Lewati ke konten

Peristiwa

Ketika Sastra Menyulam Ingatan Lewat Langkah

August 4, 2025

Tiba Bersua di Kota Gede (Minggu, 3/8/2025) dalam rangka Festival Sastra Yogyakarta.

Saya teringat kembali sebuah kalimat dari seorang peserta FGD beberapa waktu lalu. Ia berkata, Ada anggapan bahwa karya yang lahir dari ketulusan tak perlu dijual. Kalimat itu seperti serpihan dari masa lalu dunia sastra yang begitu romantik, nyaris utopis. Tapi, ia pun menyadari, dalam diamnya, bahwa romantisme semacam itu bisa berubah menjadi bumerang. Kita tahu: hidup memerlukan biaya, dan karya perlu ruang untuk bernapas.

“Padahal, sekarang sastra baru bisa hidup kalau ia bersedia berjalan ke luar pagar,” tambahnya. Lintas bidang. Lintas dunia. Mungkin juga, lintas kenyataan.

Kolaborasi semacam inilah yang menghidupkan ruang-ruang baru. Seperti pertemuan antara Festival Sastra Yogyakarta dan Palmerah Yuk!—yang tak hanya ingin membincangkan sastra, tapi juga mengajak tubuh untuk bergerak bersama pikiran.

Pada Minggu pagi, 3 Agustus 2025, keduanya menyusun langkah bersama Bersukaria Walk Tour, menyusuri Kota Gede dalam program bertajuk Tiba Bersua. Sebuah perjalanan yang melibatkan sejarah, fiksi, dan algoritma konten.

Titik kumpulnya di Embung Giwangan. Matahari belum begitu tinggi saat kami tiba. Salah satu peserta bercerita pada saya bahwa tahun lalu ia mengikuti rute yang sama. “Kami sempat melewati Rumah Pocong Sumi,” katanya.

Saya tersenyum kecil. Rumah itu, yang katanya angker, sejatinya adalah Omah Indische. Rumah peninggalan kolonial, dibangun pada 1860. Dahulu milik keluarga Atmo Sudigo, kemudian dihuni oleh Mohammad Rasjidi, Menteri Agama pertama Indonesia. Kini rumah itu kosong. Ditinggalkan sejak 1946, dibiarkan tumbuh semak dan cerita tentang hantu bernama Sumi.

“Kalau historical fiction masih masuk akal. Tapi, fantasi, kok rasanya seperti dunia yang menolak logika,” ujar seorang peserta lainnya. 

Tidak, peserta itu tentu tidak mendengar pikiran saya tentang Rumah Sumi. Justru sayalah yang diam-diam mencuri dengar percakapannya dengan seorang peserta lainnya. Saya kira mereka berkuliah di universitas yang sama, barangkali dari jurusan yang tak terlalu jauh dari dunia kata.

Percakapan mereka itu tentang selera fiksi, tentang kecenderungan membaca yang, bagi saya, terasa seperti membuka pintu ke rumah orang lain tanpa izin. Tapi, bukankah begitu cara kita memahami dunia? Dengan menguping sedikit, menebak sisanya, lalu menyulam makna dari yang tak pernah kita alami sepenuhnya.

Percakapan mereka terputus saat panitia meminta registrasi ulang. Peserta dibagi dua rombongan, masing-masing 25 orang. Sebelum tur dimulai, semua peserta diminta memperkenalkan diri dan menyebutkan penulis fiksi favorit. Saya mencatat nama-nama yang disebut. Okky Madasari. JS Khairen. Kuntowijoyo. Pramoedya. Reda Gaudiamo. Fiersa. Andrea Hirata. Dea Anugerah. Ika Natasha. Seno. Eka Kurniawan. Risa Saraswati. Raditya Dika.

Nama Dee Lestari, Leila Chudori, Nawal El Sadawi, George Orwell, dan Tere Liye muncul lebih dari sekali. Nama-nama itu seperti gugus bintang yang, boleh jadi, memandu arah minat pembaca hari ini—berkelindan antara aktivisme, romansa, dan ketegangan dalam negeri.

Pukul tujuh pagi, saya mulai berjalan bersama salah satu rombongan. Lima menit pertama membawa kami ke SDN Giwangan. “Sekolah ini berbasis budaya,” ujar pemandu. Saya mengangguk.

Lalu, pemandu menjelaskan bahwa kelak rombongan akan melanjutkan langkah ke Masjid Perak Kota Gede, lalu Ndalem Sopingen, Kompleks Masjid Gede Mataram, dan Sendang Seliran. Di sela-sela perjalanan itu, saya bercakap dengan sang pemandu. Katanya, ia pertama kali membaca Ronggeng Dukuh Paruk saat SMP. Ia diberi temannya. Tapi, sebenarnya ia lebih suka teenlit. “Dulu saya bacanya Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK), tapi ceritanya suka gak masuk akal,” katanya terkekeh. “Masak anak SD uang jajannya 10 juta?”

Tak terasa langkah-langkah kecil membawa saya dan rombongan ke Toko Buku Natan. Menurut pemandu tur, toko buku ini menjual buku-buku yang tak mudah ditemukan di toko besar: sejarah, filsafat, seni rupa, politik, budaya, hingga fiksi dan komik. Tapi, lebih dari sekadar katalog buku, tempat ini menyimpan semacam hasrat yang tak lekang oleh musim. Buku-buku bertopik budaya Jawa, konon, berjejer dengan tenang di rak kayu, seolah menanti dibaca oleh generasi yang kian menjauh dari tanahnya sendiri.

Toko Buku Natan berada di sudut rumah cagar budaya bernama Ndalem Natan Royal Heritage. Bangunan ini didirikan pada 1857, dan dulunya adalah rumah seorang saudagar kaya. Ketika saya menjejakkan kaki ke pelataran, suasana segera berubah: pilar-pilar besar berdiri tegak seperti penjaga waktu, lampu gantung menggantung anggun dari langit-langit tinggi, dan terasnya—yang dipenuhi ukiran—menyambut kami seperti lembar pembuka dari sebuah novel klasik.

Arsitektur bangunannya adalah pertemuan dua dunia: gaya Art Nouveau dari Eropa bersanding dengan ornamen Islam khas budaya Jawa. Tak ada yang tampak saling mengalahkan. Keduanya menyatu dalam harmoni yang anehnya terasa sangat Indonesia. Mungkin karena di negeri ini segala yang kontradiktif selalu punya ruang untuk hidup berdampingan—entah itu agama dan takhayul, mitos dan sejarah, Barat dan Timur, logika dan rasa.

Konon, karena kekhasannya itu pula, bangunan ini dijadikan lokasi syuting film Nyai karya Garin Nugroho—sebuah drama indie yang menyulam kisah dari lima novel berbeda: Nyai Isah (1904) karya F. Wiggers, Seitang Koening (1906) karya Tirto Adhi Soerjo, Boenga Roos dari Tjikembang (1927) karya Kwee Tek Hoay, Nyai Dasima (1960) karya S.M. Ardan, dan tentu saja Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya Ananta Toer. Tokoh utama, Nyai, dalam film itu diperankan oleh Anisa Hertami yang akan tampil di panggung penutupan FSY 2025.

Ketika kepala saya sibuk merajut informasi tentang Nyai itu, tiba-tiba pemaparan pemandu sudah tertuju pada seseorang yang tidak saya kenal secara dekat, tapi namanya selalu muncul dalam percakapan tentang Ndalem Natan: Dr. Nasir Tamara. Barangkali karena kecintaannya pada sastra, sejarah, dan budaya Jawa, ia membeli dan menghidupkan kembali bangunan ini. Tindakan itu mungkin bukan sekadar investasi dalam bentuk properti, tapi juga dalam ingatan kolektif. Sebab, tempat seperti ini bukan hanya tempat menjual buku, melainkan juga tempat melestarikan wacana.

Dulu, saya sempat menjadi bagian dari sebuah forum penulis bernama Satupena Muda. Pada 2019, forum itu diresmikan di Ndalem Natan. Saya ingat, kami sempat bergabung dalam sebuah grup WhatsApp—dipenuhi diskusi, pengumuman lomba, dan percakapan remeh yang membuat saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Kini, grup itu senyap. Saya tidak pernah lagi melihat notifikasinya. 

Entah apakah yang lain sudah meninggalkannya, atau justru saya yang pelan-pelan menjauh dari segala hal yang dulu saya kira akan saya perjuangkan selamanya. Barangkali memang begitu cara hidup bekerja: ia tak selalu menunggu perpisahan diumumkan, tak pernah memerlukan pengakuan atas perubahan yang pelan tapi pasti menggerus keyakinan. Kita tak sadar kapan tepatnya berhenti membaca buku yang dulu kita bela-belakan antre saat peluncuran, atau kapan mulai merasa jemu berdiskusi di forum yang dulunya begitu hangat. Tapi, jejaknya tetap ada—dalam ingatan, dalam ruangan, dalam bangunan tua yang pernah kita injak bersama.

Dan meski langkah-langkah telah menjauh, kadang ada sesuatu yang menarik kita kembali. Bukan untuk mengulang, tetapi untuk mengingat bahwa pernah ada masa ketika kita begitu percaya pada kata-kata, pada ruang bersama, pada kemungkinan membangun dunia lewat cerita. Jika pun kini saya berdiri sebagai pengamat, bukan lagi pelaku yang menyala-nyala. Saya harap itu bukan karena lelah, melainkan karena belajar untuk mendengar lebih pelan, berjalan lebih lambat, dan memberi ruang bagi versi lain dari perjuangan yang tak selalu riuh.***

Catatan redaksi: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Palmerah, Yuk!, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Festival Sastra Yogyakarta 2025, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.