Seberapa Berharga (Puisi di) Mata Penyair?
March 12, 2025 · Daviatul Umam
“Untuk mencapai hasil sajak yang baik, di samping oleh bobot-bobot pikiran, nilainya ditentukan dengan sangat beratnya oleh daya ekspresinya,” tulis Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) dalam Bakat Alam dan Intelektualisme. “Nilai puitiknya terletak pada kepelikan pikirannya tentang dunia dan hidup, tetapi tidak kalah beratnya bergantung pada caranya penyair mengucapkan diri.”[1]
Berpijak pada pernyataan prinsipielnya di atas, secara garis besar puisi Subagio memang menekankan pada bobot-bobot pikiran atau kepelikan pikiran tentang dunia dan hidup. Paralel dengan sang penyair yang disebut-sebut sebagai sosok intelektual, membaca puisinya adalah memasuki rimba perenungan yang kompleks. Tatkala ditelaah ulang, lagi dan lagi, rimba itu mencipta lorong-lorong pemaknaan baru. Sampai-sampai membuat saya sangsi, lorong manakah yang mesti ditempuh, sekiranya lebih memungkinkan untuk memperoleh objek buruan, alih-alih terkecoh oleh bayang-bayang perdu yang menipu.
Tentu saja tidak semua puisi Subagio memancarkan impresi demikian. Kesan tersebut hanyalah seberkas binar yang berhasil menerpa keluguan saya saat bertatap-tatapan dengan “Mata Penyair”. Bahkan, bisa saja tangkapan empiris saya sama sekali berbeda bagi pembaca yang lain, kendatipun menghadapi teks puisi yang sama. Ini sangat mungkin terjadi dan bukan hal aneh yang perlu dicengangi. Justru dari perbedaan perspektif itulah sebuah puisi dapat menemukan harkat-martabatnya. Semakin beragam pemaknaan, semakin tinggi harga diri puisi. Ia tak henti-hentinya dibaca/dikaji hingga batas waktu yang tak terukur, tergantung seberapa kompeten ia menyusun takdirnya yang terbaik.
Lalu, bagaimana dengan daya ekspresi atau cara penyair mengucapkan diri?
MATA PENYAIR
Ketika terbuka jendela, terdengar hiruk-pikuk kota. “Apa saja yang sudah kuberikan padamu,” kata penyair, “kecuali nyawaku ini yang teraniaya.”
Rakyat yang miskin merangsak ke muka. “Kami ingin matamu!” teriak mereka. “Kami ingin matamu, yang bisa merobah butir pasir yang tercecer dari karung menjadi emas di jalan. Beri matamu, matamu!”
Ada yang masih mau membela penyair itu. “Ingat, tanpa mata penyair menjadi buta!”
Tetapi rakyat yang putus asa tidak peduli. Mereka renggut mata penyair dari lubang matanya, dan lewat kedua bola matanya mereka melihat dunia sekelilingnya. Tetapi pasir yang tercecer tidak menjadi emas. Mereka menjadi kecewa dan merebus dan melahap kedua bola mata itu. Dan tidak terjadi apa-apa.
Penyair yang buta itu duduk di jendela dan tertawa menghadap ke kota. Tanpa mata dilihatnya semua begitu indahnya. Begitu indahnya!
Jika Goenawan Mohamad[2] pernah menilai sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo adalah sajak nada rendah, “Mata Penyair” enggan tunduk di bawah tempurung penilaian itu. Jika Goenawan Mohamad pernah mengeklaim puisi Subagio tak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya, “Mata Penyair” memilih berontak, membuka diri bagi ingar-bingar cakrawala, serta menampung bahkan rela melayani kesibukan di luar sana yang pelan-pelan bergerak menuju dirinya.
“Mata Penyair” merupakan puisi alegoris. Ia sengaja dijelmakan sebagai cerita mini dramatik yang keseluruhan strukturnya hendak menyampaikan sebuah amanat nan bulat. Dengan langgam prosais semacam itu, puisi ini tidak memamerkan kemahiran memilin diksi, tetapi deretan kata semenjana itu juga tidak membiarkan saya berpaling begitu saja. Ada kekuatan besar yang samar-samar menahan dan membujuk sehingga saya pun tergoda untuk mengikuti permainan “Mata Penyair” ini.
Permainan yang saya maksud berupa kalimat-kalimat surealis yang tampil dengan topeng kesederhanaannya. Dalam pembacaan singkat, saya dibuai oleh pola komunikasi sehari-hari sebelum kemudian tertarik mendekatinya lebih intim. Selanjutnya saya kian terhipnotis oleh isyarat mata yang menyimpan enigma. Terdapat sebelas mata di tubuh puisi ini, termasuk judul. Di sini, mata bisa kita sepakati sebagai bahasa figuratif tanpa perlu berambisi menyangkalnya sebagai ungkapan literal di lain pihak. Sebab, bila diperhatikan lebih saksama, nyatanya memang terjadi paradoks semantik di balik mata, antara mata yang menempati suatu kalimat dengan posisi mata di kalimat yang lain.
“Apa saja yang sudah kuberikan padamu,” kata penyair kepada kota yang ditatapnya dengan murung, setelah sekian lama ia hidup sebagai sosok yang hanya bisa berdiri di tepian dan merasa tidak dapat berbuat apa-apa selain menganyam kata-kata. Itu pun belum tentu bernilai apa-apa bagi dunia dan keberlangsungan hidup manusia. Demikianlah realitas berbicara. Di tengah hiruk-pikuk kota dengan berbagai macam persoalan yang ada, penyair cuma bisa mengamatinya dari jauh, dari ambang jendela. Subjek lirik lantas segera menjawab sendiri pertanyaan retoris itu dengan penuh kesadaran, “kecuali nyawaku ini yang teraniaya.” Teraniaya oleh ketakberdayaannya sendiri. Seolah-olah ia hanyalah benalu di muka bumi.
Namun, ada Rakyat yang miskin, memandang penyair sebagai manusia ajaib, katakanlah begitu, yang diharapkan dapat membantu mereka mencapai kesejahteraan hidup. Penyair dinilai istimewa lantaran berhasil menyulap sesuatu yang tidak berharga menjadi amat berharga, dan itu tidak mampu mereka lakukan. Atau, situasi bisa saja terbalik. Mereka merangsak ke muka, mendatangi penyair untuk melontarkan tuntutan seperti pertanyaan-pertanyaan sinis yang acap terdengar di luar pagar kesusastraan kita. Terus terang saya bimbang untuk menentukan mana di antara kedua persepsi tersebut yang paling relevan dengan bunyi paragraf sebelumnya maupun sesudahnya. Tapi, saya akan memakai persepsi kedua saja sesuai kebutuhan diskusi.
“Kami ingin matamu!” teriak mereka. “Kami ingin matamu, yang bisa merobah butir pasir yang tercecer dari karung menjadi emas di jalan. Beri matamu, matamu!”
Kata mata diucapkan empat kali dalam gugatan lantang cum hiperbolis itu dan diperuncing dengan hadirnya dua tanda seru. Artinya, ia menjadi sasaran yang sangat urgen karena dianggap bisa merobah butir pasir yang tercecer dari karung menjadi emas di jalan. Metafora inilah titik sentralnya. Tidak terlalu penting mengapa diksi butir pasir yang dipilih untuk menggambarkan hal sepele, tercecer dari karung siapakah butir pasir itu, dan seperti apakah proses tercecernya, sehingga sulit dibayangkan secara visual. Yang jelas, mata yang sangat diinginkan itu ternyata tak lebih dari sekadar sarana yang bakal digunakan untuk mencapai tujuan lebih besar.
Sebagian pembaca sastra kita, puisi khususnya, tak jarang menuntut banyak dari apa yang mereka baca. Mereka tak cukup puas menikmati kebinalan baris-baris puitis. Mereka ingin menyerap bobot-bobot pikiran yang terkandung dalam puisi untuk dijadikan bahan pelajaran atau renungan, persis apa yang sering ditawarkan Subagio dalam puisi-puisinya. Tapi, itu pun belum cukup. Menurut mereka, puisi juga mesti membawa pengaruh konkret. Dengan kata lain harus sanggup mengatasi berbagai perkara yang membelit trigatra makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan) beserta segala hal yang melingkupinya. Jelas pandangan ini melenceng dari konsep dulce et utile (menyenangkan dan bermanfaat) dalam teori sastra.
Ada yang masih mau membela penyair itu. “Ingat, tanpa mata penyair menjadi buta!”
Begitulah barangkali estimasi yang mengakar kuat di benak masyarakat: tanpa mata, tanpa kepekaan sedikit pun terhadap masalah kehidupan dan rasa simpati akan problem kemanusiaan, eksistensi penyair perlu dipertanyakan. Ia mirip orang buta yang tidak tahu-menahu tentang apa pun yang terjadi di sekitarnya. Sampai sini dapat kita nalar bahwa kata membela di bagian ini tak lain pembelaan yang sifatnya ironi. Maka tak heran jika yang terjadi kemudian adalah gerak plot tragis yang menimbulkan suasana tegang sebagai berikut:
…rakyat yang telanjur putus asa akibat kelalaian ideologi penyair itu sudah tidak peduli. Emosi kian tak terkontrol. Mereka renggut mata penyair dari lubang matanya, entah alat apa yang digunakan untuk mencongkel, penyair tak perlu repot-repot menjelaskan layaknya penulis prosa, sebab bukan itu yang terpenting, tetapi konteks. Dalam artian, signifikansinya terletak pada maksud yang tersirat, bukan pada kedetailan deskripsi. Lalu, lewat kedua bola matanya, maksudnya mata penyair yang direnggut, mereka melihat dunia sekelilingnya. Tetapi pasir yang tercecer tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, tidak menjadi emas.
Mereka menjadi kecewa terhadap ulah mereka sendiri, lebih-lebih kepada penyair yang matanya tidak bisa memenuhi ekspektasi tinggi mereka. Betapa pun muruah penyair telah terkoyak dan posisinya terpojokkan akibat tuntutan semena-mena itu, mereka tetap tak acuh dan merebus dan melahap kedua bola mata itu. Citraan sangat surealis dengan pemakaian polisindeton pada kalimat ini menunjukkan tindakan cepat. Kemiskinan dan keputusasaan membuat mereka seolah kehilangan akal sehat sehingga perbuatan mereka pun tidak masuk akal. Alhasil, tidak terjadi apa-apa.
Mata penyair, baik mau diartikan sebagai sudut pandang, cara kerja, maupun puisi yang dihasilkannya, mustahil bisa mengubah keadaan buruk menjadi baik secara instan. Lagi pula, perubahan macam apa yang instan? Misi kudus seperti apa yang tidak butuh proses? Puisi bisa mengubah butir pasir menjadi emas sedianya hanya di dalam puisi itu sendiri. Ia lantas bekerja dari dalam, merangsang relung jiwa dan pikiran pembacanya. Kalau masih mau bicara dampak, maka tergantung seberapa sanggup puisi itu memberi rangsangan dan seberapa terasah kepekaan si pembaca. Barulah kemudian dimungkinkan timbul suatu konsepsi di benak si pembaca sebelum tergerak/bergerak untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah yang ideal.
Lebih lanjut, di alinea penutup, Penyair yang buta itu, yang sudah tidak dihargai itu, masih duduk di jendela. Sekeras apa pun bentuk tuntutan massa, ia tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa selain mengamati dunia dari jauh, lalu menuliskan hasil kontemplasinya dalam wujud puisi. Soal apakah puisi itu bakal membawa perubahan atau tidak, sama sekali bukan tanggung jawabnya dan bukan pula suatu kewajiban baginya.
Namun, kali ini penyair menghadap ke kota seraya tertawa. Entah apa yang ditertawakan, rakyat yang miskin itu ataukah nasibnya sendiri. Bagaimanapun suasana ini kontras dengan paragraf pertama yang bernada murung. Lalu, frasa tanpa mata, di mana makna harfiah baru berlaku untuk kata mata, menunjukkan bahwa ketiadaan mata fisik bagi penyair bukanlah penghalang untuk menghayati kehidupan. Malah, semua tampak begitu indah justru ketika ia tanpa mata. Kontradiksi ini mengindikasikan adanya mata lain yang sejatinya jauh lebih esensial bagi penyair, juga bagi seluruh umat berakal secara umum. Begitu indahnya! tegas narator sebagai pamungkas. Jika hendak dinarasikan dengan gamblang, begini kira-kira: tanpa mata, mungkin kita tidak akan banyak mengenal masalah, meski kebutaan itu sendiri juga masalah. Atau, kita bikin narasi agresif: lebih baik buta daripada tidak memiliki kepekaan dan simpati terhadap sesama.
Kurang-lebih demikianlah isi “Mata Penyair”. Ia tampil lebih “gagah” dari puisi-puisi penyair lain yang dalam hal ini juga mengangkat tema serupa, yang hanya berkutat di wilayah sempit terkait proses menulis puisi, pemberian nilai terhadap puisi, serta hubungan romantis antara penyair dengan puisi, antara lain dalam dwilogi “Sajak”Sanusi Pane, “Rumahku” Chairil Anwar, “Dengan Puisi Aku” Taufiq Ismail, dan “Langkah-langkah Menulis Puisi” Joko Pinurbo. Adapun “Mata Penyair” melempar pandang ke seberang jalan, memungut apa yang luput, yakni relasi penyair dengan pembaca melalui kritik yang dibangunnya.
Subagio berhasil menyentil pihak yang terlalu banyak berharap kepada penyair, seakan-akan penyair adalah nabi yang di pundaknya terdapat tanggung jawab moral yang mesti ditunaikan. Begitu pun puisi dikira kitab suci yang di dalamnya memuat ajaran-ajaran atau nilai-nilai tertentu sehingga patut dijadikan pedoman manusia modern. Lebih jauh, puisi harus menanggapi segala macam persoalan di sekitarnya, bahkan mengatasinya kalau perlu. Jika tidak, barangkali puisi tidak lebih berharga dari butir pasir yang tercecer di jalan. Sementara penyair yang cuma asyik sendiri dengan anggur dan rembulan, alih-alih bergerak melawan ketidakadilan yang terjadi di sampingnya sebagaimana disitir W.S. Rendra, juga tak layak diperhitungkan.
Di dalam puisinya yang lain, kendatipun Subagio juga bicara proses menulis puisi, pemberian nilai pada puisi, dan hubungan penyair dengan puisi, lagi-lagi ia membuatnya tampil maskulin. Memilih corak prosais dengan tetap bertumpu pada penyajian alegoris, puisi “Jenderal Lu Shun” melukiskan suasana tegang dan garang ketimbang lirih dan mendayu. Tidak ada metafora, simbol, persajakan, ataupun pengolahan bahasa yang intens sehingga puisi ini terasa sangat longgar dan mengalir begitu saja layaknya dongeng pengantar tidur. Berikut saya kutip sebagian:
“Aku butuhkan ilham,” seru Jenderal Lu Shun, “dan aku tak peduli apa siang atau malam. Aku butuhkan kebengisan untuk menulis puisi.”
Kemudian ia naik kudanya yang beringas dan mendahului pasukan-pasukannya menyerbu ke lembah. Diayunkan pedang dan dicincang penduduk dusun yang tidak berjaga, sehingga puluhan laki-laki, perempuan dan anak-anak terbunuh oleh tangannya. Ia sungguh menikmati perbuatan itu, dan sehabis melihat dengan gairah darah mengalir dan tubuh bergelimpangan di sekelilingnya, ia kembali ke tendanya. “Jangan aku diusik sementara ini,” pesannya kepada seluruh bala tentaranya. Di dalam keheningan malam ia kemudian menulis puisinya.
Puisi “Jenderal Lu Shun” tidak kalah dramatik dari “Mata Penyair”. Pemberian aksentuasi pada gerak malah terkesan lebih heroik. Hanya saja, penggunaan diksi-diksi banal membuatnya berisiko berumur pendek. Tidak seperti “Mata Penyair” yang meskipun kata-katanya cenderung benderang, ia menyiapkan jebakan-jebakan yang amat potensial menyesatkan interpretasi pembaca. Itulah mengapa, agaknya ia tidak mengenal tanggal kedaluwarsa. Akan tetapi, ada benang merah yang menghubungkan keduanya: susunan sintaksis yang lemah itu saling menguatkan satu sama lain untuk menancapkan pesan berharga di ingatan kita. Jadi, titik beratnya ada pada pesan.
Sayangnya, bagi pemburu puisi pedagogis, “Jenderal Lu Shun” tidak bakal meninggalkan jejak apa-apa kecuali noktah penyesalan. Sebab, mereka gagal memetik pelajaran positif dari puisi tersebut dan alangkah baiknya buat mereka jika puisi macam itu tidak perlu diterima sebagai puisi. Sebaliknya, jangan-jangan “Jenderal Lu Shun” memang sengaja dikerahkan untuk mengolok-olok mereka yang terlalu naif mendefinisikan puisi atau seni dalam pengertian luas.
Lebih dari itu, kita juga boleh menduga, “Jenderal Lu Shun” datang kepada kita sebagai tandingan atas puisi-puisi Indonesia yang condong liris, ritmis, melankolis, bagai derai-derai gerimis. Ia mengingatkan kita bahwa puisi tidak mesti terdiri dari serangkaian diksi ganjil, majas gelap berlapis-lapis, dan permainan rima yang melewah. Ada kalanya—bahkan bila perlu menjadi keharusan—puisi mengesampingkan sifat-sifat gemulai atau menanggalkan konvensi sastra demi tersampaikannya sebuah gagasan yang diusung. Puisi seperti ini tidak butuh penafsiran berlarat-larat. Maka, saya cuma ingin menguraikan dua hal:
…ia naik kudanya yang beringas dan mendahului pasukan-pasukannya menyerbu ke lembah. Kuda sering kali dalam puisi Indonesia menjadi lambang gairah, elan, daya hidup manusia, tulis A. Teeuw ketika menganalisis puisi Subagio berjudul Salju.[3] Namun, kuda yang beringas di sini adalah kuda itu sendiri, bukan simbol kekuatan atau keberingasan penunggangnya, walaupun si penunggang tengah dikuasai amarah yang meledak-ledak.
Selanjutnya adalah penggambaran tentang Jenderal yang membantai puluhan penduduk dusun, dan setelah puas menikmati pemandangan mengerikan itu, ia kembali ke tenda untuk melanjutkan puisinya yang buntu. Tiada yang menonjol kecuali kesan horor. Tetapi imaji itu merupakan elemen terpenting dalam puisi ini karena dari situlah imaji lain lahir dalam wujud langit dan mega, pohon bambu yang merenung di pinggir telaga, dan burung bangau putih mengepakkan sayapnya sesekali di tengah alam yang sunyi. Semua imaji mooi indie itu menyandang dua peran. Pada dasarnya ia menjadi bagian internal dari bangunan puisi meski tidak memberi sumbangsih besar terhadap arsitekturnya. Personifikasi pohon bambu yang merenung pun sebatas angin lalu. Di waktu yang sama, imaji tersebut hadir sebagai transisi pengucapan, menyaru buah imajinasi si subjek lirik—semacam puisi dalam puisi—yang melambangkan cintanya kepada seorang putri dan rindunya kepada dewa yang bersemayam di atas batu karang yang tinggi.
Ada dua inti sari yang kita tangkap dari puisi “Jenderal Lu Shun”. Pertama, betapa pentingnya isi dalam puisi. Dalam konteks ini, isi yang dimaksud adalah gagasan, bobot pikiran atau intelektualisme sebagaimana telah saya singgung di muka. Tanpa sentuhan intelektualisme, puisi yang cuma lihai memainkan akrobat bahasa, barangkali bagi Subagio sama dengan sampiran dalam pantun. Tak lebih dari kata-kata kosong tak berarti; Kedua, pentingnya mencari ide gemilang sebelum menulis puisi. Subagio mengamini parafrasa umum bahwa penyair seyogianya tidak menunggu, tapi mencari dan terus mencari kendatipun harus melalui cara yang ekstrem. Proses yang berdarah-darah, kata Chairil.
Sekarang mari kita merapat ke puisi Subagio yang lain, yang sama sekali bertentangan dengan puisi sebelumnya. Jika puisi “Jenderal Lu Shun” bergaya prosais dan bernada garang, puisi “Aku Tidak Bisa Menulis Puisi Lagi” bertubuh ramping sebagai puisi liris dan bernada muram. Jika puisi “Jenderal Lu Shun” mencitrakan seorang penyair sebagai manusia yang tidak memiliki rasa empati terhadap manusia lain demi menghasilkan sebuah puisi, maka yang terjadi dalam puisi “Aku Tidak Bisa Menulis Puisi Lagi” justru sebaliknya. Aku-lirik bersikap apatis terhadap puisi demi mengutarakan rasa empatinya akan sejumlah isu kemanusiaan.
AKU TIDAK BISA MENULIS PUISI LAGI
Aku tidak bisa menulis puisi lagi
sejak di Nazi Jerman berjuta Yahudi
dilempar ke kamar gas sehingga
lemas mati.Aku tidak bisa menulis puisi lagi
sejak di Afrika Selatan pejoang-pejoang
anti-apartheid disekap berpuluh tahun
tanpa diadili.Aku tidak bisa menulis puisi lagi
sejak di Birma para pengunjuk rasa
bergelimpangan dibedili tentara
secara keji.Aku tidak bisa menulis puisi lagi
sejak di Jalur Gaza serdadu-serdadu Israel
mematahkan lengan anak-anak Palestina
yang melawan dengan batu.Keindahan punah dari bumi
ketika becak-becak dicemplungkan
ke laut karena bang becak melanggar
peraturan DKI
ketika rakyat berbondong-bondong
digusur dari kampung halamannya
yang akan disulap jadi real estate
dan pusat rekreasi
ketika petani dipaksa tanam tebu
buat pabrik-pabrik, sedang hasil
padi dan kedelai lebih mendatangkan
untung dari rugi
ketika truk-truk di jalan raya dicegat
penegak hukum yang langsung meminta pungli
ketika keluarga tetangga menangisi kematian
anaknya korban tabrak lari.Aku tidak bisa menulis puisi lagi
sejak keindahan punah dari bumi.
Kita tahu, puisi di atas sangat sederhana. Penggunaan repetisi Aku tidak bisa menulis puisi lagi yang diulang lima kali di luar judul seolah mengukuhkan kesederhanaannya. Di antara repetisi itu, terekam jelas senarai peristiwa tragis, mulai dari sejarah global sampai insiden di ranah domestik. Barangkali, Aku tidak bisa menulis puisi lagi dimaksudkan untuk menyatakan rasa prihatin yang mendalam terhadap beberapa peristiwa kelam itu.
Kita juga boleh membacanya dari kacamata lain, misalnya, ungkapan Aku tidak bisa menulis puisi lagi sengaja ditekankan untuk menunjukkan sikap anti-puisi, karena puisi dianggap tak bernilai apa-apa di hadapan masalah kemanusiaan. Kata-kata indah tak lagi diperlukan manakala krisis Hak Asasi Manusia sedang membutuhkan tindakan cepat. Pada taraf ini Subagio sejalan dengan rakyat yang miskin dalam “Mata Penyair”. Memang, diamati dari sudut mana pun, puisi ini lebih mengutamakan isi ketimbang bentuk. Kalaupun ada pemanfaatan asonansi a-i-u dan rima akhir i yang tertib, tetap saja tidak cukup membuat puisi ini menawan secara estetika. Efek dari asonansi dan rima akhir tersebut lebih kepada penebalan suasana, penajaman emosi, dan penguatan kesan.
Sekali lagi, puisi ini lebih mengutamakan isi ketimbang bentuk. Bisa dibilang sefrekuensi dengan puisi-puisi Wiji Thukul yang sarat kritik sosial, dengan prinsip bahwa semangat perlawanan harus disuarakan sejelas-jelasnya, sekeras-kerasnya, sementara estetika bahasa dikesampingkan. Walau tak sekeras dan setajam puisi protes Wiji Thukul, Subagio juga tengah “menyisihkan perhatian kepada segi ekspresi seninya untuk kepentingan semangat hidup dan ideologi pikirannya. Rupanya ada perasaan tidak sabar yang mendesak-desak untuk meledakkan semangat dan pikirannya keluar sehingga tidak ada waktu lagi untuk memperhatikan caranya menyatakan diri.”[4]
Afirmasi di atas ditulis dan ditujukan oleh Subagio terhadap puisi-puisi bertema perlawanan karya Taufiq Ismail dan penyair-penyair segenerasinya. Sebelum itu, Subagio menegaskan bahwa nilai perkembangan sastra tergantung dari kedua ukuran intelektualitas, yaitu perhatian pada filsafat dan seni. Ia pun mengakui, perhatian itu tidak selalu dapat seimbang. Dan kini, gara-gara puisi “Aku Tidak Bisa Menulis Puisi Lagi”, ia mesti rela mengunyah kritik pedasnya sendiri: “Jika telah sampai pada pengutamaan pikiran belaka, segi ekspresi tidak merupakan keharusan lagi, dan yang paling banyak kita capai hanya seni karikatur dari masyarakat dan manusia.”[5]
Akan tetapi, puisi jenis inilah yang didamba-dambakan pembaca fanatik sastra kita. Perhatian khusus akan problem-problem kemanusiaan yang tersemat—bahkan terungkap secara kentara—di baris-baris puisi adalah segala-galanya. Persetan apa itu kesegaran tema, gaya bahasa, inovasi artistik, dan sebagainya. Yang terpenting ialah kepedulian si penyair akan fenomena sosial melalui puisinya, lebih-lebih kepada prahara kehidupan yang cakupannya tak terbatas. Di samping itu, perubahan ke arah yang ideal sebagai pengaruh konkret dari puisi dapat dimungkinkan sejauh kepedulian tadi masih terus dilanggengkan, syukur-syukur bisa diimplementasikan sendiri oleh penyairnya.
Berdasarkan hasil pembacaan di atas, saya berasumsi bahwa “Mata Penyair”, “Jenderal Lu Shun”, dan “Aku Tidak Bisa Menulis Puisi Lagi” adalah puisi “segi tiga” yang mendedahkan hubungan antara penyair dengan puisi, puisi dengan pembaca, serta pembaca dengan penyair. Kita diberi sedikit bocoran mengenai bagaimana penyair berhadap-hadapan dengan teks puisinya di waktu dan situasi yang berbeda; bagaimana cara puisi menyapa pembaca dan cara pembaca menyikapi puisi; serta bagaimana penyair membayangkan pembaca puisinya dan bagaimana pula pembaca menilai penyair lewat puisi yang ditulisnya. Walau tak bersifat universal, setidaknya itulah pengalaman puitik Subagio—jika saya boleh menautkannya dengan metode ekspresif yang diberlakukan Subagio sendiri di dalam Sosok Pribadi dalam Sajak.
Bila hendak dikerucutkan, kiranya puisi “Jenderal Lu Shun” dan “Aku Tidak Bisa Menulis Puisi Lagi” merupakan jawaban atas puisi “Mata Penyair”, terlepas dari literatur tentang puisi mana di antara ketiganya yang terlebih dahulu lahir. Seperti yang telah saya paparkan, pada “Jenderal Lu Shun”, penyair lebih mengedepankan pemuasan jiwanya dengan menggumuli puisi. Di kala rasa cinta dan rindu sudah memuncak, tiada penawar mujarab selain harus segera ditumpahkan ke dalam puisi. Di situ ilham, cara mengungkapkan perasaan itu dengan bentuknya yang terbaik, menjadi sangat urgen dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Maka butalah si penyair akan segala hal. Seolah tidak peduli pada sesama manusia dan sisi-sisi kemanusiaan demi sederet imaji mooi indie, padahal sejatinya ia sebatas ingin mengatakan: seni (hanya) untuk seni.
Sedangkan puisi “Aku Tidak Bisa Menulis Puisi Lagi”memberi tanggapan berbeda. Ketika saudara kita, apa pun agamanya, sukunya, warna kulitnya, pandangan hidupnya, diperlakukan tidak adil oleh suatu golongan, atau mengalami ketimpangan lainnya yang beraneka rupa, maka sudah sepatutnya penyair tergerak hatinya untuk bersuara membela mereka. Kendatipun tak kuasa memosisikan diri di garda terdepan, paling tidak ia ikut andil menegakkan keadilan/kebenaran semampu yang ia bisa. Katakanlah melalui puisi-puisi perlawanannya. Dengan demikian, seni untuk masyarakat tidak akan pernah redup.
Di luar dualitas jawaban itu, “Mata Penyair” masih bersikeras membentangkan pertanyaan-pertanyaan lain di benak kita. Ibarat selembar teka-teki silang yang tiap kolomnya belum sepenuhnya terisi, ragam pemaknaan masih terbuka lebar. Terkadang, kolom-kolom yang sudah kita isi meminta kita mempertimbangkannya kembali. Lantas, bisa saja kita akan menghapus satu-dua atau beberapa isian itu lantaran tak selaras dengan temuan jawaban lain yang amat kita yakini, untuk kita isikan pada kolom kosong yang kebetulan bersilangan dengan kolom yang sudah terisi tadi.
Sejak awal, ketika menghadapi “Mata Penyair” untuk kesekian kalinya, saya merasa tidak perlu melakukan pembacaan dekat yang terlalu ketat atas puisi tersebut karena pemilihan katanya sungguh sederhana. Artinya, kekuatan puisi ini bukan terletak pada diksi-perdiksi, melainkan pada kebulatan amanat atau gagasan penyairnya yang dirahasiakan dengan cukup rapat dalam kalimat-kalimat surealis. Dan kalimat surealis itu, bukan tentang perkara kepelikan sintaksis yang memerlukan penguraian kata satu-persatu, karena hubungan antarkata pun berlaku sewajarnya. Kita hanya butuh kata kunci untuk menyingkap makna dari keseluruhannya. Sementara satu-satunya kata kunci yang ada, yakni mata, mengantarkan kita pada ruang-ruang hablur, yang sebentar-sebentar kita percayai dan kita ragukan sekaligus. Namun, kita patut curiga, jangan-jangan sayalah yang gagal melakukan pembacaan dekat atas puisi itu.
[1] Subagio Sastrowardoyo, “Bakat Alam dan Intelektualisme”, dikutip dari https://www.sastramedia.com/2020/09/bakat-alam-dan-intelektualisme-subagio.html
[2] Goenawan Mohamad, Di Sekitar Sajak (Jakarta: Tempo dan PT Grafiti, 2011), hal. 129.
[3] A. Teeuw, “Hari Penciptaan Putar-Balik”, dalam Tergantung pada Kata (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1980), hal. 71.
[4] Subagio Sastrowardoyo, “Bakat Alam dan Intelektualisme”, dikutip dari https://www.sastramedia.com/2020/09/bakat-alam-dan-intelektualisme-subagio.html
[5] Ibid.
Daviatul Umam
Daviatul Umam menulis puisi dan prosa. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah ini bergiat di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace. Kini bermukim di tanah kelahirannya, Sumenep, Madura.
Baca Biografi Selengkapnya →