Buat Anakku
April 17, 2025 · Zakiyyatul Fuadah
rintik hujan semacam nyanyian lembut yang tuhan kirim sebagai penawar tangismu. dalam gendonganku, nak, matamu mengendur dan tertidur. suasana baru menyergapku tatkala bau minyak telon menyembur dari kulitmu. keteduhan dialamatkan padaku sebagai tanda, kelahiranmu adalah stasiun bagi berangkatnya cinta dan rinduku.
sementara di samping ibu, bapakmu menyusun masa depan keluarga dengan senyuman. rokok diabaikannya mati dalam kotak asbak sambil menulis puisi-puisi tentang kebahagiaan.
dengarlah, dunia seisinya dan nasib adalah rahasia waktu yang tak seorang pun tahu. demikian jalan yang kau tempuh nanti bagai hutan-hutan tersembunyi yang tak pasti. aku berharap, bulan melepas cahayanya ke arahmu. dengan doa sempurna, segala yang bernama takdir aku biarkan bermegah-megahan di setiap jalanmu.
sepanjang debar, sepanjang tarikan napas, ingatlah aku, ibumu yang tak pernah usai merentang sajadah di lantai keramik licin. menggabungkan doa demi doa untuk kesehatan dan keselamatanmu. sebab badai mengintaimu. kapan pun, di mana pun, dengan waktunya yang tak masuk akal. namun, kau tak perlu takut, nak, tangan tuhan selalu menjelma dengan wujud luar biasa sebagai pelindungmu.
berangkatlah dengan kemurnian yang kau miliki. ada banyak sedih dan bahagia yang mesti kau titi. setelah ini, usiamu secepat lintasan kereta api. beranjak dari bayi menuju remaja, lalu dewasa. di sanalah baktimu sebagai anak tak akan lebih luas dari laut mana pun, dari daratan mana pun. tapi, tetap ingatlah aku, ibumu yang tak pernah usai merentang sajadah di lantai keramik licin, menggabungkan doa demi doa untuk kesehatan dan keselamatanmu.
Yogyakarta, 2025
Zakiyyatul Fuadah lahir di Purworejo. Mahasiswi Sastra di Unsoed Purwokerto. Menulis puisi dan beberapa ulasan sastra di berbagai media cetak dan online. Saat ini bertempat tinggal di Yogyakarta sambil merampungkan buku puisi perdananya.
Baca Biografi Selengkapnya →