Lewati ke konten

Peristiwa

Kolonialisme Ditinjau dari Atas Wastafel

August 25, 2026 · Mad Muflihun

Itu sebuah sore yang tak terlalu jauh ketika para mahasiswa sudah mulai bubar kecuali dua orang yang duduk di belakang tulisan Fakultas Ilmu Budaya warna merah. Adalah saya dan seorang teman. Kami memandangi sebuah gedung yang baru saja selesai dibangun dan tampaknya tak akan berdampak apa-apa kecuali hanya sebagai pencuci mata.

Obrolan melompat sana-sini sebelum ia bercerita tentang kampung halamannya di Kalimantan sana yang tengah menyala.

“Bagaimana rasanya, Bung?” tanyaku.

“Sepertinya kau harus menambah beans dan mengurangi kadar airnya.”

“Bukan kopinya, Bung. Maksudku, bagaimana rasanya hidup di tengah api?”

Ia menatap saya sejenak kemudian menaruh gelasnya. Sambil membersihkan sisa ampas di kumisnya, ia berdiri satu langkah di depan saya.

“Seperti ini,” katanya. “Dan seperti ini.”

Dia mengucapkan “seperti ini” yang pertama dengan menutup mata saya menggunakan satu telapak tangannya. Dan “seperti ini” yang kedua, penuh penekanan, dengan mendekatkan asap pembakaran tembakau Sindoronya tepat di hidung saya. Itu jenis tembakau yang bisa membuat pengidap asma kejang-kejang dalam waktu kurang dari lima detik setelah menghirup asapnya untuk pertama kali.

Apa yang ia maksud? Kurang lebih: asap pembakaran hutan memperpendek jarak pandang, selain juga memperpendek nyawa.

***

Saya kemudian menghadiri diskusi tentang Kalimantan lagi pada suatu sore yang baru kemarin (24/08/2026) di Taman Budaya Embung Giwangan. Kawan saya tak ikut, tapi Cak Kandar ikut. Tampangnya sedikit banyak mengingatkan saya kepada penjual sate yang dulu sering menggelar dagangannya di perempatan kampung saya.

Sekarang pedagang itu telah mempekerjakan seorang pegawai dari tempat asal yang sama sehingga orang-orang juga memanggilnya dengan sebutan yang sama juga: Cak.

“Jelek-jelek begini, saya lulusan fakultas kehutanan,” kata Cak Kandar yang tidak jualan sate tapi, kata dia sendiri, bertani buku. Sejauh pengetahuan saya, ia perwakilan dari penerbit Interlude. Entah jabatannya sebagai apa, tapi tak mungkin dia di sana ditugasi mencangkul atau tandur.

Yang saya tahu, tak perlu lah dibangga-banggakan fakultas kehutananmu itu, Cak. Toh, fakultas kehutanan identik dengan salah satu alumninya yang menjadi bencana di negara kita. Atau, apakah bisa fakultas kehutanan membuat festival sastra? Tapi, benar juga, buat apa fakultas kehutanan buat festival sastra. Kurang kerjaaan dan kurang waras.

Yang saya tahu pula, Cak, Anda sangat njawani. Maksudnya, sangat terlihat bahwa Anda itu sangat-sangat Jawa dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Dan pembicara yang satunya lagi, Adrianor (panggil aja Aan katanya), sangat ngalimantani.

(Tunggu, apakah begitu menyebut seseorang yang sangat terasa elemen Kalimantan-nya?).

Yang pasti, Aan adalah orang Kalimantan asli. Ia secara terang bilang bahwa dirinya belum lancar benar berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan suatu kesalahan, tentu saja, saya pun masih sering kagok kalau berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Medok, begitu kata kawan-kawan saya. Apalagi kalau misuh, seperti kata Cak Kandar, istilah semacam asu, bajingan, jancok tentu saja lebih renyah daripada anjir, bjir, atau njir—setidaknya bagi saya.

Dan mungkin itu pula yang melatarbelakangi Novan Leany, yang hadir secara in absentia dalam diskusi, menggunakan berbagai kosakata Kalimantan dengan berbagai ragamnya untuk mengiringi puisi-puisinya yang berbahasa Indonesia.

Saat saya bertanya kepada Aan, di akhir diskusi, apakah cara yang dipakai oleh kawannya itu juga bentuk resistensi terhadap bahasa Indonesia yang menyeragamkan dan membunuh bahasa daerah, Aan menjawab, ya, bisa dikatakan begitu.

Seperti dalam judul buku puisinya, Dingin Kenangan Anak Batang (dengan subjudul yang tertulis sangat kecil: Huma, Cinta, dan Tragedi). Di situ, kata “batang” tentu saja digunakan sebagai permainan rima agar selaras dengan “kenangan”. Tapi, “batang” di sini bukan batang yang kita kenal dalam bahasa Indonesia.

Batang itu semacam rangkaian bambu di atas sungai untuk mandi, buang air, atau mencuci pakaian,” kata Aan. Semacam wastafel, kalau kata saya. Bedanya, “batang” rasanya lebih kolektif. Orang yang paling introvert sekali pun akan mandi dan bertemu banyak orang di sana.

Apa yang Aan tuturkan itu membuat saya kepikiran suatu sore yang sangat jauh ketika pertama kali mendengar istilah settler colonialism, yaitu penghancuran secara sistemik sebuah wilayah untuk dijadikan pemukiman baru.

Istilah itu tak hanya berlaku di Palestina sana pada saat ini atau di Indonesia sini pada zaman dulu. Tetapi juga masih relevan di sini, Indonesia, dan saat ini.

Hampir semua daerah di Indonesia dipandang sebagai liyan, orang asing, oleh pemerintah pusat. Sebagai liyan, mereka hanya dipandang sebagai angka yang bisa digusur-pindahkan semudah menutup-buka resleting celana.

Pada gilirannya, settler colonialism kemudian diikuti oleh Indonesiasi. Ingat, bukan nasionalisasi. Itu sebutan untuk kedatangan orang-orang non-daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan di sana.

Sangat bias kolonialisme? Memang. Mereka, orang-orang pusat, melihat suku-suku di daerah sebagai orang-orang yang masih mengistikamahkan kanibalisme atau punya otak tak lebih besar dari kelereng atau orang kafir. Atau, kalau mau pergi ke kota harus adu lari dengan harimau dulu.

Itulah yang terjadi di dalam pembangunan IKN, yang pada gilirannya ditulis oleh Novan dalam salah satu puisinya, “Nasi Kuning Julak”.

Namun, kampung mana
yang patut dikenang? Jikalau
kampung kehilangan huma,
berkelindan dalam sejarah
pohon-pohon tumbang
untuk ditambang, 

“Di sini, Novan menangkap kepedihan dan penyingkiran,” kata Aan menanggapi puisi itu.

Aan kemudian bercerita tentang kapal-kapal tongkang (pengangkut batu bara) yang wilayah operasinya mulai mendekati pemukiman penduduk. Bahkan, kata Aan, pernah terdapat kejadian rumah-rumah warga ditabrak oleh raksasa itu.

“Jadi, rumah yang tadinya dianggap aman jadi menakutkan,” sesalnya.

Cak Kandar pun menanggapi dengan bela sungkawa yang mendalam terhadap kondisi tak karuan yang melanda Kalimantan itu, juga daerah-daerah lain.

“Kalau saya pribadi sudah putus asa pada negeri ini,” katanya menuju penghujung diskusi. “Tapi tidak kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Tapi apa hubungannya negeri sama Tuhan, Cak?

Tentang Penulis

Mad Muflihun

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM angkatan 2024. Ahli melinting tembakau dan sedang belajar menulis.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.