Lewati ke konten

Peristiwa

Sebuah Sastra, Banyak Bebannya*

August 24, 2026 · Mad Muflihun

Aku ingin hidup seribu tahun lagi, kata Chairil. Sementara, Rindu itu berat, kata Dilan. Persetan, kataku, buat keduanya.

Yang berat itu, kau tahu, adalah menjadi Sastra Indonesia. Aku jamin, jika Chairil memang hidup seribu tahun, maka ia tak akan betah menanggung sedu-sedan kesunyian dan akan mati pelan-pelan dengan paru-paru yang tenggelam dan tak ada yang peduli.

Seperti sore itu (23/08/2026), ketika berlangsung diskusi buku puisi Sebuah Kota, Sebuah Umpama. Sastrawan Raudal Tanjung Banua baru menyampaikan beberapa patah kata ketika lagu “Topeng”-nya Peterpan tiba-tiba menerobos masuk ke Panggung Pasar Sastra dan pasti menggetarkan amarah dalam diri semua orang yang mengaku sebagai hamba Sastra Indonesia–selain memang menggetarkan pendengaran karena saking kencangnya.

Tapi, nyatanya, sastra Indonesia seakan-akan sedang menanggung beban berat dengan tidak diperhatikan keberadaannya dan tak ada yang peduli. Adalah An. Ismanto, seseorang yang “pada suatu sore yang jauh, seorang mahasiswa sastra Indonesia UNY … mendorong punggungnya dan menunjukkan jalan kepadanya untuk menemukan puisi” yang memperlihatkan kepeduliannya dengan keluar dari area diskusi menuju ke arah penyanyi. 

Entah setelah itu ia memarahi atau melempar mikrofon atau hanya pura-pura menegur, tak ada yang tahu. Dan tak ada yang peduli. 

Lain halnya sastra, lain halnya Ubai. Pria bernama asli Ubaidillah Al-Anshari itu, yang seharusnya adalah penulis buku yang sedang didiskusikan, malah lebih terlihat sebagai wiraniaga. 

Sebagai seorang penyair yang telah menerbitkan tiga buku puisi dan mendapat puja-puji oleh Raudal dalam esai pengantar diskusi, Ubai sangat tak mencerminkan aura gembel atau dekil atau, paling tidak, adiluhung. Rambutnya disisir rapi ke arah kanan yang kata Jokpin amat sesuai dengan kepribadian negara. Kausnya yang entah apa tulisannya dibungkus dengan jas. Dan, bibirnya selalu menyunggingkan senyum.

Duduk di antara Raudal dan moderator malah membuatnya seperti burung pipit yang meringkuk di sarangnya dan bingung mau melakukan apa. Lihat saja, yang lebih banyak bicara adalah Raudal, atau malah audiens. Kadang Raudal berkelok-kelok sebelum kemudian menusuk yang, saya pastikan, membikin si Ubai kaget. Kadang naik-turun-naik-turun sebelum tiba-tiba menggampar wajah Ubai.

Kata Raudal, puisi-puisi dalam Sebuah Kota Sebuah Umpama adalah puisi perjalanan yang jarang ditemukan padanannya di Indonesia. Jika penulis lain mengeksplorasi masalah geografis atau historis suatu tempat, maka Ubai adalah seorang petualang yang mengangkut beban di setiap persinggahannya.

Bongkar muat bebannya juga tidak seperti umumnya peziarah yang menukar barang lamanya dengan barang baru. Ubai memilih untuk terus mempertahankan bebannya, dan akan bertambah setiap bertemu tempat baru.

“Kota yang dia datangi bukanlah yang menanti seseorang untuk menjelajahi kota itu,” ungkap Raudal. “Tetapi, orang itu yang datang ke sana dan bersiap untuk mencari sesuatu.”

Jadi, kau bisa membayangkan, jika setiap kota selalu ia angkat bebannya, sudah berapa banyak akumulasi beban yang dibawanya sampai ke Embung Giwangan? 

Saking beratnya beban yang dibawa, Ubai kemudian memilih subjek “ia” sebagai juru kisah. Seolah-olah, dalam puisi-puisi lirisnya itu, ia tak kuasa untuk menanggung ke-aku-an yang bisa melekatkan beban-beban itu di dalam dirinya. Dengan “ia”, Ubai bisa jadi lebih leluasa. 

Itu kata Raudal.

Kata Ubai beda lagi. Dengan legitimasinya sebagai seorang penulis, ia menjelaskan bahwa puisinya sebenarnya berisi pelajaran bagi orang-orang yang sudah tak mengenal kotanya, yaitu orang-orang yang kehilangan identitas. Maka dari itu, subjek “ia”, menurutnya, adalah representasi dari masyarakat kota itu sendiri.

Raudal ternyata tersentak dengan pernyataan itu dan memakai legitimasinya sebagai guru dari para penulis untuk mengkonfrontir Ubai. “Kalau mau bicara indentitas,” katanya, “tulislah esai!”

Bertambah lagi beban Ubai kali ini.

Kemudian Polanco Surya Achri sebagai moderator menanggapi: “Penjelasan yang sangat menarik.” Ia yang menjuluki dirinya sebagai “Don Polancho” itu tampaknya juga sedang menanggung beban berat.

“Maaf kalau respons saya klise,” katanya sambil terkekeh, “karena sudah lama nggak naik panggung.”

Saat sesi tanya-jawab tiba, seorang An. Ismanto angkat suara.

“Oke, berkaitan dengan sastra perjalanan, ya?” katanya basa-basi dulu, kemudian kata-kata semacam, “Saya kemarin bertemu seorang kawan”, sebelum tiba-tiba menukik, “Kawan saya itu Muflih, bercerita tentang mata kuliah sastra perjalanan. Coba, mungkin Muflih bisa ceritakan bedanya sastra perjalanan dengan catatan perjalanan.”

Ia menutup pernyataan dengan menodongkan kalimatnya ke arah saya. 

Weh, kok aku? Lha pembicarane ki sopo? Setahu saya, saya di sini hanya bertugas meliput dan nggak ada job desk ditanyain!

“Nggak apa-apa, biar ramai,” kata Polanco seolah tahu kecemasan saya. 

Jika saya adalah seorang Cumbu Sigil, mungkin akan saya jawab: ramai matamu, sastra Indonesia selalu ditakdirkan menanggung beban kesunyian!

Tapi, tidak mengapa. Paling tidak, Ubai menghadiahkan buku-buku terbitan Elex Media Komputindo buat hadirin yang ikut bertanya dan menanggapi. Saya mendapatkan novel Check Out Sekarang Pay Later yang ditulis oleh tiga orang sekaligus! Sampulnya berwarna merah muda dan di bagian belakang terdapat tulisan “segera difilmkan”.

Lumayan, mungkin bisa saya baca buat mengurangi beban sastra Indonesia. 

Atau malah menambahnya?

*Judul ini terinspirasi dari judul esai pengantar Raudal Tanjung Banua untuk diskusi ini. Judul esai itu: “Sebuah Kota, Banyak Umpama”.

Tentang Penulis

Mad Muflihun

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM angkatan 2024. Ahli melinting tembakau dan sedang belajar menulis.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.