Lewati ke konten

Peristiwa

Ketika Segelas Kopi Tumpah, Puisi Membuatmu Terjaga

August 25, 2026 · Agusta Mario

Saya mabuk, tapi, jangan salah sangka, saya bukan mabuk karena bir. Saya mabuk karena kopi. Dalam sehari saya bisa menghabiskan bergelas-gelas kopi. Jika dikalkulasikan, persentase saya minum kopi sama berimbangnya dengan menenggak air putih, mungkin bisa lebih.

Selayaknya Senin siang itu (24/08/2026), ketika sedari di kantin kampus saya menenggak habis satu cangkir kopi seorang diri dan dilanjut segelas kopi lain ketika tibad di Gedung Graha Budaya, Embung Giwangan. Segelas kopi lain itu tak sempat saya habiskan karena harus segera merapat ke Gedung Wijaya Kusuma untuk menghadiri Workshop Penulisan Puisi.

Penyair Mutia Sukma adalah pematerinya, dan sepuluh orang penyair menjadi pesertanya. Mereka adalah penyair terpilih setelah melalui tahap kurasi yang cukup ketat.

Di meja panjang setengah lingkaran, saya menempati salah satu kursi. Malu-malu, canggung, dan penuh ketakutan. Bagaimana tidak? Di hadapan saya berjejer para penyair yang tak bisa dikatakan ecek-ecek. Buktinya, dari puluhan bahkan ratusan pendaftar, merekalah yang berhasil dipersilakan menikmati nasi kotak berwarna hijau itu. Dan tentu, berkesempatan mendalami puisi secara intens bersama penyair Mutia Sukma.

Kegugupan saya berimbas dengan jatuhnya segelas kopi, tepat ketika Mutia menanyakan tentang enjambemen dan seorang peserta menjawab, “Untuk mengatur jeda napas.”

Kemudian, lewat aplikasi Word, Mutia menuliskan sebuah kalimat pada layar untuk menerangkan bahwa enjambemen juga bisa berpengaruh pada nuansa puisi. Ada dan ketiadaan tanda baca merupakan komponen pendukungnya.

Saya masih menatap, terpaku pada tumpahan kopi di keramik sementara Mutia sudah berpindah ke diksi puisi.

Kata “jalang” pada puisi Aku karya Chairil Anwar menjadi fokus bahasannya kali ini. Ia cukup terkejut ketika mendapati arti kata “jalang” di KBBI yang berarti binatang liar, atau lebih khususnya kerbau liar. Penemuan itu sedikit mematahkan pemahamannya selama ini akan kata “jalang” yang hanya berkisar pada arti tabu.

Kejalangan, sebagai bentuk penyifatan, yang biasa diartikan sebagai “liar” turut memunculkan ragam unsur lain dalam puisi Aku-nya Chairil. Karena itu, Mutia menyinggung ironi.

“Di lain sisi, ‘jalang’ merujuk pada kebinatangan, tapi tetap ada juga kok binatang yang setia kayak anjing dan disayang kayak kucing,” tuturnya.

Dan keterasingan, sebagai makna yang dipersonifikasikan, menjadi tidak berlaku sebab “meradang” dan “menerjang” adalah keliaran, adalah kebinatangan itu sendiri.

Ia juga menambahkan, jika kata “jalang” diganti dengan “nakal” (sebagai sinonim dari “jalang” menurut KBBI), unsur kebinatangan itu akan kurang greget, kurang dapat suasananya. Pemilihan “jalang” pun ikut menyelaraskan rima akhir dengan kata-kata kerja setelahnya, yakni “meradang” dan “menerjang”. Di titik ini, Mutia menyadari bahwa Chairil benar-benar ketat dan sangat selektif dalam memilih diksi.

Para peserta begitu serius menyimak, sebab sedari garis start sampai pertengahan, Mutia sangat bersemangat melampirkan materi-materinya. Suaranya yang lantang memenuhi seisi ruangan, dan penekanannya pada kata “jalang” rasa-rasanya cocok dipredikatkan kepada saya mengingat perkara kopi tumpah tadi. Dan dari sudut pandang pribadi, saya turut mengonfirmasi predikat itu.

Kali ini perkara sudut pandanglah yang dipaparkan Mutia. Sebagai contohnya, ia menyebutkan karya dari salah satu peserta yang secara gagasan diduganya ingin membicarakan tentang religiusitas. Partikel-partikel seperti nama nabi dan bahtera tertera di dalamnya. Menurut sang penulis, ia ingin mempertautkan cerita The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway dengan cerita-cerita nabi. Tapi dari pembacaan Mutia, puisi tersebut tak menawarkan suatu kebaruan atau sudut pandang lain.

“Kalau begini, apa bedanya dengan membaca kisah nabi-nabi di Al-Qur’an?” pungkasnya. Seketika si penulis tertunduk malu.

Lagi-lagi suara Mutia menggelegar di kuping saya meski mulut sudah beberapa kali menguap. 

Untuk membandingkannya, Mutia menyebut puisi Celana Ibu karya penyair Joko Pinurbo. Menurutnya, Celana Ibu bukan hanya meminjam khazanah Bible—kisah kebangkitan Yesus Kristus—melainkan diselaraskan dengan fenomena modernitas, yakni “celana”. Alhasil, peristiwa dua ribu tahun lalu menjadi segar kembali. Dan karena bentuknya naratif, Jokpin berhasil menjaga fokus puisi dengan tidak bertele-tele dalam telling, melainkan lebih menghidupkan showing—visual dari “celana”.

Tentang visual, tipografi adalah tampilan yang paling dahulu tertangkap ketika membaca puisi. Mutia pun memaparkan puisi berjudul Puisi karya Saut Situmorang di layar. Mutia memfokuskannya pada pemilihan bentuk tipografi align center pada puisi tersebut.

Hematnya, Bang Saut termasuk penyair yang sangat cermat dan tidak asal-asalan dalam menentukan bentuk puisi. Ditunjukkannya, antara larik-larik puisi yang berbunyi, “tidak takut tidak, tidak takut takut/tidak pernah takut, tidak akan takut/tapi takut Ibu!” seakan dikontraskan lagi oleh tipografi center tersebut. Sehingga ibu bagi Bang Saut adalah pusat, adalah muara dari segala kehidupan.

Terdengar suara Mutia kian membahana. Jarak antara mik dengan mulutnya benar-benar tak bisa dijauhkan. Sedangkan waktu telah diabaikannya sejak sejam yang lalu, sehingga di menit yang hampir menginjak dua jam, ia menyempatkan untuk lanjut mengomentari karya dari beberapa peserta.

Di sudut meja, saya terantuk-antuk berusaha agar tetap sadar.

Tanpa basa-basi, Mutia langsung berkata, “Coba, Mbak, belajar dulu menyusun kalimat, soalnya puisimu ini SPOK-nya tidak jelas!”

Lalu, dilanjutkannya lagi ke peserta berikutnya, “Logika tempat di puisimu kurang fokus dan terdapat lompatan diksi di beberapa bait.”

Saya tersentak. Tak perlu segelas kopi lagi untuk membuat saya terjaga. Pernyataan Mutia itu semakin memojokkan saya yang diam-diam juga suka menulis puisi. Maksudnya, bila puisi para penyair di ruangan itu disikat habis, apalagi puisi yang saya tulis. Belum lagi dari attitude… ya, lihatlah noda kopi di keramik itu. Kendati demikian, Mutia yakin jikalau puisi-puisi tersebut disunting lagi, hasilnya akan jadi lebih bagus.

Tapi sungguh, puisi membuat saya terjaga.

Tentang Penulis

Agusta Mario

Lahir di Ende Flores-NTT. Kini sedang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Sastra Indonesia tahun ketiga

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.