Puisi-Puisi Abdul Wachid B.S.
September 10, 2026 · Abdul Wahid BS
Rumah Berdiri
setelah retak itu mereda
tidak ada lagi yang ingin dibuktikan
oleh tangan
rumah tetap berdiri
meski sebagian dariku
pernah memilih menjauh
tanpa suara
di ambang pintu
langkah-langkah lama masih menunggu
tanpa marah
tanpa pertanyaan
aku pernah menjadi jarak
di dalam ruang
yang tidak pernah menolak namaku
dan ruang itu
tidak membalas dengan luka
ia hanya tetap menjadi ruang
maaf
untuk diam yang jatuh tanpa arah
di antara dua orang
yang sebenarnya saling menjaga
maaf
untuk pulang
yang sering berhenti
di tempat yang tidak disebutkan siapa pun
di dekatmu
kata-kata kehilangan beratnya
tinggal seperti debu cahaya
di ambang pagi
terima kasih
karena tidak mengubah kepergian
menjadi penghapusan
terima kasih
karena rumah ini
tidak pernah menutup pintu
meski musim berkali-kali berubah
tidak ada lagi
yang perlu menjelaskan luka
luka pun akhirnya
belajar tinggal
tanpa meminta penjelasan
di halaman itu
yang pernah sunyi
seperti tanah setelah hujan panjang
sesuatu tumbuh lagi
tanpa suara
tanpa nama
seperti pohon jambu
di depan rumah
yang tetap berbuah
meski tidak pernah menanyakan
siapa yang kembali
untuk melihatnya
2026
Rumah Tidak Menolak Siapa Pun
Rumah tidak pernah menghitung
berapa kali pintunya dibuka.
Rumah hanya mengenal bunyi kunci
yang setiap hari kembali
kepada lubangnya.
Pagi datang melalui jendela.
Bersamanya masuk bau tanah,
suara burung, dan cahaya
yang sebentar berhenti di atas meja.
Rumah tak meminta
pagi tinggal lebih lama.
Rumah cukup membiarkannya lewat.
Ada hari
ketika dapur penuh suara.
Air mendidih. Sendok beradu
dengan gelas.
Ada hari
ketika secangkir teh
menjadi satu-satunya
yang menemani ruang tengah.
Rumah tak pernah
membedakan keduanya.
Di halaman,
pohon jambu tetap berbuah.
Buah yang masak jatuh perlahan.
Anak-anak memungutnya.
Seekor burung mencicipi
yang terlambat diambil.
Sore pun berjalan pulang
melewati ranting-rantingnya.
Kadang seseorang pergi.
Kadang seseorang kembali.
Keset tetap menunggu
di depan pintu.
Tak sekali pun keset bertanya
jejak kaki siapa
yang dibawanya.
Malam turun. Lampu dinyalakan.
Dari luar, rumah itu tak berbeda
dengan rumah-rumah lain.
Tetapi dari dalam, selalu ada
sebuah tempat yang membuat
orang yang pulang
melepaskan sandalnya
lebih dahulu
daripada kesedihannya.
2026
Setelah Operasi Hernia
Setelah pisau
tubuhku menjadi ruang
yang kehilangan nama.
Lampu diturunkan.
Dokter pergi.
Besi-besi dibersihkan
dari sisa percakapan.
Di dalam tubuhku
sesuatu terbuka.
Bukan luka.
Sebuah nama
yang lama kusimpan
tanpa suara.
Anakku.
Aku tidak menyebutnya.
Rindu lebih tua
daripada nama.
Tubuhku berat
seperti tanah
yang baru menerima hujan.
Aku belum dapat bangun.
Namun sesuatu
telah meninggalkan tubuhku,
melewati lorong,
melewati dinding,
melewati tahun-tahun
yang tak mengenal jam,
menuju sebuah rumah
yang dahulu penuh
oleh suara anak-anak.
Kemudian kau datang,
Mama.
Tidak membawa cahaya.
Tidak membawa mukjizat.
Hanya tangan
yang membetulkan selimutku.
Tangan yang sama
yang pernah mengangkat anak,
menanak pagi,
mengusap kening,
menunggu pintu terbuka,
dan diam-diam
menahan seorang lelaki
agar tidak jatuh
terlalu jauh dari dirinya.
Aku memandang tangan itu.
Tahun-tahun
yang selama ini kukira telah lewat
ternyata tinggal
di garis-garis telapakmu.
Aku ingin berkata,
maaf.
Tetapi kata itu
terlalu kecil
untuk apa yang telah lama
ditanggung oleh diam.
Maka air mata
mengucapkannya
lebih dahulu.
Di dalam air mata itu
seorang anak masih tinggal.
Seorang ayah
masih berdiri
di depan pintu
yang tak kunjung terbuka.
Dan seorang perempuan
tetap duduk
di sisi ranjang,
seolah kasih
tidak pernah membuat
daftar kesalahan.
Malam.
Seekor burung
melintas di kaca.
Bayangannya sebentar
menutup wajahku sendiri.
Aku melihat
betapa kecil tubuh manusia
ketika segala yang dibanggakannya
tidak dapat dibawanya
ke mana-mana.
Tanganmu
masih di sana.
Aku meraihnya.
Pelan.
Tangan itu tidak bertanya
dari mana aku datang.
Tidak menghitung
berapa jauh aku tersesat.
Ia hanya tinggal.
Dan di antara telapakmu
dan telapak tanganku
sesuatu yang lama membatu
mulai kehilangan bentuknya.
Aku menangis.
Bukan karena luka.
Luka hanya sebuah garis
yang dibuat pisau
pada tubuh.
Yang lebih dalam
adalah kehilangan.
Yang lebih dalam lagi
cinta yang baru kulihat
ketika hampir kehilangan
cara melihat.
Tuhan,
jangan kembalikan aku
kepada lelaki
yang kemarin.
Biarkan pisau ini
membawa pergi
amarah,
kesombongan,
dan kata-kata
yang pernah kubiarkan
melukai rumah.
Jika anak itu datang,
jangan beri aku
jawaban.
Jangan beri aku
pidato.
Letakkan saja
kedua tanganku
di hadapannya.
Biarkan tubuh
mengingat lebih dahulu
apa yang dilupakan
oleh kata-kata:
memeluk.
Malam terus berjalan.
Tanganmu
masih menggenggam tanganku.
Aku mendengar
detak yang bukan milikku
dan bukan milikmu,
namun entah bagaimana
keduanya tahu
cara bertahan
dalam satu keheningan.
Di luar jendela
langit perlahan berubah
warna.
Aku tidak menyebutnya pagi.
Sebab pagi
bukan yang pertama datang.
Yang datang lebih dahulu
adalah ampunan,
diam-diam
menyingkirkan kursi,
membuka ruang,
dan duduk
di antara dua tangan kita.
Tubuhku belum sembuh.
Jahitan masih menyimpan
bekas pisau.
Tetapi sesuatu
telah selesai di dalam diriku.
Bukan luka.
Perlawanan.
Aku menggenggam tanganmu
lebih erat.
Dan untuk pertama kalinya
setelah perjalanan yang panjang,
aku tidak ingin menang.
Aku hanya ingin
tetap menjadi manusia
di hadapanmu.
Di luar,
cahaya mulai tumbuh.
Di dalam,
seorang lelaki
meletakkan senjatanya.
2026
Ratu Kecil
Apa bedanya Ratu Shima
dan Hannah Shima?
Yang satu memerintah sebuah negeri,
yang satu memerintah
sebuah rumah kecil di dalam dadaku.
Dia ratuku.
Kekasih kecilku.
Kadang aku bertanya,
barangkali aku bukan ayah yang baik.
Sebab kebaikan
tak selalu menyala
di jalan yang kutempuh.
Padahal sejak Adam
jalan itu telah kuucapkan
dalam sembahyang,
ihdinash-shirāthal-mustaqīm.
Tunjukkan jalan
yang lurus itu.
Ibuku pernah berkata,
kebaikan tak berdiri sendiri,
keindahan tak mengenal dirinya
tanpa seorang penghulu,
Shallallāhu ‘alā Muhammad.
Nenekku pernah bercerita
tentang sebuah malam
ketika langit membuka rahasianya,
“Aku menciptakan semesta ini
untuk siapa?”
Untukmu, Kekasih.
“Dan engkau
untuk siapa?”
Untuk-Nya.
“Lalu Aku
untuk siapa?”
Untuk para kekasihmu
yang tak putus
mengucapkan selawat
kepada Nabi.
Sejak itu rumah
terasa lebih luas
daripada benda-benda
yang mengisinya.
Lidah pun tahu,
nikmat bukan rasa
yang selesai di mulut.
Ada yang datang
ketika tangan
berhenti menggenggam.
Maka aku tak ingin
perahu Nuh berlayar lagi
membawa banjir ke rumah kami.
Aku tak ingin menjadi Yunus
yang terlalu lama
memeluk gelap
di perut kecewa.
Tuhan,
nikmat apa lagi
yang masih sanggup kudustai?
Hari ini
Hannah berdiri di halaman.
Angin menyentuh rambutnya.
Ia menunjuk ke langit
dengan telunjuk kecilnya.
“Mbah Kung,
Mbah Ti,
aku ingin meraih matahari.”
Aku terdiam.
Seorang anak
belum tahu
betapa jauhnya matahari
tetapi tahu
bahwa cahaya
layak diraih.
Mungkin itulah
singgasana seorang ratu
dua tangan kecil
yang berani terulur
kepada cahaya.
Pada saatnya
bukan Hannah
yang meraih matahari.
Matahari
akan turun perlahan
ke telapak tangannya.
2026
Abdul Wachid BS lahir pada 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Alumni Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora) ini menjadi dosen-negeri di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. Di sela kesibukan, ia berhasil lulus dari Program Studi Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo. Beberapa karyanya antara lain Rumah Cahaya (puisi, 1995), Sastra Melawan Slogan (esai, 2000), Religiositas Alam: dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (kajian, 2002), Ijinkan Aku Mencintaimu (puisi, 2002), Tunjammu Kekasih (puisi, 2003), Beribu Rindu Kekasihku (puisi, 2004), Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (kajian, 2005), Sastra Pencerahan (esai, 2005), Gandrung Cinta (kajian sastra dan tasawuf, 2008), Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (kajian, 2009), Yang (puisi, 2011), Kepayang (puisi, 2012), Hyang (puisi, 2014), NUN (puisi, 2017).
Baca Biografi Selengkapnya →