Lewati ke konten

Peristiwa

Tidak Mengapa Diam, Asal Membaca

August 6, 2025

Kredit: FSY 2025.

Lin melihat pemuda gondrong itu sedang membaca buku Hemingway, A Farewell to Arms, sambil duduk-duduk dan merokok. Sesekali, pemuda gondrong itu berkeliling dan menawarkan perkamen kosong kepada pengunjung Festival Sastra Yogyakarta (Sabtu, 2/8/2025).

Termasuk kepada Lin yang sedang mencari lokasi orang-orang yang tengah melakukan silent reading. “Tulis puisi, dong,” kata pemuda gondrong itu, yang ternyata penjaga tenda Perpustra, sebelum lanjut mencari mangsa baru untuk ditodong menulis.

Astaga, tokoh kita ini malah harus berusaha mengingat kapan terakhir kali ia menulis puisi. Sejujurnya, ia berpikir juga hendak mengirimkan puisinya ke sayembara FSY 2025. Namun, ia telanjur membenamkan niatnya itu. “Ada masanya. Mungkin tahun depan,” pikir Lin menghibur diri.

LIn meletakkan kembali perkamen itu di konter Perpustra, lalu melihat-lihat. Ada blind book, buku-buku sastra, peralatan menulis dan melukis, cermin, tali gantung, dan tikar. “Nah, ini yang kumaksud,” gumam Lin sambil memegang buku Norwegian Wood karya Haruki Murakami.

Tenda Perpustra berada di paling ujung dan berdekatan dengan panggung teras Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan. Tenda itu bersebelahan dengan tenda @PuisiSeketika, yang sama-sama menjajakan puisi. Metode mereka juga mirip: cukup mengirim kata kunci, maka baris aksara—amat kilat—telah tersaji.

Sebagai komunitas kampus yang aktif di FIB UGM, Perpustra baru mengudara setahun, tepatnya sejak Maret 2024. Programnya ialah silent reading, lokakarya, dan gelar wicara. Lin tentu tahu karena ia merupakan mahasiswa di kampus itu. Jika masuk ke Fakultas Ilmu Budaya, kau akan melihat kontainer kuning yang mencolok mata, tetapi kelihatan asyik, sebab ada jejak ilustrasi Wulang Sunu. Itulah Perpustra!

Lin mendapati beberapa orang yang sedang membaca senyap atau silent reading di tepi embung, tepatnya di area yang diapit dua patung ikonik di taman budaya itu. Mereka tidak hanya dari Perpustra, tetapi juga dari komunitas Baca Bareng Jogja dan Sastra Tukar Akar. Itu info yang Lin dengar dari si pemuda gondrong yang tak henti-hentinya membujuk Lin untuk menggurat puisi.

Para anggota dari ketiga komunitas tersebut nampak khusyuk melingkar dengan buku masing-masing. Agak ragu tokoh kita hendak bergabung. Ia hanya mengintip dari jauh dan membakar rokok untuk mengurangi gugup. Ia takut mengganggu karena yang namanya membaca tentu butuh fokus.

Namun, tokoh kita melawan rasa segannya. Ia duduk, lalu memecah perhatian lingkaran. “Permisi, sori ganggu. Ada yang bisa kutanya-tanya soal kegiatan ini?”

Dua laki-laki, Adit dan Kei, angkat tangan dan nantinya akan kita dengarkan soal komunitas mereka.

Rupanya yang diundang oleh Palmerah adalah Perpustra, lalu berantai ke Baca Bareng Jogja dan Sastra Tukar Akar. Dua komunitas ini juga seusia dengan Perpustra. Masih kinyis-kinyis. Jika diibaratkan bayi, mereka baru belajar merangkak. Basis mereka berbeda, tetapi disatukan oleh kegemaran terhadap buku dan literasi. Sering pula mereka bertukar agenda dan saling mengisi program satu sama lain.

Baca Bareng Jogja, misalnya, pernah ikut kegiatan Perpustra di FIB dan Taman Kebijaksanaan (Wisdom Park). Mereka sering ngetem di ruang publik yang mudah diakses dan tidak berbayar. “Misalnya di kafe dan dikasih diskon gitu. ‘Kan tetap bayar, ya,” jelas Adit, ketua Baca Bareng Jogja. Selain itu, mereka mempertimbangkan kemudahan transportasi. Setidaknya, tempat yang dilewati oleh Trans Jogja.

Beda halnya dengan Komunitas Sastra Tukar Akar yang kegiatannya lebih sering berbentuk panggung terbuka pembacaan puisi. Mereka saat ini berkolaborasi dengan Warung Sastra setiap bulannya untuk mengadakan Malam Puisi.

Baik Baca Bareng Jogja maupun Komunitas Sastra Akar memiliki motivasi yang sama. Mereka amat terbuka dengan segala kalangan dan usia.

“Kami juga mewadahi orang-orang berkebutuhan khusus atau difabel,” papar Kei yang menginisiasi teman-temannya untuk mengikuti kegiatan silent reading di FSY. Ia melanjutkan, “Ada juga yang berumur 64 tahun, kami memanggilnya kakek.

Kegiatan semacam silent reading ini sebenarnya telah banyak dilakukan di berbagai negara dan kota, termasuk di Indonesia.

“Awal kemunculan gerakannya itu di London. Namanya Silent Reading Book Club. Orang-orang tinggal duduk membaca, lalu pulang. Sesimpel itu. Semacam open community,” ucap Adit yang tak malu mengakui dirinya sebagai introvert, tetapi tetap ingin berkumpul.

Lin merasa mulai paham dengan semangat dari gerakan ini. Bagus: diam, tetapi membaca. Ia menengok ke tahun-tahun belakang saat ia merasa kesepian ketika membaca. Ah, tak enaklah bagi tokoh kita ini jika mengingat obsesinya ketika awal-awal membaca. Dulu ia membaca karena bosan menjadi bodoh, tetapi lupa menikmati proses membaca.

Cara yang pernah ditempuhnya itu agak menyakitkan. Masih sedikit kawan yang bisa diajaknya berbincang tentang buku. Sekalipun ada yang bisa diajak, tentu apa yang dibacanya belumlah sebanyak kawannya. Maka, pada hari-hari yang suram itu Lin mengurung diri tak ubahnya petapa. Membaca, Membaca, dan Membaca.

“Tujuannya untuk membentuk kebiasaan membaca. Istilahnya sebagai tahapan pertama. ‘Kan banyak di Jogja ingin ikut komunitas seperti ini,” tutup Adit.

Selepas tokoh kita melaku wicara singkat dengan Adit dan Kei, ia pamit undur diri, tetapi masih mengamati. Rangkaian silent reading cukup simpel: duduk, perkenalan, membaca, lalu pulang. Bahkan tanpa perkenalan pun bisa langsung duduk dan membaca. Kadang-kadang di akhir kegiatan sebelum swafoto terdapat kuis. Kegiatan ini, ternyata, tidak segaring yang dipikirkan tokoh kita, kendati ia masih mempertanyakan: mengapa ada orang yang ingin suasana berkumpul tanpa interaksi, tetapi membaca?

Kata kuncinya itu tadi: membaca. Mau sendiri atau ramai, tetap membaca. Mau tak mau, pikiran Lin tertambat dengan omongan dosennya, “Mumpung masih marjinal, bacalah! Baca sembarang, apa pun. Setidaknya dengan membaca bisa menyelamatkan diri sendiri.”Tokoh kita meninggalkan lingkaran itu dan pelan-pelan langkahnya mendekati tenda Perpustra. Ia mengambil perkamen yang dilepasnya tadi dan mulai menulis puisi. Sialan, kok puisiku masih jelek, ya?***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.