Lewati ke konten

Episode Panen Raya

April 17, 2025 · Zakiyyatul Fuadah

Episode Panen Raya

hanya matahari yang perlakuannya masih sama seperti sejak pertama aku lahir dan tumbuh dalam dunia sawah ini. setia memberiku napas, menyeka tiap-tiap gigil yang menetas ketika tubuh pelan-pelan mulai linu sebab pukulan angin musim kemarau menampar keras pipi, menyadarkanku bahwa segala yang benama kehidupan akan berakhir, fana, dan terlupakan.

semula aku berpikir, orang-orang menenteng kembang mawar juga jernih air yang ditimba dari beberapa sumur kahuripan ialah prosesi untuk mengucap terima kasih atas ketabahanku dalam menyelamatkan nyawa-nyawa yang hampir mati kelaparan. akan tetapi, pikiranku semacam resital kesialan bagi nyawaku sendiri.

ajal segera datang menjemput, mengetuk pintu-pintu baka yang aku pun belum pernah mengeja: apakah neraka atau surga?

telah kupasrahkan hidup matiku tepat ketika seorang sepuh kyai menyiapkan parang-parangnya untuk menebas habis leherku yang renta dan bengkok dimakan usia.

gemertak gigiku patah-patah menelan habis ketakutan yang timbul dari sunggingan senyum wanita, istri-istri para petani dusun ini. sejak pagi, mereka bangun lebih dulu dari suami dan anak-anaknya untuk mencuci beras, menanak nasi, membeli uborampe, dan sesaji di pasar pagi. menatanya bersamaan dengan dupa-dupa dan kemenyan yang akan disulut ketika menjelang matahari terbit dari balik bukit.

pendar cahaya mulai memancar ke arah pundakku, menyapu bersih sisa energi yang masih mengendap dalam lambung. ususku sebentar lagi retak menumpahkan segala harapan bagi manusia untuk terus hidup melanjutkan cita-cita tanpa meragukan lagi urusan perut yang melilit kelaparan.

sementara sumringah orang-orang mengantarku pada lumbung terakhir. menyerahkan potongan leherku pada karung-karung yang akan dibawa truk-truk besar menuju penggilingan padi, melindas kaki dan tanganku, mencabik kulit, mencabut seribu helai rambut, menyisakan nisan-nisan tanpa nama di persawahan.

Purworejo, 2025

Catatan: Puisi di atas merupakan adaptasi dari salah satu tradisi di Purworejo, yakni tradisi Wiwitan yang eksistensinya masih bertahan sampai hari ini.

Z
Tentang Penulis

Zakiyyatul Fuadah

Lahir: Purworejo, -

Zakiyyatul Fuadah lahir di Purworejo. Mahasiswi Sastra di Unsoed Purwokerto. Menulis puisi dan beberapa ulasan sastra di berbagai media cetak dan online. Saat ini bertempat tinggal di Yogyakarta sambil merampungkan buku puisi perdananya.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.