Peristiwa
Dari Gunungan Buku ke Persoalan Pasar Sastra: Hal-hal yang Membuka Delapan Hari FSY
August 24, 2026
Siang itu (23/08/2026), matahari seperti ada di ujung pelipismu. Begitu dekat, rapat, dan teriknya seakan mau membakar habis selembar voucher makanan yang ingin kau tukar dengan sebungkus makanan di tenant kuliner. Di halaman aula Grha Budaya, kau meraun-raun bersama seorang teman yang sibuk memilah-milah jajanan dengan preferensi kuliner seadanya. Tapi, gema suara MC segera menyambar telingamu, dan kau pun melempar pandangan ke kerumunan orang dengan gunungan buku yang dipikul itu.
Hadirin diam sejenak seakan menunggu aba-aba. Dengan tatapan penasaran, kau menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya sebab kau masih sangat awam dengan prosesi semacam itu. Sedang temanmu di samping sibuk mencicipi lima belas buah tahu aci yang sempat kau beli tadi.
“Dengan mengucapkan Bismillah, gunungan buku siap untuk dirayah…,” Kepala Dinas Kebudayaan Kota, Yetti Martanti, S.Sos., M.M. memberi aba-aba.
Dan kau bayangkan pernyataan persuasif itu seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja sehingga membikin hadirin berpencar ke mana-mana. Benar seribu benar. Hadirin seketika berlarian menghampiri gunungan buku dan menyabet apa saja yang bisa diraih. Temanmu di samping kiri ikut terbawa arus dengan meninggalkan seberkas aroma tahu aci. Kau tak resah akan keberadaannya, toh bisa dilacak sebab aroma tahu aci masih bisa tercium dari radius apa pun.
MC memandu hadirin ke dalam aula. Tarian tradisional edan-edanan mengiringi derap langkah masuk dengan panji warna hijau bertuliskan FSY diusung di depan barisan. Kau menempati baris terakhir kursi, seorang diri saja, sementara hadirin berpencar ke barisan kursi paling depan dan temanmu yang membawa sebungkus tahu aci tadi hilang entah ke mana.
Di panggung, Yetti mulai memberi sambutan dan pidato kebudayaan. Ia menyampaikan bahwa dengan dilangsungkannya gunungan buku, pasar buku resmi dibuka selama delapan hari ke depan.
“Terdapat lebih kurang tiga ribu judul buku yang tersedia di pasar buku dengan jumlah lima belas ribu eksemplar. Jenis buku pun beragam, mulai dari buku anak, buku umum, hingga buku sastra,” ujarnya.
Tak lupa ia menyinggung perihal Laku, tema dari Festival Sastra Yogyakarta 2026. Menurutnya, Laku adalah sebuah aksi, perjalanan, tindakan, sekaligus cara menjalankan kehidupan itu sendiri. Sastra pun baginya tidak berhenti pada membaca, menulis, maupun dipikirkan, melainkan harus diejawantahkan ke dalam kehidupan.
“Karena itu, membaca sastra adalah sebuah Laku,” pungkasnya.
Sekitar tujuh menit kau mendengar sambutan itu sebelum diakhiri dengan penyerahan panji oleh IKAPI kepada Yetti Martanti, S.Sos., M.M.—ya, panji berwarna hijau yang diusung di depan barisan tadi.

Tak sempat meneguk segelas kopi di beranda aula, kau langsung didudukkan oleh suara MC yang mengatakan, “Sesaat lagi kita akan melangsungkan diskusi bersama Dinas Koperasi UKM DIY yang akan membahas potensi-potensi ekonomi dari ekosistem literasi.”
Ia langsung memanggil Fairuz Mumtaz, Paksi Raras Alit, dan Wawan Kurniawan untuk menempati beberapa kursi di panggung. Paksi membuka diskusi dengan sedikit menjelaskan sesi awal sebagai pembuka, yakni bagaimana industri kreatif dalam rupa buku bisa menjadi salah satu alternatif untuk memajukan perekonomian.
“Sepotensial apa industri buku dalam kancah perekonomian UKM DIY?” tanya Paksi.
Pertanyaan itu sengaja disasarnya kepada Wawan Kurniawan selaku perwakilan dari IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia).
Untuk mengawalinya, Wawan menyinggung betapa bersyukurnya ia akan ruang-ruang industri buku di Jogja yang begitu banyak. Ia begitu sulit membayangkan potensi industri buku di wilayah-wilayah di luar Jogja yang secara akses dan permintaan masih menjadi persoalan hingga hari ini.
“Bayangkan kalau kita tidak di Jogja, tapi jangan di Jakarta, ya. Misal saja di Berau, Kalimantan, atau di Lampung sajalah, mungkin Anda beruntung ketemu kios kecil dan itu hampir mustahil,” ujarnya.
Hal tersebut mengartikan bahwa ruang pertemuan antara pembaca yang hendak mendapatkan buku dan penjual yang mendistribusikan buku sangat terbatas.
Disinggungnya pula masa-masa setelah pandemi, ketika banyak toko yang memperbarui diri maupun terpaksa menutup gerainya. Toko buku yang memperbarui diri tumbuh dengan konsep-konsep yang lebih kekinian dalam artian mengikuti tren zaman. Sebagai contohnya, di sudut gang-gang Yogyakarta, tak jarang ada coffee shop yang dilengkapi rak-rak buku.
Paksi lalu beralih kepada Fairuz dengan membahasakan ulang pertanyaan sebelumnya menjadi dinamika perindustrian buku di Yogyakarta. Fairuz tidak langsung menjawab, melainkan menceritakan dua pengalaman beberapa malam lalu. Di depan teras rumah, ia diberitahu sang istri bahwa kini bukunya yang sudah diterbitkan tiga kali oleh penerbit telah mendapatkan penghargaan dan penjualan tinggi di aplikasi TikTok.
Setelah itu, Fairuz mengisahkan bahwa satu malam lalu salah seorang sastrawan Jogja mengabarkan kepadanya bahwa salah satu buku miliknya dibeli Falcon untuk difilmkan, dan uang dari penjualannya itu bisa dipakai untuk membeli rumah.
Untuk meringkas dua pengalaman itu, apa yang dimaksudkan Fairuz adalah begini: Terlepas dari adanya toko buku secara fisik, industri buku bisa hidup di berbagai platform media sosial, salah satunya TikTok dan pengalihwahanaan.
Hal ini ikut mendukung pernyataan Wawan Kurniawan mengenai konsep memperbarui diri. Mengenai buku yang bisa membiayai hidup seperti kasus salah seorang sastrawan itu dipengaruhi oleh faktor kualitas karya dan salah satunya yang jarang disadari banyak penulis adalah momentum.
Terlepas dari kabar bahagia itu, Fairuz mengingatkan bahwa penerbit tentunya dihadapkan dengan tantangan, yakni bagaimana caranya mengemas dan mempromosikan buku agar laku di pasaran.
“Nah, tugas kita sebagai komunitas dan penyelenggara festival itu membantu memberikan ruang dan kesempatan bagi teman-teman penerbit,” pungkasnya.
Dua belas menit sudah berlalu, dan kau pun belum juga bisa menjangkau segelas kopi dari tadi, apalagi sebungkus tahu aci. Kau sepenuhnya terjebak di dalam aula dengan tema pembicaraan yang bagimu masih sulit untuk dicerna dalam satu anggukan kepala. Ekonomi, industri, dan distribusi bagaikan hook yang menyasar hati. Tiga kata itu tidak hanya sulit dipahami, tapi juga menjadi persoalan yang tak pernah selesai dalam pasar literasi, terutama sastra.
Tiga pembicara di hadapanmu begitu asyik mengobrol, bahkan tak menyentuh botol-botol minuman yang telah disediakan panitia. Sedangkan kau, di sela-sela obrolan yang terus bergulir dan tak tahu kapan ujungnya itu, sejenak bertanya dalam hati, “Voucher tadi apakah berlaku sampai delapan hari nanti?”