Dongeng Anonim : Ada Gagak di Ladang Jagung
September 16, 2026 · Anonim
Sukusastra-Suatu hari, seorang petani tinggal bersama istrinya di daerah Georgia. Pada Sabtu malam, mereka berdua menggelar pesta yang sangat meriah. Mereka merayakan pesta itu hingga larut malam bersama kerabat.
Akibat pesta yang larut, suami istri itu tidur sangat terlambat. Keesokan harinya, matahari sudah bersinar sangat tinggi di langit luas. Namun, pasangan suami istri itu belum juga terbangun dari tempat tidur.
Mereka berdua masih tertidur dengan sangat nyenyak sampai siang hari. Sementara itu, sekelompok burung gagak mulai berkumpul di pohon besar. Pohon besar tersebut tumbuh tepat di dekat ladang jagung petani.
Kawanan burung gagak langsung mengamati keadaan di sekeliling rumah petani. Mereka akhirnya yakin bahwa sang pemilik ladang masih tidur dengan pulas. Burung-burung itu pun memutuskan untuk bersenang-senang di sana.
Sekarang giliran burung gagak yang berpesta di ladang jagung. Mereka terbang turun dan memakan tanaman jagung milik petani yang subur. Suara serak burung-burung itu mulai terdengar sangat bising sekali.
“Kwaaaak… kwaaaak…” bunyi suara burung gagak saling bersahutan di udara. Suara gaduh tersebut sungguh mengganggu suasana pagi yang tenang di desa. Namun, petani dan istrinya tetap tidak mendengar suara bising tersebut.
Ayam Jago yang sedang tidur di kandang segera terbangun dari tidurnya. Ia melihat burung gagak sedang merusak tanaman jagung milik majikannya. Ayam Jago menjadi sangat panik melihat kekacauan di ladang itu.
Ia segera berkokok dengan sangat nyaring untuk membangunkan sang petani. “Kukuruyukkkkk, bangun, bangun, bangun!” teriak Ayam Jago dengan sekuat tenaga. Ia berharap majikannya segera keluar dari dalam rumah mereka.
Sayangnya, tetap tidak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah. Pesta pora burung gagak di ladang jagung pun terus berlanjut. Mereka terlihat sangat senang bisa makan jagung gratis yang manis.
“Ayo, kawan-kawan, makanlah selagi kalian mampu,” teriak pemimpin burung gagak. Ucapan pemimpin gagak itu membuat teman-temannya semakin bersemangat merusak ladang. Mereka tidak takut lagi dengan ancaman yang ada di sekitar.
“Ada gagak di ladang jagung. Ada gagak di ladang jagung!” teriak Ayam Jago berulang kali. Namun, usaha keras burung jago itu tampaknya masih sia-sia saja. Dari dalam rumah, hanya terdengar suara dengkuran petani yang keras.
Mendengar teriakan Ayam Jago, seekor kalkun tua berjalan mendekatinya dengan pelan. “Rasanya sia-sia saja dari tadi kamu berteriak begitu,” kata Kalkun Tua. “Majikan kita tidak kunjung bangun dari tidurnya yang pulas,” lanjutnya lagi.
Kalkun Tua menunjuk ke arah ladang jagung dengan wajah sedih. “Sementara itu, jagung di ladang sudah habis dimakan burung gagak,” ucapnya. Ayam Jago hanya bisa menghela napas mendengar perkataan temannya itu.
Ketika matahari semakin terik, petani mulai membuka kedua matanya dengan perlahan. Ia sayup-sayup mendengar sisa suara bising dari pesta burung gagak. Petani itu langsung terkejut dan segera berlari menuju ke ladang.
Petani seketika langsung memegang kepalanya dengan perasaan yang sangat sedih. Ia sangat menyesali tidurnya yang terlalu pulas pada siang hari itu. Ladang jagung miliknya kini telah rusak parah dan gundul.
Ia lalu berteriak memanggil istrinya dengan suara yang sangat kencang. “Georgia… Georgia… Ada gagak di ladang jagung!” seru petani itu berulang-ulang. Kejadian itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi sang petani.
Konon, begitulah awal mula nama kota Georgia yang indah terbentuk. Nama kota tersebut memiliki arti sudah waktunya bagi kita semua untuk bangun. Kita tidak boleh bermalas-malas agar tidak mengalami kerugian yang besar.
Kelalaian dan sifat malas hanya akan mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. Kita harus bisa mengatur waktu dengan bijak antara waktu bersenang-senang dan tanggung jawab pekerjaan. Jangan sampai kesempatan berharga hilang karena kita terlambat bertindak. Kedisiplinan adalah kunci utama untuk menjaga apa yang kita miliki agar tetap aman dan mendatangkan berkah.