Puisi-Puisi Iyut Fitra
April 30, 2026 · Admin Suku Sastra
I (Buang Pantang)
tangislah kata pertamanya
ketika matahari merangkak setengah. seperduanya lenggang
menuju petang
ia dengar lafaz kelahiran dari muncung waktu
“jadilah kau jantan yang akan melangkahi tangkai sapu!”
dan jalan-jalan kecil sepanjang ranah. dua tiga kelokan juga lembah
orang-orang himbaukan perihal kehidupan. asal mula kedatangan
lalu musim mengalir
cuaca tukar-tukaran
segala setia terhadap bayang-bayang
maka tiba masa tepian memanggil. sungai kecil tempat mengail
orang-orang berarak dengan dulang-dulang
batiah, sigi, tampang kelapa, dan apa saja segala
“mandilah kau. mandi berkusuk lada kecil lengkap
buang pantang seirama alir ke hilir!”
ramu-ramu disembur. mantra dan doa pun dihambur
tangis berikutnya menjalar ke pematang. mengaliri tebing-tebing dan lurah
telah datang seorang jantan penghuni dusun kelak akan ke surau
dan memuja pantun-pantun
telah datang seorang jantan di lingkar nagari. kelak akan pergi
setelah lepas kaji
ibu-ibu pulang
orang-orang pulang
tepian tak sempat mencatat nama-nama
sungai kecil lupa apa itu peristiwa
tangguk berisi tujuh batu
kelapa yang kemudian ditanam
selebihnya hanya waktu saling bersahutan
jantan yang telah melengkingkan kata pertama
ia lihat semua yang hanyut merasuki mimpi
menjadi petatah dan petitih. menjelma gulungan-gulungan pituah
alas pun diletakkan
serupa kepala nasi di simpang dan tikungan
suatu saat nanti akan dipahami. ia telah lahir
sebagai bujang kampung ini
merantaui kehidupan
VI (Pemanggul Sejarah)
dari surau turun ke halaman
gelanggang telah menanti mainan para lelaki
setelah putus langkah tua disambut langkah empat
mereka menepuk-nepuk kandik. melihat bulan remang
terbayang sebentar lagi kampung akan ditinggal
diinap-inap amsal perpisahan. sepanjang apa langkah seorang lelaki
“guru, ajarkanlah cara membanting rindu. kelak di kota-kota tersinggahi
tak kusampaikan kisah tentang sepi….”
dan kanak-kanak yang dulu bermain galah di bawah purnama
mulai dilinangi arti
rumah gadang hanya kesementaraan. tepian dan halaman pasti jadi kenangan
lihatlah bangau-bangau itu
sesungguhnya ia tidak pernah mencintai kubangan
lihatlah layang-layang itu
betapa ia teramat benci pada kumpalan
tapi waktu mengalir. segala yang di hulu pasti menuju hilir
lelaki yang riuh oleh kata-kata. ia pancang tekad di gelanggang
pisau, beras kain putih. bertaruhlah!
sabung angan-angan yang selama ini menjadi rasian
bungkus tangis ibumu
lelaki tak ada dalam air mata
“guru, tunjukkan padaku rantau paling jauh
meski pisau tak akan kutikamkan. walau beras dan kain putih telah kutinggal
bila tepat hari, aku akan berjalan sebagai seorang jantan!”
kanak-kanak yang dulu berlari di sawah-sawah dan lecah
kian disungkup arti
pedati-pedati berangkat untuk tak kembali
bendi-bendi meninggalkan pagi untuk sepotong mimpi
dan bangau-bangau telah melupakan kubangan. dan layang-layang
begitu saja pamit pada kumpalan
“akukah jantan itu? seorang lelaki pemanggul sejarah
kata yang dilesapkan dan cinta yang ditumbuhkan. adalah ranji yang keji
mengapa rantau harus dijelang?”
dan ketika tepuk kandik makin kencang. warisan gerak penghabisan
ia berteriak. guru pun bersorak
inilah peluh terakhir di gelanggang sebelum pedati dan bendi datang
lalu pada hari ganjil, suatu saat nanti, segala pedih akan ia masukkan ke dalam
buntalan
XXIII (Lelaki Tua)
ia lelaki yang di tua dipeluk rantau
berapa kurun dan musim tenggelam
kenangan-kenangan yang tertinggal menjadi sila
tangkai sapunya patah
seolah pintu-pintu telah menunggu
bagaimana kabar ranah, bagaimana kabar orang di rumah
adakah pohon jambu di halaman itu masih berputik
atau ilalang dan pimping sepanjang tebing
tak lagi ada
dan gadis yang ditinggalkan
telah dilipatnya penantian. rantau jadi bara
orang yang ditunggu tiada akan kembali
ia lupakan janji di simpang jalan. ia lupakan laut serta pelayaran
ketika ada yang datang memberi arti. ia serahkan harapan
dan seluruh diri
duh, puti. berlayarlah menuju arahmu yang baru
tak perlu menunggu sesuatu yang meragu
ia rindu rumah gadang. ia rindu suara dendang ibu
dan, ah. selalu kesedihan yang menutup ruang kegembiraan
rantaunya yang sudah berbilang-bilang
tiba-tiba hambar disungkup kabar
: ibunya pergi!
melunasi usia
melerai rindu juga penungguan
kepada bujang kecil yang tak pulang
ia lelaki yang membimbangi rantau
pergi entah untuk apa. mendapat belum seberapa
tapi dada diketuk-ketuk untuk pulang
XLI (Simpul 2)
unggas yang rebah dengan sayap terluka
meringkuk serupa pohon ditebang
di angkasa cuaca meliuk-liuk
lihat, talinya putus. layang-layang menghilang ke balik awan
umur terus diburu. usia pasrah dalam kejaran
ke mana lagi menjemput kata. yang dicari masih bernama hilang
di jalanan orang-orang menjadi tua seketika
mengurai-urai nasib
bermimpi tentang silam yang angkuh
lalu menulis di lembar-lembar pudar
“malin namaku. lelaki yang tak mengerti
kampung murung. kota-kota terasa lebih sunyi
oh, sejarah yang tak mau lepas dari punggungku
telah bungkuk ranji dan silsilah
oh, cahaya yang jatuh di kolam-kolam
di lembah-lembah, bukit, dan ngalau
antarkan aku ke buaian, ke surau, ke lepau, ke tepian
antarkan aku ke harum air susu ibu”
maka dalam lengang bergubuklah para lelaki tua
anak-anak mengulang langkah. kemenakan begitu pula
menghafal lagu tentang kepergian
mengeja-eja perpisahan
ada kerudung ada tenunan
ada kebaya dalam lemari
tinggal kampung tinggal halaman
tinggal tepian tempat mandi
dari jauh
di tengah bayang kampung dan kota
dendang rusuh tentang pergi dan kembali. atau rantau juga risau
ia lihat sekawanan pipit dihempas-hempas angin
cuaca dan udara betapa bimbang
antara lengkung gonjong dan lumbung
juga sudut-sudut kafe dan lirih penyanyi tua
segala kata dalam petuah. setiap bahasa dalam petitih
menjelma tangkai-tangkai sapu yang patah
berkeping di dada lelaki
oh, bangau-bangau yang terbang
lihatlah petang datang kelam pun menyergap
oh, sarang-sarang, kandang-kandang, rumah tiada berhuni
tubuhnya serasa hanyut sebagai ranting. lapuk dan kering
“malin namaku. lelaki yang remuk.”
lalu ia mencebur ke dalam diri. sumur sunyi yang tajam
itukah rantau sesungguhnya?
Payakumbuh 2016-2017
***
Iyut Fitra lahir pada 16 Februari 1968 di Payakumbuh dan meninggal pada 27 April 2026 di kota yang sama. Ia mengelola Komunitas Seni INTRO dan aktif dalam berbagai kegiatan seni dan sastra baik di tingkat lokal maupun nasional. Bukunya yang sudah terbit antara lain Musim Retak (puisi, 2006), Dongeng-dongeng Tua (puisi, 2009), Beri Aku Malam (puisi, 2012), Orang-orang Berpayung Hitam (cerpen, 2014), Baromban (puisi, 2016), dan Lelaki dan Tangkai Sapu (2017).
Keempat puisi yang dipublikasikan di sini diambil dari buku Lelaki dan Tangkai Sapu untuk mengenang seorang penyair, sahabat, dan pegiat kebudayaan yang telah membaktikan diri selama lebih dari empat dasawarsa.
Lelaki dan Tangkai Sapu dipilih karena agaknya menjadi semacam “risalah puitik” Iyut tentang budaya yang hampir merupakan bayangan umum yang populer tentang orang Minang: merantau. Buku ini berisi puisi-puisi yang sebagian besar pernah diterbitkan secara terpisah di berbagai media massa dengan judul-judul yang berbeda. Ada juga yang belum pernah dipublikasikan. Namun, semuanya memiliki tema yang sama. Ketika disatukan menjadi buku, buku ini pun menjadi buku puisi tematik. Masuk akal ketika Iyut kemudian mengganti judul dengan angka Romawi sehingga semua puisi menjadi sebuah puisi panjang. Namun, tiap puisi tetap bisa dibaca secara tersendiri. Karena itu, kami menyertakan angka Romawi sekaligus judul awalnya.
Dalam pengantarnya, Ivan Adilla menjelaskan bahwa melalui buku ini, Iyut melalui tokoh Malin menggambarkan “siklus hidup seorang lelaki Minangkabau yang menjalani berbagai ritual sejak lahir, turun mandi, aqiqah, menjalani masa kanak-kanak dengan aneka permainan rakyat, menjadi remaja yang hidup dan belajar di surau dan berlatih di gelanggang, hingga kemudian memutuskan untuk merantau”.
Dikenal sebagai penyair liris, Iyut melihat sisi melankoli dari tradisi merantau itu. Ketika pulang, sang perantau “menyaksikan ruang sosial telah berubah banyak sehingga kampung kini telah menjadi wilayah baru yang tak berbeda dari rantau … tradisi menghilang dan berganti dengan kebiasaan baru. Modernisasi menderas merasuki kampung sehingga kampung dan rantau tak lagi berbeda”.
Mengingat Iyut lahir, menetap, dan meninggal di Payakumbuh, dan setidaknya menurut gambaran populer tidak bisa disebut “merantau”, Lelaki dan Tangkai Sapu mungkin bisa dipahami sebagai upaya Iyut menentukan tempatnya sendiri sebagai penyair dan manusia di latar spasial dan budaya Payakumbuh yang memilih untuk “tidak merantau”.
Suku Sastra turut merasa kehilangan penyair, sahabat, dan budayawan berdedikasi. Selamat jalan, Bang Iyut. Scripta manent.
Admin Suku Sastra
Admin Suku Sastra menangani semua tetek bengek di situs web SukuSastra.com, mulai dari memeriksa kelengkapan tulisan sebelum memposting di situs web hingga mengontrol tampilan.
Baca Biografi Selengkapnya →