Lewati ke konten

Peristiwa

Merayakan Sastra sebagai Laku dan Ruang Perjumpaan

August 24, 2026 · Muhamad Samsul Hadi

Malam itu, Minggu (23/08/2026), Taman Budaya Embung Giwangan semarak dengan pembukaan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026, yang akan berlangsung delapan hari ke depan. Suara tinggi rendah pembacaan puisi sudah mulai terdengar bahkan sejak Anda memarkirkan kendaraan, suara yang seakan memanggil dan membuat kaki bergegas untuk segera ikut tenggelam dan menikmati sajian sastra. Memasuki area festival, Anda akan disambut oleh stan-stan UMKM yang menawarkan aneka minuman dan camilan yang bisa Anda nikmati di kursi dan meja yang berjejer di depan panggung utama. Jika tak ingin pulang dengan tangan kosong, Anda bisa mampir ke Pasar Buku yang ada di sebelah selatan panggung.

Berbagai kegiatan sebenarnya telah berlangsung sejak siang tadi untuk menyambut acara puncak pada malam ini, yakni orasi budaya sekaligus pembukaan. Mendengar kata orasi pikiran kita akan langsung mengarah ke retorika yang berusaha meyakinkan, menggugah ataupun membakar semangat, yang dalam hal ini untuk mencintai dan menjaga sastra itu sendiri. Dan kita akhirnya hadir karena ingin digugah, ingin disemangati. Itulah kenapa tidak sah rasanya pembukaan FSY tanpa orasi budaya. Inilah yang akan menggugah semangat khalayak untuk mengikuti semua rangkaian acara FSY  hingga akhir. 

Saya tiba sekitar Pukul 19.00, 30 menit sebelum acara dimulai jika sesuai jadwal. Panggung utama masih digunakan sebagai panggung bebas bagi siapa pun yang ingin membacakan puisi. Tak hanya bahasa Indonesia, ada pula yang membacakan puisi berbahasa Prancis, yang mungkin tak dipahami pengunjung. Tapi justru inilah yang menambah rasa festival itu sendiri, merayakan berbagai warna, bentuk, rasa, dan rupa sehingga kita bisa menghargai apa yang tak sama.

Di depan panggung, kursi dan meja disusun sedemikian sehingga pengunjung bisa menikmati acara dengan caranya masing-masing. Di bagian paling depan, berjejer beberapa baris kursi tanpa meja bagi Anda yang ingin mengikuti acara dengan khusyuk tanpa banyak mengobrol. Di belakangnya berjejer kursi panjang dan meja, bagi Anda yang ingin berbincang sembari menikmati suguhan sastra. Mereka yang menginginkan suasana lebih santai juga dapat menggelar tikar di teras gedung atau di tepi embung.

Antusiasme pengunjung malam ini cukup tinggi, hampir tidak ada kursi kosong. Beberapa pengunjung saya lihat juga menggelar tikar di teras gedung dan tepi danau untuk mengikuti dan menikmati acara. Di antara kerumunan, hadir para sastrawan dan pegiat sastra, tua dan muda, yang terlihat asyik mengobrol, sepertinya mereka sudah lama tidak berjumpa. Memang malam-malam perayaan budaya seperti ini bukan hanya untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi lebih daripada itu menjadi momen untuk bertemu sahabat lama dan bertukar cerita atau pemikiran.

Acara Orasi Budaya sekaligus Pembukaan FSY akhirnya dimulai sekitar pukul 19.45 yang dipandu oleh Wijil. Acara dibuka dengan pembacaan mocopat oleh Refanesa Adila Sekarnitia dari SD Muhammadiyah Sapen dan dilanjutkan pembacaan cerkak oleh Aisya Safa Zea Alfahira. Rafanesa merupakan  juara 1 Mocopat SD, sementara Aisya merupakan juara 1 Moco Cerkak SD dalam kompetisi bahasa dan sastra. Penampilan keduanya mendapat sambutan hangat dan diakhiri dengan riuh tepuk tangan pengunjung.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Kepala Kundha Kebudayaan Yogyakarta, Yetti Martanti, yang sekaligus membuka FSY 2026. Yetti membacakan puisi berjudul Tabuh Keraton karya Badrul Munir Chair, pemenang Sayembara Puisi FSY 2025.

Dalam sambutannya, Yetti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut berkontribusi sehingga FSY bisa digelar tahun ini. Ia menjelaskan bahwa tema “Laku” yang diusung FSY tahun ini merujuk pada aktivitas sebagai bentuk komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan kehidupan bersastra di Indonesia. Menurutnya, festival sastra dapat menjadi ruang perjumpaan bagi para pegiat sastra yang melahirkan berbagai gagasan dan aktivitas kesusastraan.

“Tema ‘Laku’ pada tahun ini memang seperti yang kita lakukan hari ini, kita tetap berproses bersama untuk melakukan aktivitas ataupun aksi-aksi untuk keberlanjutan dari sastra yang kita lakukan selama ini. Melalui festival sastra seperti ini, kita menemukan banyak makna, perjumpaan, dan banyak lahir gagasan dan laku yang terus berjalan,” jelasnya.

Akhir kata, Yetti berharap kegiatan FSY bisa tetap hadir pada tahun-tahun mendatang sebagai ruang yang menjaga keberlangsungan kehidupan sastra sekaligus mempertemukan berbagai kalangan yang bergerak di dalamnya.

Sebelum memasuki orasi budaya, panggung kembali diisi pembacaan puisi oleh perwakilan kurator, Fairuz Mumtaz. Ia membawakan puisi berjudul Calon Arang dengan suara yang menggelegar dan penuh tenaga, membuat suasana di depan panggung seketika menjadi lebih bersemangat.

Setelah itu, tibalah acara yang menjadi salah satu bagian utama malam tersebut, yakni orasi budaya oleh Guru Besar Sastra Indonesia UGM, Prof. Faruk.

Ia menyampaikan orasi  budaya berjudul Sastra sebagai Laku Akademik dan Laku Hidup. Ia mengawali orasinya dengan gagasan Plato yang memandang seniman, termasuk sastrawan, sebagai peniru tiruan. Dengan posisi tersebut, seniman dianggap berada jauh dari sesuatu yang asli atau yang ideal menurut Plato. Di sinilah, kata Faruk, seniman membutuhkan “laku” agar tak tertipu oleh dunia yang tampak dan dapat bergerak menuju sesuatu yang lebih hakiki.

Menurut Faruk, laku pada dasarnya merupakan sikap disiplin lahir dan batin untuk mencapai kebenaran. Laku dapat berupa meditasi, keheningan, puasa, atau aktivitas lain yang mendisiplinkan diri untuk melampaui apa yang tampak dan berusaha mencapai sesuatu yang ideal.

Dalam konteks ini, seorang sastrawan menjalani laku hidup sebagaimana seorang sufi atau pertapa yang membatasi dan mendisiplinkan dirinya demi mencapai sesuatu yang dianggap hakiki. Sementara itu, ilmuwan memiliki laku yang berbeda karena ilmu pengetahuan bersifat empiris sekaligus rasional. Seorang ilmuwan harus mampu melebur dalam dunia pengalaman sekaligus berjarak darinya.

Karena itu, Faruk menekankan pentingnya seorang ilmuwan terus mengasah ketajaman berpikir. Namun, ketajaman tersebut tidak diperoleh dengan mengasingkan diri dari dunia, melainkan dengan membersihkan diri dari bias dan prasangka yang dapat membentuk sekaligus mengelabui cara seseorang memandang kenyataan.

Hubungan antara ilmuwan dan lingkungan sekitarnya, lanjut Faruk, juga tidak seharusnya bersifat hierarkis. Lingkungan tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai objek untuk meneguhkan subjektivitas seorang ilmuwan.

Di sinilah sastra memiliki peran penting. Menurut Faruk, sastra memiliki karakteristik yang berbeda dari ilmu pengetahuan. Karya sastra dapat dipahami sebagai bangunan dunia utuh yang dibangun oleh pengarang dan berbeda dengan dunia yang dipahami melalui ilmu pengetahuan. Selain itu, sastra juga menggunakan bahasa yang melampaui bahkan merusak bahasa sehari-hari, dengan membuat hal-hal yang akrab terasa asing melalui proses deotomatisasi.

Teks lengkap Orasi Budaya Faruk bisa dibaca di sini

Acara kemudian diakhiri dengan foto bersama penyelenggara, tamu undangan, dan pengunjung. Sembari pamit undur diri, MC mengajak pengunjung yang masih ingin tinggal untuk menikmati penampilan Alur Maju sebelum akhirnya beranjak pulang dan kembali menjalani “laku” masing-masing.

M
Tentang Penulis

Muhamad Samsul Hadi

Lahir: Lombok, 12 Maret 1990

Lahir di Lombok, 12 Maret 1990. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Menyelesaikan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Hamzanwadi dan S2 Ilmu Sastra di UGM. Ia suka membaca buku-buku filsafat, novel, lari, dan nonton film. Komentar-komentarnya mengenai ragam hal bisa ditemukan di medium @Hadi Muhamad.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.