Lewati ke konten

Peristiwa

Tidak Boleh Beli Tanah di Jogja dan Pembicaraan-pembicaraan Lain yang Bakal Segera Dilupakan

August 25, 2026 · Fathurrohman R.

Suatu sore yang agak jauh di belakang, seorang kawan, Mamay, bilang ke saya kalau “… di Jogja orang China nggak boleh beli tanah lho, Tur.” Kurang lebih begitu.

Saya ingat-ingat lupa bagaimana mulanya hingga kami tiba di percakapan itu. Sepertinya itu berawal dari obrolan ngalor-ngidul kami soal tanah dan kampung—dua hal yang kadang-kadang saya identikkan dengan kawan saya itu—di sekali waktu dan tempat yang tidak begitu disengaja.

Yang jelas, saya masih mengingatnya sebab ada pertanyaan yang masih menggantung: mengapa.

Kawan saya itu tak bisa menjawabnya, orang-orang asli Jogja yang saya kenal dan pernah saya tanyai juga tidak, termasuk Awi Chin yang siang itu (24/08/2026) menjadi pembicara di dalam gedung Grha Budaya, Taman Embung Giwangan Yogyakarta—yang juga turut menyinggungnya.

Tentu saja, Awi Chin tidak membicarakan itu dalam suatu obrolan ngalor-ngidul yang sulit diraba hulu dan hilirnya. Ia membicarakannya dalam sebuah acara pada gelaran Festival Sastra Yogyakarta, tentu yang ia bicarakan berkaitan dengan sastra.

Di FSY seharusnya tak ada hal selain sastra, bukan?

Awi Chin yang ditemani Ayu Riani sebagai moderator membicarakan buku kumcernya berjudul Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya yang baru saja terbit.

Meloncat ke tengah pembicaraan, Awi membikin premis satu cerpen dari pertanyaan soal mengapa orang China tidak boleh membeli tanah di Jogja. Menjelaskan sedikit ceritanya, ia menyebut bahwa itu cerpen yang menghadirkan dua tokoh bernama si Sipit dan si Belo—yang satu China tulen sedang yang lain Jawa asli. Mereka menikah di luar negeri karena tidak pernah diakui sebab keduanya lelaki. Ya, Anda tak salah baca. Satu hal yang saya yakin akan membikin kebanyakan orang Jogja, seperti kawan saya itu, menjadi mendidih ketika mendengarnya.

Lebih jauh, cerpen itu berjudul Garis Lurus. Dengan menyinggung dan berlatar Jogja, tentu saja ada yang menghubung-hubungkannya dengan sumbu filosofis. Tapi, tegas Awi, ia tak sadar akan hal itu dan tidak meniatkannya. Ia membikin judul itu sebagai metafora dan memunculkannya di sepanjang cerita. Metafora itu dicomot dari kata straight yang lebih dimaknai sebagai kecenderungan seksual yang normal dan membenturkannya dengan kata “belok” yang sering dilekatkan pada queer dan sejenisnya.

Terlebih, agaknya, metafora itu menjadi masuk akal dalam cerita. Sebab tokohnya (entah yang mana) memang merupakan seniman dan banyak muncul juga kata-kata yang selingkung, misalnya, kelokan dan belokan dalam konteks lukisan sebagai sapuan kuas.

Kembali ke awal pembicaraan, Ayu sejak mula bilang kalau cerpen-cerpen di kumpulan ini banyak mengangkat isu-isu kontroversial. Setidaknya ada lima tema utama di dalam kumpulan cerpennya ini, yakni ketubuhan, identitas, seksualitas, perbedaan etnis, dan pengalaman queer.

Namun, yang membikin saya antusias, selain beberapa tema yang cenderung progresif, justru kesadaran bentuk dalam penjelasan Awi. Misalnya, ia sadar bahwa cerpen memang pendek dan seharusnya memang hanya memuat satu peristiwa atau gagasan. Cerpen hanya selintas peristiwa dan oleh karenanya tidak harus menguraikan semua-mua. Awi juga menyebut kesinisannya pada cerpen yang banyak ia temukan yang seolah berusaha memasukkan semua unsur dan peristiwa ke dalam cerita.

Awi dalam kumpulan cerpen ini, mengaku banyak bermain-main dengan bentuk. Dalam Untuk Sebuah Nama, judul pertama dalam kumpulan ini, katanya, para pembaca bisa menemukan surat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus kriminal yang bahkan dibedakan sejak dari font untuk kemudian menaruh judulnya di tengah-tengah.

Selain itu, ia juga bermain-main dengan penggunaan narator. Kata Ayu yang juga disepakati oleh Awi, para pembaca bisa menemukan beragam narator—hewan-hewan, pohon, roh—dengan sudut pandang yang juga beragam—penggunaan kata ganti kau, kita, bahkan mereka.

Menurut Ramayda yang pendapatnya saya baca di bagian belakang buku ketika mencari tahu lebih lanjut, “Awi Chin melakukan eksplorasi yang non-antroposentris […] Kita diajak mendengar pohon dan hewan-hewan bicara tentang hidup mereka, bagaimana mereka melihat manusia dan masalah-masalah aktual di dunia.”

Keragaman narator, sudut pandang, dan tema itu memancing Ayu untuk menanyakan satu hal: bagaimana risetnya?

Sebelum menjawab pertanyaan Ayu, Awi bilang kalau Indonesia itu majemuk dan tidak singular. Identitas Indonesia adalah identitas yang cair dan tidak beku. Oleh karenanya, ia hendak merepresentasikan kemajemukan itu dalam cerpen-cerpennya.

Untuk riset, Awi membedakannya menjadi dua: riset dengan benar dan riset dengan empati. Yang pertama bisa dengan gampang dilakukan sebab berbasis empiris dan pengamatan. Sementara, yang kedua, perlu dengan hati, hal yang sulit dijangkau hanya dengan indrawi.

Awi melakukan yang pertama mula-mula lewat banyak membaca trivia, tapi kemudian lebih mendalami karena ia banyak membikin cerita-cerita yang memantul dari pengalamannya. Sedangkan yang kedua, salah satu siasatnya, adalah dengan menyodorkan naskah-naskahnya ke para sensitivity reader, mereka yang direpresentasikan di dalam cerita untuk mengukur sejauh mana bias pengalaman penulisnya.

Nah, selalu ada siasat, kita tahu. Selalu ada isu yang bisa diangkat, tentunya. Tapi, tidak semua bisa dituliskan dan dijelaskan apalagi hanya lewat satu tulisan bahkan untuk menguraikan satu pembicaraan.

Jadi, baik kita akhiri tulisan ini dengan satu kalimat yang dua kali disebut Awi: Habent sua fata libeli. Setiap tulisan [buku-buku] akan menemukan takdir atau nasibnya masing-masing. Termasuk tulisan ini. Yang, saya yakin, akan segera dilupakan bahkan sejak pertama diterbitkan.

 

Tentang Penulis

Fathurrohman R.

Tahu huruf di Tangerang, sekarang lagi belajar baca di Yogyakarta. Mahasiswa UNY tahun kedua. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak maupun daring. Sejauh ini sudah memenangi dua lomba menulis tingkat nasional. Mengorganisir kegiatan-kegiatan sastra kampus bersama Susastra dan terlibat aktif bersama komunitas Sukusastra.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.