Lewati ke konten

Reviu Buku (Nonfiksi)

Eka yang Lebih Nyaring

Eka yang Lebih Nyaring

Man Tiger, terjemahan Inggris dari novel Lelaki Harimau, menyusup masuk ke daftar panjang Booker Prize pada tahun 2016. Sepanjang sejarah penghargaan bergengsi itu, dari Indonesia, nama Eka-lah yang pertama kali masuk. Menyusul kemudian Norman Erikson Pasaribu dengan kumpulan cerpennya, Happy Stories, Mostly, pada tahun 2022.

Masuk dalam daftar panjang penghargaan Internasional, sedikit banyaknya, menunjukkan bahwa karya-karya Eka sudah cukup banyak berbicara dalam pergaulan sastra dunia. Terlebih, novel-novelnya kemudian banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dilihat dari keterkenalan karyanya di dunia, tak berlebihan bila Indonesianis Benedict Anderson bilang kalau Eka merupakan penerus Pramoedya yang lahir setengah abad setelahnya.

Sampai hari ini, Eka telah menulis lima novel, lima kumpulan cerita pendek, beberapa terjemahan, satu buku teoretis, dan satu kumpulan kolom. Juga–yang tidak boleh terlewatkan–dua seri buku kumpulan blognya.

Ada Senyap yang Lebih Nyaring, memuat blog-blognya dari tahun 2012 sampai 2014. Juga, Usaha Menulis Silsilah Bacaan kumpulan blognya yang bertanda tahun 2008-2011, lalu 2015 sampai 2019.

Sebetulnya, dua buku ini, sama-sama saja secara konten. Keduanya memuat blog-blog Eka dari rentang tahun tertentu. Namun, rasa-rasanya, perlu untuk membahas buku Senyap yang Lebih Nyaring terlebih dahulu dibanding Usaha Menulis Silsilah Bacaan. Sebab, selain karena terbit lebih dulu, buku ini lebih banyak memuat percikan pemikiran Eka soal isu-isu sastra, terutama soal alasannya banyak membaca karya sastra luar.

Setidaknya, ada tiga hal yang membikin buku Senyap yang Lebih Nyaring ini penting dan asyik dibaca.

Pertama, kita bisa menemukan banyak nama di buku ini.  Ada nama-nama yang sudah cukup familier di kuping publik pembaca kita karena terjemahan karya-karyanya jamak ditemukan, seperti Murakami, Marquez, Tolstoy, Orwell, atau Dostoyevsky.

Ada pula nama-nama yang terdengar betulan ganjil karena belum ada karya-karyanya yang diterjemahkan ke bahasa kita. Houellebecq, misalnya, atau Kurkov, Musil, Neuman, Marias, dan masih banyak nama lainnya.

Dengan menulis nama-nama yang terdengar asing di telinga kita itu, sebetulnya Eka sedang membikin jendela kecil dan mengizinkan kita mengintip kesusastraan dunia. Meminjam kata Eka sendiri dalam salah satu tulisan di buku ini: supaya tidak inses. Itu yang bikin membaca–atau setidaknya mengintip–karya-karya dunia jadi hal penting.

Sebab, penulis sastra kita sering belajar dari nama yang itu-itu melulu.

Penulis cerpen koran Kompas, misalnya, belajar dari penulis lain yang terbit lebih dulu di koran Kompas. Boleh dibilang, hal semacam itu seperti mengawini saudara kandung.

Kesusastraan kita memerlukan lebih banyak dialog dengan kesusastraan luar. Sastra yang terbentuk dari budaya jauh. Budaya yang mungkin terasa ganjil dan ajaib. Peristiwa-peristiwa yang terlahir dari sana, yang mungkin sulit buat dibayangkan oleh kita.

Itu membikin sastra kita, pada akhirnya, melakukan kawin silang untuk melahirkan bacaan-bacaan yang sehat dan tidak cacat. Dalam arti, karya sastra yang kualitasnya –secara teknik, bentuk, atau narasi–sanggup adu tanding dengan karya dari negara mana pun.

Kumpulan blog Eka ini, sedikit banyaknya, membocorkan banyak nama untuk melihat luasnya kebudayaan atau kesusastraan luar itu.

Kedua, ditulis dengan hanya satu paragraf panjang di bawah satu judul.

Kedengarannya mungkin bukan hal yang biasa dan umum. Bisa jadi banyak orang pula yang agak terganggu dengan bentuk seperti ini. Namun, ini jadi hal yang cukup mengasyikkan. Dengan bentuk ini, Eka hendak menegaskan bahwa tulisannya hanya punya satu fokus ide. Dalam tulisan-tulisannya, Eka bisa saja merentangkan banyak hal, tapi itu tidak membuat tulisannya sesak gagasan.

Bentuk ini, jelas bisa jadi tantangan tersendiri juga bagi pembaca. Apalagi di masa ketika rentang perhatian kita menurun drastis.

Kalau boleh membuat perbandingan, membaca tulisan Eka di buku ini seolah memaksa kita berjalan di lorong yang sempit. Sesak memang, tapi berjalan di dalamnya dapat membawa kita menemui gerumbul penuh kembang liar, lumut-lumut berpola ajaib atau pakis-pakis asing yang mungkin baru saja kita temukan.

Ketiga, buku ini merupakan kumpulan yang mulanya ditulis di blog pribadi.

Ini asyik sebab jadi titik temu antara tulisan yang sifatnya pribadi dan personal, sekaligus tulisan buat ditujukan ke publik.

Di satu sisi, kita bisa menemukan bacaan-bacaan Eka yang memang amat personal. Pertemuannya dengan bacaan-bacaan itu. Atau pengalaman-pengalaman sepele yang mengingatkan Eka, misalnya, pada cerita di suatu novel.

Di sisi lain, kita membaca pandangan-pandangan Eka yang bersentuhan langsung dengan publik. Misalnya, dalam tulisan berjudul Pesan Moral, ia menyinggung dengan sinis bagaimana masyarakat–bahkan spesifik ke para penulis dan para pemangku kebijakan di sektor budaya atau pendidikan kita, kebanyakan mereduksi karya sastra sekedar pesan moral yang “mendidik”. Tunggangan pesan-pesan semata.

Tepat di situ letak asyiknya. Karena bersinggungan dengan dua sisi tadi, Eka tidak punya tendensi buat mengkhotbahkan, misalnya, bahwa novel A memiliki nilai estetika yang luhur sehingga siapa pun yang hidup di muka bumi ini mesti membacanya. Tidak. Eka enteng saja menceritakan pengalamannya dengan bacaan-bacaan tertentu, dan itu jadi sekadar memberi rekomendasi bacaan.

Kita bisa teryakinkan dengan rekomendasi Eka hanya ketika kita membaca argumentasinya. Sementara, argumentasinya ketika merekomendasikan suatu karya pun tidak tebal-tebal amat dan lebih cenderung menceritakan sedikit bagian asyiknya–tentu dalam pandangan Eka sendiri.

Ia dekat sekaligus juga memberi tahu kita soal jarak sejak awal. Kita bisa saja ikut membaca judul-judul yang muncul dalam buku ini, judul-judul yang Eka rekomendasikan, tapi bahkan sejak pengantar Eka sudah membuat disclaimer bahwa tulisan-tulisannya sekadar remah roti Hansel-Gretel yang menuntun dirinya sendiri kembali pada pengalaman satu bacaan.

Praktis, Eka juga banyak mengedarkan pandangannya terhadap dunia kepengarangan sebagai praktisi. Tengoklah tulisan berjudul Beberapa Tesis tentang Judul Novel. Di situ, ia menguraikan enam poin soal fungsi judul dalam sebuah novel dan bagaimana para penulis mengolahnya.

Atau di tulisan lain berjudul Bagaimana sebagai Penulis Pemula, Saya Menerbitkan Karya Pertama Kali yang berisi satu kiat praktis, yakni mula-mula tahu soal media yang kita sasar: selera tulisannya, lingkup keredaksiannya, termasuk hal-hal teknis seperti syarat dan ketentuan atau alamat surelnya.

Kalau boleh memberi satu lagi, tulisan yang berjudul Bagaimana Penulis Mendaur Ulang Cerita Penulis Lainnya Menjadi Kisah Baru yang Memikat yang sebetulnya berisi satu pesan klise dalam kreativitas, yakni ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Di situ bahkan Eka menguraikan bagaimana para penulis besar dunia mengolahnya.

Nah, kalau pengarang masih kita anggap penting, dengan membaca buku ini, boleh dibilang, kita sedang dipersilakan sedikit mengintip ke semesta Eka. Semesta yang banyak berpengaruh pada kepengarangannya. Sehingga menghasilkan karya-karya seperti Cantik itu Luka, Lelaki Harimau, sampai Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Yang, seperti disinggung di awal, sudah cukup berbicara banyak di kesusastraan dunia.

***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.