Reviu Buku (Novel)
Serumit Mendung, Serindu Udan
Serumit Mendung, Serindu Udan
Barangkali demikian rindu, menghadirkan kenangan melalui bayangan
Tetapi, waktu dan jarak memberi ‘ruang’ pada rasa dan logika untuk bertanya tentang hidup, diri, cinta, dan impian. Berpisah membuat diri merindukan pertemuan. Jarak memberi diri momen untuk memaknai Kembali arti diri dan rasa. Serumit itulah kisah cinta mereka. Kerumitan yang membawa mereka pada doa-doa dan harapan. Kerumitan yang membuat mereka berlari pada perubahan dan memberi makna baru yang begitu jujur dan tulus.
Mendung dan Udan, menurutku adalah kerinduan pada kesederhanaan rasa yang (mungkin) sering terlupa karena terlalu seringnya (aku) melihat kehidupan secara artificial.
Membaca novel Mendung Tanpo Udan dengan iringan suara merdu Kukuh sudah sangat cukup membawa anganku pada nuansa ‘santai’ nya kota Jogja dan ‘sibuknya’ kota Jakarta. Bahkan, tanpa soto ayam dan nasi kucing kesukaan pun, kisah ini membuatku semakin rindu pada Jogja, ketulusan persahabatan, hangatnya pelukan ibu, dan cinta yang ter/dilupakan.
Mendung dan Udan itu rumit, tetapi hidup itu sederhana, rindu itu ada, dan cinta itu nyata.