Irfan seolah menantang para pencemooh logika mistika. “Jancouk! Itu tandanya kita gagal membaca.” Alumni Filsafat UGM itu tidaklah berseloroh tanpa dasar. Masa mudanya dipenuhi kembara ke filsafat barat dan tanah asing sebelum menemukan suakanya di falsafah leluhurnya, Jawa.

Irfan melihat realitas menjadi dua, jagat katon (tampak) dan ora katon (tidak tampak). Dualisme ini bukan dalam pengertian Kartesian, melainkan keutuhan yang seolah tampak terpisah. Mengakses yang tidak katon, leluhur kita amat cerdas. Mereka menggunakan mitos yang dikenal sebagai metafora atau bahasa simbol. Ia juga menyayangkan jikalau istilah “rasional” hari ini dikekang dalam jeruji komoditas. “Coba lihat pohon itu, maka yang muncul hanyalah kalkulasi, untuk apa dan ditaksir berapa.”

Dari Arjuna hingga cerita personal ibunya bertemu kelabang, Irfan menyebut metafora bukanlah kebetulan, melainkan alat untuk menjangkau makna dalam jagat yang ora katon. “Level pertama, kita akan mengenal hantu, sampai pada level kenyataan yang paling akhir, yakni Tuhan,” jelas Irfan yang tidak takut dengan ateisme atau teisme, tetapi lebih takut jikalau tiada lagi yang sakral di dunia. “Hidup ini penuh misteri, karena penuh misteri kita mengisi ruang itu dengan kepercayaan, ragu-ragu, dan cinta. Untungnya, yang terakhir, masih kita miliki,” tutupnya.

Baik Titah AW maupun Irfan Afifi membuatmu tak bisa menolak godaan untuk tak bertanya, tetapi kau urungkan. Dua mahasiswa, laki-laki dan perempuan, yang satu kampus denganmu, akhirnya mengambil kesempatan itu. Pertanyaan mereka seputar perkara hukum adat Jawa dan jurnalistik. Selepas tanya jawab, kau menanti yang pamungkas dari kedua pembicara. 

Momen puncak itu disulut Ali. “Jika Indonesia adalah sebuah karya sastra, maka genrenya adalah realisme magis,” ia mengutip Titah. Si penulis tergelak, dan memang karya reportasenya banyak terinspirasi dari sastra semacam. “Waktu membaca One Hundred Years Of Solitude, cerita desa Macondo, ya ini mah cerita kabupaten.” Kau tidak bisa tak tertawa, dan tentunya mengerti maksud Titah. Betapa dekatnya kehidupan Indonesia dengan yang magi-magi. Akan sulit bagi kita melepas diri, dan barangkali itu potensi sejati manusia, yang menurut Irfan–setiap orang akan bertemu dengan Derma, visi hidupnya masing-masing. 

Kau mungkin mengerti, setidaknya meraba, walau masih memendam satu pertanyaan. Dari kejauhan, kau lihat yang lain-lain bersama kedua pembicara di kamera ponsel sebelum kau disadarkan oleh daun-daun bambu yang luruh, bergeyal-geyol dan menyentuh wajahmu. Kau mengingat kalimat di kain yang berkibar, yang mencuri perhatianmu sedari kedatangan: “Tunduk pada jalannya alam, patuh pada kejujuran, dan setia pada kewajaran.” Dan kau, sebab kata-kata itu, merasa mulai memahami bahasa bambu.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.