Lewati ke konten

Profil Tokoh & Penulis

Abdul Wahid BS

Abdul Wachid BS lahir pada 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Alumni Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora) ini menjadi dosen-negeri di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. Di sela kesibukan, ia berhasil lulus dari Program Studi Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo. Beberapa karyanya antara lain Rumah Cahaya (puisi, 1995), Sastra Melawan Slogan (esai, 2000), Religiositas Alam: dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (kajian, 2002), Ijinkan Aku Mencintaimu (puisi, 2002), Tunjammu Kekasih (puisi, 2003), Beribu Rindu Kekasihku (puisi, 2004), Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (kajian, 2005), Sastra Pencerahan (esai, 2005), Gandrung Cinta (kajian sastra dan tasawuf, 2008), Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (kajian, 2009), Yang (puisi, 2011), Kepayang (puisi, 2012), Hyang (puisi, 2014), NUN (puisi, 2017).

Abdul Wachid BS lahir pada 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Alumni Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora) ini menjadi dosen-negeri di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. Di sela kesibukan, ia berhasil lulus dari Program Studi Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo. Beberapa karyanya antara lain Rumah Cahaya (puisi, 1995), Sastra Melawan Slogan (esai, 2000), Religiositas Alam: dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (kajian, 2002), Ijinkan Aku Mencintaimu (puisi, 2002), Tunjammu Kekasih (puisi, 2003), Beribu Rindu Kekasihku (puisi, 2004), Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (kajian, 2005), Sastra Pencerahan (esai, 2005), Gandrung Cinta (kajian sastra dan tasawuf, 2008), Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (kajian, 2009), Yang (puisi, 2011), Kepayang (puisi, 2012), Hyang (puisi, 2014), NUN (puisi, 2017).

Karya oleh Abdul Wahid BS

Puisi · Abdul Wahid BS
September 24, 2023

Kidung di Tengah Malam | Puisi-Puisi Abdul Wahid BS

  Kidung di Tengah Malam   seorang perempuan setelah melahirkan ia pandang bayi lelakinya sebagai lukisan wajah suaminya, dan diamdiam ia berdoa “semoga anakku lebih baik dari suamiku”…

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.