Lewati ke konten

Reviu Buku (Kumpulan Puisi)

Belajar Etnografi Batak dari Puisi Lapangan

Belajar Etnografi Batak dari Puisi Lapangan

Tarombo karya Roy Simamora

SUKUSASTRA – Pada tanggal 14 Maret 2025, saya menghadiri sebuah diskusi buku puisi yang cukup istimewa. Diskusi ini membahas dua buku puisi terbaru, salah satunya adalah karya Roy Martin Simamora, dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Buku tersebut berjudul Tarombo, sebuah istilah dalam bahasa Batak yang berarti silsilah keluarga. Simamora memposisikan tarombo bukan sekadar daftar nama leluhur, melainkan sebagai akar yang menumbuhkan dan menopang kebudayaan Batak hingga hari ini.

Dalam diskusi itu, Simamora menekankan bahwa memahami Tarombo adalah memahami siapa kita dan dari mana kita berasal, khususnya sebagai bagian dari masyarakat Batak. Melalui buku Tarombo (2025), ia menyisipkan banyak kata dan istilah khas Batak yang tidak selalu mudah dimengerti oleh pembaca awam. Meski demikian, Simamora menyiasati hal ini dengan menambahkan catatan kaki di setiap halaman puisinya. Catatan kaki tersebut sangat membantu pembaca untuk memahami konteks budaya dan makna dari istilah-istilah yang digunakan.

Ketertarikan saya terhadap buku ini salah satunya dipicu oleh keunikan format tersebut—jarang ada penyair yang menyusun puisinya begitu informatif, layaknya sebuah karya etnografi yang terbuka untuk dimengerti oleh banyak kalangan. Keputusan Simamora menyertakan catatan kaki bukan hanya agar puisinya lebih mudah dipahami, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab kultural: membuat budaya Batak dapat diakses oleh siapa pun, termasuk oleh sesama orang Batak yang mungkin sudah jauh dari akar budayanya.

Hal ini juga tergambar dalam cerita dari salah satu moderator diskusi, yang juga keturunan Batak namun besar di lingkungan perkotaan Jawa. Ia mengaku sering kali merasa terasing dari budaya leluhurnya sendiri, bahkan mendapat perundungan saat pulang kampung karena dianggap tidak memahami silsilah keluarganya. “Saya pernah dibilang begini, gimana kau orang Batak nggak tau, bodo kali kau”, ujar moderator di tengah diskusi. Pengalaman seperti ini menjadi alasan kuat bagi Simamora untuk menerbitkan Tarombo—sebagai ruang pendidikan budaya sekaligus pengingat bagi dirinya sendiri akan tanah kelahirannya di Sumatera Utara.

Simamora bercerita bahwa sebelum menulis buku puisinya, ia sempat kembali ke kampung halaman di Parlilitan dan berkeliling ke wilayah Samosir. Di sana, ia melakukan riset lapangan secara langsung dengan mendengarkan kisah warga dan kerabat yang tinggal di sana. Proses ini menyerupai metode dalam antropologi, khususnya etnografi, di mana peneliti mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara mendalam.

Namun, berbeda dari kebanyakan antropolog yang menulis laporan hasil riset dalam bentuk akademik, Simamora memilih puisi sebagai bentuk ekspresinya. Ketika saya menanyakan alasannya, ia menjawab bahwa puisi mampu memunculkan emosi dan makna dengan cara yang lebih personal dan mendalam. Banyak puisinya diberi judul menggunakan bahasa Batak-Toba seperti Huta, Mangala Bulan, dan Sianjur Mula-Mula, menunjukkan keterikatannya yang kuat dengan bahasa ibu.

Tradisi antropologi sendiri sebenarnya memiliki ruang untuk pendekatan seperti ini, yang dikenal dengan istilah field poetry atau puisi lapangan. Pendekatan ini muncul dari dua jalur utama: pertama, dari para antropolog yang juga merupakan penyair dan mengekspresikan pengamatannya dalam bentuk puisi; kedua, dari peneliti yang ingin menyampaikan pengalaman lapangannya secara lebih puitis dan imajinatif. Salah satu tokoh penting dalam pendekatan ini adalah Toni Flores.

Dalam Field Poetry (1982), Toni Flores menulis bahwa puisi tidak bisa didefinisikan kecuali melalui praktik penulisannya. Ia menyebut puisi sebagai bentuk sensualitas pikiran—proses mentransformasikan sensasi fisik dan pengalaman menjadi pemahaman batin tanpa melalui penyaringan abstraksi. Penjelasan ini memberikan kerangka pemahaman terhadap karya Simamora, yang menggunakan puisi untuk merekam pengalaman lapangan secara lebih hidup dan emosional.

Menulis puisi dari hasil pengamatan budaya tentu bukan perkara mudah. Diperlukan kepekaan terhadap pengalaman dan konteks sosial yang tidak boleh kehilangan nuansa aslinya. Dalam konteks ini, puisi menjadi semacam jembatan antara dunia ilmiah dan pengalaman personal. Hal serupa dilakukan oleh Leah Zani dalam bukunya Bomb Children: Life in the Former Battlefields of Laos (2019), yang mengangkat kehidupan masyarakat pascaperang di Laos dalam bentuk puisi.

Zani menekankan bahwa puisi bisa menjadi alat untuk memperjuangkan bentuk pengetahuan yang lebih adil dan partisipatif. Ia menyebut puisi sebagai sarana dekolonisasi pengetahuan, karena memungkinkan kita menuliskan kehidupan masyarakat lokal dari sudut pandang mereka sendiri. Dengan demikian, puisi lapangan tidak hanya menghadirkan data, tetapi juga memperkaya cara kita memahami realitas sosial secara lebih inklusif dan manusiawi.

Implikasinya cukup besar bagi dunia ilmu pengetahuan. Jika selama ini penelitian ilmiah cenderung terasa kaku dan berjarak, maka dengan puisi lapangan, data dan pengalaman bisa disampaikan secara lebih hangat dan membumi. Pembaca dari berbagai latar belakang pun bisa lebih mudah memahami konteks budaya yang diangkat. Inilah yang coba ditawarkan oleh Simamora: puisi sebagai medium yang menjembatani antara pengalaman pribadi, identitas budaya, dan pengetahuan ilmiah.

Salah satu contoh puisinya yang sangat menggugah saya adalah Ulos Saput (hal. 59) yang menggambarkan momen transisi antara hidup dan mati dalam masyarakat Batak. Ulos saput adalah kain tenun tradisional yang disematkan pada jenazah sebelum dikuburkan. Puisi ini menyampaikan perasaan, simbolisme, dan makna spiritual dari kain tersebut dalam tiga bagian puitis yang menyentuh. Puisinya berbunyi sebagai berikut:

(1)

sore yang muram, ia langkahkan kakinya

tuju alam abadi

di batas antara hidup dan mati

ia raih ulos saput, pakaian sakral para leluhur

dalam detik terakhirnya, dalam kehidupan fana itu

ia lepaskan jalinan dengan dunia tak kekal

hatinya yang dulu pernah lelah merantau

yang kini telah temukan ketenangan sejati

(2)

ulos saput, hamparan warna nan lembut

kelilingi tubuhnya yang ringkih

dalam dekapan cinta kain, kain dari para leluhur

yang akhirnya terkulai dalam pelukan bumi

seiring angin berbisik lembut, ia kemudian melangkah pelan

ke alam tak terlihat nun jauh di sana

dan ia bersatu dengan cahaya kekal

jadi bagian keabadian yang tak terhingga

(3)

saat ia pergi tinggalkan dunia ini, ia kenakan ulos saput

kain keagungan itu

bersisian di antara bintang-bintang bersinar terang

ia kini bahagia, bahagia yang tak terdefinisi

ia terlahir kembali dalam dunia berbeda

dikejar impian-impian yang tak terbatas

dalam cinta abadi ia bersinar

jiwanya kini bebas dan tak terikat lagi

(Parlilitan, 2023)

 

Lewat puisi tersebut, kita bisa memahami bahwa ulos tidak hanya hadir dalam perayaan kelahiran atau pernikahan, tetapi juga dalam kematian. Ulos diberikan kepada jenazah oleh saudara laki-laki dari pihak ibu sebagai bentuk penghormatan terakhir. Tradisi ini memperlihatkan bahwa dalam budaya Batak, manusia tidak pernah benar-benar sendiri, bahkan saat menghadapi kematian. Mereka senantiasa dibungkus cinta leluhur yang diwariskan dalam sehelai kain.

Dari membaca puisi pun, kita dapat secara langsung belajar kebudayaan Batak. Akhirnya, Tarombo bukan hanya sekumpulan puisi yang memotret kebudayaan Batak. Ia adalah ruang ingatan, ruang refleksi, dan ruang pendidikan yang menyampaikan nilai-nilai kekerabatan, spiritualitas, dan identitas lokal. Karya Simamora menyadarkan saya bahwa batas antara ilmu pengetahuan dan seni bisa menjadi cair, bahkan saling melengkapi dalam menyampaikan kebenaran. Apa yang dilakukan Simamora membangkitkan pertanyaan klasik yang dikemukakan oleh Eric Wolf dalam bukunya Anthropology (1964), bahwa antropologi adalah “the most scientific of the humanities, the most humanist of the sciences” (yang paling ilmiah di antara humaniora, dan paling humanis di antara ilmu-ilmu sains). Maka, puisi lapangan seperti karya Simamora tidak hanya penting sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai kontribusi terhadap cara kita memandang ilmu, kebudayaan, dan kemanusiaan itu sendiri.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.