Seperti yang sudah-sudah, perjumpaan di Kedai JBS (Jual Buku Sastra) selalu melibatkan hamparan rerumputan, bising jangkrik, dan riuh kodok.
Warta Suku Sastra
Menyajikan kabar terbaru seputar sastra, seni, kebudayaan, informasi kompetisi, serta agenda komunitas sastra tanah air.
Seperti yang sudah-sudah, perjumpaan di Kedai JBS (Jual Buku Sastra) selalu melibatkan hamparan rerumputan, bising jangkrik, dan riuh kodok.
Dalam urusan sate, kita tahu tusukan itu penting. Tetapi, untuk menikmatinya, kita toh perlu membuang tusukan itu, dan sibuk menggigit daging lain dan mengunyahnya.
Saya langsung memposting story WhatsApp menggunakan aksara jawa: ꦧꦿꦺꦤ꧀ꦣ.
Sama seperti bazar buku, Musik Senja ini setiap hari ada. Maka terdapat sebelas senja yang sudah beriring musik di kawasan Grhatama Pustaka.
Panitia sedang berusaha mengulangi keindahan yang ada dalam dongeng nusantara, tetapi mencoba mewujudkan pengulagan itu melalui artefak budaya yang berbeda.
Seakan penyelenggara mengajak semua untuk bertanya, “Setelah sebelas hari, apa sebenarnya arti book fair-book fair ini?”
Bibir Joko Bodho dimonyongkan, dicat warna merah hingga dagu, dan tangannya bergerak ke atas dan ke bawah—seperti orang sedang ngamen membunyikan “icik-icik”.
Puisi mesti hadir sebagai pengalaman dan semua orang berhak mengalami puisi. Tak hanya orang-orang sastra seperti Anda.
abad ke-19 adalah tonggak setidaknya dalam sejarah seni rupa pribumi. Tersebutlah nama Raden Saleh (1811-1880)