Sastra Sebagai Benda*
May 28, 2026 · Ramayda Akmal
Mari kita membayangkan sebuah perhelatan festival sastra di Indonesia. Pertama-tama tergambar sebuah kompleks festival yang berwarna; bisa hijau rimbun; bisa putih atau cokelat di sela-sela bangunan bersejarah; bisa nyaman di sudut toko-toko buku atau café; bisa juga biru cerah ditimpali suara desir angit laut; atau hitam tegas berbaur dalam ruang pertemuan berbagai industri masa depan. Lalu bayangkan di festival itu pastilah ada pameran buku dengan berbagai gerai estetiknya; pastilah ada panggung-panggung untuk pertunjukan dengan perlengkapan audiovisualnya; pastilah ada ruang dengan kursi meja untuk diskusi; pastilah ada umbul-umbul dan spanduk-spanduknya; pastilah ada makanan-minuman; pastilah ada gerai-gerai merchandise dan aksesoris; dan tentu pastilah ada panitia, pengunjung, pengisi acara, penjual, pembeli, dan lain-lainnya. Kemudian setelah mengunjungi festival, para pengunjung biasanya akan pulang dengan buku, dengan merchandise, dengan tote bag atau kaos bermotif festival, dengan puisi yang ditulis dadakan di kertas yang indah, dengan brosur-brosur atau katalog berisi daftar buku-buku baru, dengan cerita, dengan gosip, dengan kenalan atau ide-ide baru yang siap dikoleksi, dibaca, disimpan, dipakai, ditunjukkan ke teman, diolah, dan didiskusikan lagi.
Benda-benda Sastra
Demikianlah dalam sebuah peristiwa sastra, benda-benda bergelimangan. Dalam peristiwa sastra yang demikian, bukan hanya manusia yang datang pergi berinteraksi, tetapi juga benda-benda, yang material, yang bukan teks dan makna. Jauh dari sekadar artefak, material itu muncul dan ada pada relasinya dengan manusia dan pada fungsi-fungsinya dalam peristiwa tersebut. Daniel Miller dalam bukunya berjudul Material Culture and Mass Consumption (1987) memperkenalkan konsep the humility of things yang artinya benda atau objek-objek tertentu menjadi penting bukan karena mereka terlihat tetapi justru karena kita tidak “melihatnya”. Semakin kita tidak menyadari keberadaan objek atau benda-benda itu semakin kuat mereka dapat menentukan ekspektasi kita atau menentukan apa yang terjadi 1, misal pada festival sastra di atas.
Selanjutnya, di festival sastra, benda-benda dan manusia bersatu dan bahkan “berkolaborasi”. Bayangkan lagi kita menjadi salah satu dari penulis terpilih yang difasilitasi festival untuk terlibat aktif di dalamnya. Sebelum terpilih, kita sebagai penulis akan melewati seleksi yang didasarkan pada dokumen-dokumen pendukung, selain tentu karya sastra kita sendiri (yang juga sebuah benda). Penulis harus menyediakan lamaran, biodata, foto terbaru, sertifikat pencapaian dan lain-lainnya. Apalagi kalau penulis mendapat dukungan finansial dari pihak lain, misalnya pemerintah. Lebih banyak lagi benda-benda yang harus disiapkan. Di festival, kalau tidak dijual di pameran buku, penulis biasanya membawa beberapa eksemplar karyanya untuk diberikan atau dipertukarkan dengan penulis lain atau penerjemah sebagai bentuk meluaskan jaringan, alias meluaskan gerak benda sastra miliknya. Pada intinya, semua proses kesastraan ini melibatkan bukan hanya manusia sebagai agen aktif, tetapi juga ditentukan oleh benda-benda di sekitarnya tersebut.
Mengikuti gagasan Jane Bennett dalam bukunya Vibrant Matter A Political Ecology of Things (2010), seluruh benda-benda di atas menjadi vibrant matter yang memiliki vitalitas atau kekuatan dalam formasi-formasi materialnya, yang tidak lagi didasarkan pada dikotomi antara benda-benda yang pasif, kasar, inert, dengan manusia yang hidup dan dinamis. Lebih lanjut, ia menggarisbawahi vitalitas sebagai kapasitas materi untuk bahkan memiliki trajektori atau lintasan dan tendensi mereka sendiri 2. Jadi, dokumen-dokumen, karya sastra, benda-benda yang berserakan di sebuah peristiwa sastra itu dalam berbagai konfigurasinya memiliki kemampuan untuk terlibat dan memengaruhi terjadinya peristiwa sastra, semacam terpilihnya penulis tertentu untuk mengikuti festival sastra dengan dukungan dari pemerintah. Benda-benda itu oleh Bennett disebut memiliki thing-power, yakni kemampuan “aneh” untuk melampaui statusnya sebagai objek dan untuk menunjukkan kemandirian agensi mereka3. Kita tidak pernah sepenuhnya merengkuh dan menyadari, keseluruhan alasan dan proses di balik pemilihan satu novel favorit, satu penulis pemenang, satu sampul buku tertentu oleh misalnya sponsor atau komite sayembara atau penerbit atau pembaca sastra.
Sebagai ilustrasi dari thing-power ini, mari kita membayangkan diri, kali ini bukan sebagai penulis, tetapi sebagai pengunjung sebuah festival internasional, yang tengah berkeliling ke gerai-gerai toko buku yang ada di sana. Di sana kita melihat satu novel baru yang tampak menarik. Kita mungkin suka sampul bukunya, judulnya, lalu semakin suka ketika membaca endorsement dan sinopsisnya; ditambah ada tanda tangan spesial dari penulisnya. Kita pun memutuskan untuk membelinya. Dalam momen tersebut, meminjam istilah dari Rita Felski4 kita terpikat (hooked) oleh keberadaan novel itu sebagai sebuah benda. Tentu ada cerita yang menarik yang membuat kita ingin membaca. Tentu ada latar belakang penulis yang mungkin sudah kita sukai sejak mula. Akan tetapi, momen kita memutuskan untuk memiliki novel itu, adalah momen yang tercipta bukan hanya karena relasi kita dan cerita yang ada di dalamnya, tetapi juga karena thing-power novel itu, yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan alasannya.
Belum lagi kemudian, kita menceritakan keterpikatan itu ke orang lain, yang kemudian juga terpikat. Lalu tanpa dinyana misalnya, novel itu menang International Booker Prize, dan teman yang ternyata bagian dari penerbit itu, karena keterpikatannya juga, segera membeli hak terjemahannya. Ini adalah ilustrasi yang sederhana dan mungkin bahkan reduksionis, yang menunjukkan betapa momen keterpikatan terhadap karya sastra sebagai benda yang terjadi di gerai buku, berujung pada pergerakan dan keputusan-keputusan penting dalam dunia sastra di tataran global.
Assemblage dalam Sastra Indonesia
Apa yang terjadi antara benda-benda itu dengan penulis dan pembacanya, kemudian membentuk assemblage, istilah yang dipinjam dari Deleuze dan Guattari, yang merujuk pada a human-nonhuman working group5. Dalam konteks peristiwa sastra, lanskap festival, kehadiran penulis yang disokong pemerintah dan saling bertukar karya dengan penulis lain, momen pengunjung yang membeli buku atau pernak-pernik dan membawanya pulang untuk dibicarakan dengan pembaca lain menciptakan sebuah assemblage. Dan dalam berbagai formasinya, assemblage ini bisa menjadi sumber kekuatan dan semestinya menciptakan cara pandang yang berbeda terkait apa saja yang mengonstruksi ekosistem sastra Indonesia. Sayangnya, meskipun assemblage antara yang material dengan benda lain atau dengan sastrawannya (yang hidup) menjadi elemen penting yang visible dalam hampir semua peristiwa sastra di Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir, kondisi ini hampir tidak pernah dibicarakan.
Salah satu kajian yang melihat ekosistem sastra Indonesia dalam aspek materialitasnya, yang juga menginspirasi tulisan dan kajian ini, adalah seri esai yang ditulis Leon Woltermann di majalah daring The Digital Orientalist. Bersumber dari proyek pribadinya yang menciptakan korpus digital cerpen Indonesia, Woltermann melihat kondisi material karya sastra yang tersebar, ephemeral, dengan sirkulasi serta produksi karya di berbagai wilayah kepulauan Indonesia telah mempengaruhi karakter sastra Indonesia6. Membaca karya sastra menurutnya, tidak hanya membaca kata per kata dan memahami maknanya, tetapi melibatkan proses-proses seperti pengumpulan, dokumentasi, pengaturan, pengubahan bentuk dan media, pameran dalam festival, promosi di brosur dan katalog, yang semuanya mengarah pada materialitas sastra itu sendiri7. Jadi, mengonsumsi sastra tidak hanya merujuk pada aktivitas membaca dalaman karyanya, tetapi itu juga melibatkan benda-benda di luar karya dan berbagai praktik serta aktor yang meluaskan sirkulasi dan menunjukkan materialitas sastra baik dalam bentuk fisik maupun digital.
Selain kajian dari Woltermann ini, kajian-kajian lain hanya menyinggung materialitas secara terbatas dan tidak menjadi yang utama. Misalnya, kajian sastra yang banyak dikerjakan oleh para filolog, yang melihat materialitas pada manuskrip-manuskrip kuno di sekitar Nusantara8. Pada ruang sastra modern, kajian pada materialitas sastra biasanya berfokus pada misalnya paratext9, sampul buku10, proses penerbitan karya11, atau pada kajian-kajian sastra yang intermedial. Sayangnya, selain hanya terbatas, jika pun menyinggung materialitas, kajian-kajian tersebut masih melihat relasi antara yang non-manusia dan manusia secara hierarkis, sehingga agensinya masih berpusat pada yang hidup. Kesimpulan kajiannya pun lebih berat, kalau tidak selalu mengarah pada makna-makna bawaan karyanya, pada yang imaterial tinimbang yang material. Selain itu, kalaupun mengkaji kebendaan sastra, kajian itu selalu menjadi subordinat atau menempel pada kajian-kajian lainnya seperti arkeologi, antropologi, kajian diskursus sehingga perspektif yang digunakan tidak fokus pada signifikansi materialitas karya sastranya.
Atas keterbatasan-keterbatasan di atas, esai ini sebenarnya diniatkan hanya sebagai pantikan atau provokasi kepada penikmat, pembaca, pencipta, penerbit, pekerja festival sastra untuk melihat materialitas sastra sebagai elemen yang determinan di satu sisi, sekaligus dengan demikian, melihat keberadaannya dalam peristiwa-peristiwa kesastraan di Indonesia. Dengan menggunakan perspektif tersebut, apa yang tidak pernah dilihat sebagai bagian dari kesastraan Indonesia akan terlihat, sekaligus memungkinkan adanya upaya kritis dalam melihat berbagai peristiwa sastra di Indonesia, terutama berhubungan dengan benda apa dan siapa yang menyusun ekosistem sastra Indonesia.
Lebih jauh lagi, formasi-formasi antara yang manusia dan nonmanusia ini mencerminkan apa yang oleh Bruno Latour (2004)12 sebagai relasi antar-aktan. Aktan ini bisa manusia dan nonmanusia, yang memiliki daya guna, dapat melakukan sesuatu, menghasilkan efek dan mengubah suatu peristiwa. Misalnya, penulis, kurator, penerjemah dan penerbit, agen sastra, kolektor, dokumentalis, yang berhubungan dengan aktan, seperti buku, brosur, katalog, poster, gerai, dan lain sebagainya. Dengan pemahaman ini, maka dua kelompok elemen itu tidak terpisah dan saling menentukan.
Selanjutnya, melalui relasi antar-aktan dalam assemblage inilah, kerap muncul siapa, apa, dan format assemblage seperti apa yang dianggap mewakili sastra Indonesia dan kemudian dijadikan muka yang layak dipamerkan di berbagai perhelatan, nasional dan internasional. Dengan begitu, berarti juga terdapat apa dan siapa yang tidak masuk dalam formasi yang “layak” untuk dianggap sastra Indonesia. Kesadaran relasi antar-aktan dan assemblage ini, pada hakikatnya menjadi titik berangkat untuk membuka peluang adanya pandangan kritis terhadap formasi dominan, misalnya, yang terlalu fokus pada manusia, atau relasi antara manusia dan benda sastra tertentu yang didukung kuasa dominan dan menyingkirkan peran aktan lain ke ruang marginal.
Dengan angan-angan di atas, esai ini justru diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang sampai kini terus mengusik penulis. Pertama, sebenarnya, apa saja yang bisa diidentifikasi sebagai benda-benda sastra Indonesia. Kedua, berangkat dari yang sudah diinisiasi oleh Woltermann di atas, bagaimana kira-kira wajah sastra Indonesia yang dibentuk oleh assemblage-assemblage antara agensi manusia dan non-manusia itu. Terakhir, bagaimana assemblage itu bergerak dinamis dan bagaimana dengan kesadaran itu, kita bisa membongkar relasi di mana relasi antar-aktan yang satu dianggap lebih mewakili sastra Indonesia tinimbang relasi yang lain.
Yogyakarta, 2026
*Esai ini bersumber dari proposal riset yang tengah dikerjakan penulis dengan judul yang sama. Penulis berterima kasih kepada Min Seong Kim selaku kolaborator riset, atas gagasan, masukan dan kerja sama berharga sepanjang riset ini.
Catatan kaki:
- Miller, D. (1998). Why some things matter. In D. Miller (Ed.), Material Cultures: Why Some Things Matter (pp. 3 21). University of Chicago Press. ↩︎
- Bennett, J. (2010). Vibrant Matter: A Political Ecology of Things (pp.viii). Duke University Press. ↩︎
- Bennett, 2010, p. xvi ↩︎
- Felski, Rita. (2020). Hooked, Art and Attachment. The University of Chicago Press ↩︎
- Bennett, 2010, p. xvi ↩︎
- Woltermann, Leon. (2026). “Undoing the Canon: How Distant Reading Contributes to a Critical Model of Indonesian Literature”. The Digital Orientalist. https://digitalorientalist.com/2026/01/02/undoing-the-canon-how-distant-reading-contributes-to-a-critical-model-of-indonesian-literature/ ↩︎
- Woltermann, Leon. (2026) “Bits of Literature: Methodologizing Reading Practices for Indonesian Short Stories”. The Digital Orientalist. https://digitalorientalist.com/2026/03/17/bits-of-literature-methodologizing-reading-practices-for-indonesian-short-stories/ ↩︎
- Lihat Fox, R., & Hornbacher, A. (Eds.). (05 Oct. 2016). The Materiality and Efficacy of Balinese Letters. Leiden, The Netherlands: Brill. https://doi.org/10.1163/9789004326828 dan Gallop, A. T. (2021). “Qur’an manuscripts from Mindanao: collecting histories, art and materiality”. South East Asia Research, 30(1), 23-67. ↩︎
- Lihat: Aveling, H. (2010). “Parateks pada Terjemahan novel without a name”. In R. K. Toha – Sarumpaet, & M. Budianta (Eds.), Membaca Sapardi (pp. 235 – 248). Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ↩︎
- lihat Anwar, Saeful. (2024). Ruang-Ruang Kemungkinan dalam Kritik Sastra Akademik. Jejak Pustaka ↩︎
- lihat Darmanto N, Ronda AM, Widowati D. “Transformation of the Indonesian Book Publishing Industry from Traditional to Digital”. J. Inf. Commun. Converg. Eng. 2025;23:168-181. https://doi.org/10.56977/jicce.2025.23.3.168 ↩︎
- Latour, B. (2004). Politics of Nature: How to Bring the Sciences into Democracy. Harvard University Press. ↩︎

Penulis dan pengajar di FIB UGM
Baca Biografi Selengkapnya →