Lewati ke konten

Peristiwa

Dari Embung Giwangan, Mendengarkan “Sastra” Diperjalankan

August 22, 2026 · Mad Muflihun

Saya, seperti biasa, terlambat masuk kelas siang itu. Dan dosen saya, Ramayda Akmal, seperti biasa pula selalu menerima mahasiswa apa adanya. Sambil menerangkan materi ia akan menengok sekilas ke arah pintu, mungkin hendak menandai muka mahasiswanya yang kurang ajar itu, mengangguk sebagai tanda bahwa kamu boleh masuk, dan terus menggasak materi seolah tak terjadi apa-apa. Karena memang tak terjadi apa-apa.

Itu mata kuliah Sastra Perjalanan. Yang saya ingat sampai berhari-hari kemudian adalah kata-kata Ramayda: “Semakin banyak berjalan, maka pengalamanmu semakin banyak. Pengalaman itulah yang akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.”

Ramayda kemudian menutup kelas pada waktu yang belum seharusnya ditutup. Dan dari puluhan mahasiswanya yang ikut kelas itu, saya berani bertaruh hanya saya sendiri yang tahu alasannya: ia mau hadir di Jumpa Pers Festival Sastra Yogyakarta 2026 pada Rabu (19/08/2026) di Taman Budaya Embung Giwangan.

Bagaimanapun, saya juga diajak kawan saya ke sana tapi tak seterburu-buru dosen saya. Saya menyempatkan memasang sebatang rokok di mulut dulu. Sess. Saya hisap dalam-dalam hingga kemudian rasa panas di bibir mengingatkan saya bahwa masih ada waktu lagi, nanti, buat mengisap batang rokok yang lain.

Ketika ponsel saya berdenting karena seorang kawan dari Suku Sastra mengirim pesan singkat, “Sudah sampai mana?”, saya sedang melaju kencang di rute UGM-Embung Giwangan yang tak selalu aman. Jupiter Z saya berkali-kali mengeluarkan bunyi jeduk pertanda bahwa komstirnya sudah bermasalah tapi saya tetap melaju, sesekali menyalip dua truk yang berpapasan dan hanya meninggalkan celah sempit, membayangkan diri sebagai Don Quixote yang menipu diri sendiri sebagai seorang ksatria.

Seperti perkiraan, saya sampai di sana tepat waktu. Tepatnya di sebuah ruang yang harus dititi oleh tangga yang berkelok-kelok untuk sampai di sebuah papan bertuliskan “Ruang Wijayakusuma”. Di depan, menghadap para hadirin, ada empat kursi berderet untuk para pembicara. Ketiganya telah diduduki sehingga tinggal satu saja pembicara yang belum muncul. Ramayda Akmal!

Tak berselang lama Yetti Martanti, kepala Kundha Kebudayaan Yogyakarta, menyampaikan sambutannya. Bagaimanapun, kata Yetti, persiapan FSY 2026 hingga sampai pada Jumpa Pers, tahap yang lebih dari siap untuk menyongsong hari-H itu, bukanlah hal yang final. Itu merupakan sebuah proses yang berkelindan sejak 2021 ketika FSY pertama kali digelar di tengah wabah COVID-19, dan ke depannya akan terus berjalan sambil memberikan berbagai kontribusi terhadap perkembangan kebudayaan nasional.

Saya manggut-manggut. Ingatan saya menguntai kata demi kata yang muncul saat kelas tadi. Semakin banyak berjalan, pengalamanmu semakin banyak. Panjang umur. Si empunya kata-kata itu akhirnya datang. Tapi tentu saja saya tak harus mengangguk untuk mempersilakannya masuk.

Kemudian, Paksi Raras Alit sebagai salah satu kurator teringat sebuah masa yang jauh ketika FSY belum diciptakan. Bahkan mungkin sama sekali belum dipikirkan. Saat itu aktivitas kesusastraan di Yogyakarta masih sangat lesu karena tidak adanya wadah yang bisa menaungi beragam macam pelaku sastra dari pucuk Kaliurang di utara sana hingga Gunung Kidul di paling selatan. Hingga kemudian tahun 2021 merupakan titik balik ketika Dinas Kebudayaan Yogyakara memberikan inisiasi untuk mengemas acara sastra tahunan menjadi sebuah festival.

Fairuzul Mumtaz, kurator yang lain, merinci statistik yang menggambarkan gerak laju FSY hingga tahun ini, yaitu keterlibatan 12 komunitas sastra dan berbagai perguruan tinggi yang memiliki program studi sastra di seluruh Yogyakarta. Bahkan, di tengah badai efisiensi, FSY tahun ini tak sekadar bertahan, tetapi malah memperbanyak jumlah hari daripada yang bisa terselenggara pada tahun sebelumnya.

“Tahun lalu lima hari, tahun ini malah delapan hari,” terang Fairuz yang disambut senyum penuh kemenangan oleh Paksi.

Bahkan, Fairuz melanjutkan, sastra coding juga ikut dihadirkan sebagai bentuk ikhtiar FSY dalam mengiringi ekosistem sastra global yang telah berkembang ke arah yang sedemikian jauhnya. Asumsinya, akal imitasi bukan hanya dipandang sebagai pengolah data, tetapi juga bagian integral dalam karya sastra.

“Jadi, harapannya, teman-teman kemudian bisa membuat karya sastra dengan menggunakan coding,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Ramayda yang juga berbicara sebagai kurator menyinggung keberhasilan FSY dalam merangkul para pelaku sastra yang sering tersamarkan oleh bayang-bayang kebesaran karya sastra. Hal itu pada gilirannya berkaitan dengan tema FSY tahun ini, LAKU, yang bermakna tindakan.

“Selama ini kita mengenal sastra ya buku, sastra ya penulisnya,” kata Ramayda. “Padahal kalau mau sampai di situ, ada laku yang panjang sekali, dengan orang-orang yang banyak sekali.”

Fairuz menimpali bahwa keterlibatan banyak pelaku sastra di gelaran FSY tahun ini dibuktikan dengan jumlah penampil dan pembicara yang mencapai 100 dalam 36 mata acara. Acara itu meliputi workshop, bedah karya, seminar, hingga bermain-main dengan ilmu hitam.

Ketika Jumpa Pers sudah ditutup dengan seporsi bakso mewah yang menandakan bahwa efisiensi anggaran memang tak berlaku di sana, saya bertemu Ramayda di depan embung. Rupanya ia baru tahu kalau saya juga ikut ke sana.

“Eh, kamu di sini?” tanyanya.

“Iya, Mbak. Malahan lebih dulu saya daripada Mbak.”

“Iya?”

“Tentu saja,” kata saya sembari menerawang jauh ke arah langit biar terlihat sedikit bijak. “Semakin banyak berjalan, maka pengalaman kita semakin banyak. Pengalaman itulah yang kita perlukan buat berani melaju kencang di tengah-tengah dua truk yang saling berpapasan.”

Tapi tentu saja kalimat terakhir itu tidak saya katakan. Sebagai gantinya, saya cengar-cengir sebentar sebelum bilang: “Hehe, iya Mbak.”

 

 

 

Tentang Penulis

Mad Muflihun

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM angkatan 2024. Ahli melinting tembakau dan sedang belajar menulis.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.