Ritual Memanggil Hujan
April 17, 2025 · Zakiyyatul Fuadah
sungguh, aku seorang yatim piatu miskin yang kepalanya hanya terbuat dari tempurung kelapa, hasil karya para perjaka kampung. wajahku compang-camping sebab hanya kerudung bekas yang sering kupakai untuk menangkal dingin musim kemarau sejak berlangsungnya dan entah sampai kapan akhirannya.
sedang pada tubuhku hanya ada kain merah yang melilit, menutup lekuk seksi yang sekaligus akan dijamah tubuh ini sebagai tokoh utama dalam ritual orang kampung saat air dalam kulah-kulah mulai mengering, juga saat sungai-sungai dekat ladang lebih mirip jalan batuan rusak ketimbang segara selatan.
menjelang dini hari, seperti umumnya doa-doa: mantra dirapal seorang perempuan suci, mengikuti iring-iringan tembang yang disetel berulang kali sambil menggoyangkan pinggulku tanpa hitungan pasti, sudah berapa goyangan untuk malam ini.
sampai terasa kilatan petir menembus keremangan. gumpalan awan hitam berduyun datang, menumpahkan gerimis, mengabaikanku yang meringkih kesakitan, memecah riuh orang kampung, yang dalam hati mereka pandai memanah syukur.
genting-genting tak lagi kesepian: gemercik air bersahutan memintal angin, menjatuhkan sepoi musim hujan, hingga suara-suara terdengar renyah di udara. kemarau berhasil dibendung dan dipenjara sementara waktu untuk menghidupi sawah-sawah petani, menumbuhkan palawija, dan memangkal dahaga di kerongkongan manusia.
Banyumas, 2025
Catatan: Puisi di atas merupakan adaptasi dari Tradisi Cowongan di Banyumas yang masih dilestarikan hingga hari ini.
Zakiyyatul Fuadah lahir di Purworejo. Mahasiswi Sastra di Unsoed Purwokerto. Menulis puisi dan beberapa ulasan sastra di berbagai media cetak dan online. Saat ini bertempat tinggal di Yogyakarta sambil merampungkan buku puisi perdananya.
Baca Biografi Selengkapnya →