Lewati ke konten

Dongeng Hans Christian Andersen : Baju Baru Sang Raja

August 22, 2026 · Hans Christian Andersen

Sukusastra-Dahulu kala, ada seorang raja yang sangat suka bersolek. Ia gemar mengoleksi pakaian indah dari berbagai penjuru dunia. Lemari pakaian di istananya sudah penuh sesak.

Meskipun begitu, sang raja belum juga merasa puas. Ia selalu ingin memiliki pakaian yang lebih mewah lagi. Keinginan tersebut terdengar hingga ke luar wilayah kerajaan.

Suatu hari, dua orang pria asing datang ke istana. Mereka mengaku sebagai penjahit paling hebat di dunia. Mereka berjanji bisa membuat pakaian yang sangat istimewa.

Pakaian itu akan disulam menggunakan benang emas murni. Kainnya juga akan dihiasi dengan permata yang berkilauan. Sang raja sangat tertarik mendengar penjelasan tersebut.

Kedua penjahit itu lalu menceritakan keunikan kain mereka. Kain tersebut memiliki kekuatan sihir yang sangat ajaib. Hanya orang jujur yang bisa melihat keindahannya.

Orang yang bodoh tidak akan bisa melihat kain itu. Begitu pula dengan orang yang tidak setia pada raja. Mereka hanya akan melihat ruang kosong yang hampa.

Mendengar hal itu, raja menjadi sangat bersemangat. Ia langsung membayangkan bisa menguji kejujuran para pegawainya. Raja pun segera menyetujui tawaran kedua penjahit.

Raja memberikan banyak uang sebagai modal awal bekerja. Ia juga menyediakan sebuah kamar khusus untuk mereka. Kamar itu harus tertutup rapat dari pandangan orang.

Kedua penjahit mulai berpura-pura sibuk bekerja di kamar. Mereka menggerakkan alat penenun yang sebenarnya kosong tanpa benang. Semua bahan mewah sengaja mereka sembunyikan.

Beberapa hari kemudian, raja mulai merasa sangat penasaran. Ia ingin tahu perkembangan pembuatan baju ajaib miliknya. Namun, raja merasa sedikit takut untuk datang sendiri.

Raja akhirnya mengutus menteri setianya untuk memeriksa kamar penjahit. Menteri tua itu berjalan masuk dengan penuh rasa percaya diri. Namun, ia langsung terkejut saat tiba di dalam.

Menteri tua itu tidak melihat sehelai benang pun di mesin tenun. Ia mengucek matanya berkali-kali karena merasa sangat bingung. Kedua penjahit terus memperagakan gerakan menenun kain.

Sang menteri mulai merasa panik dan sangat ketakutan. Ia takut dianggap bodoh dan tidak setia oleh raja. Oleh karena itu, ia terpaksa berbohong kepada penjahit.

Menteri itu memuji keindahan kain yang sebenarnya tidak ada. Ia lalu pulang dan melapor kepada sang raja. Ia menceritakan bahwa kain itu sangat luar biasa indah.

Raja merasa sangat puas mendengar laporan dari menteri tua. Esok harinya, raja mengutus menteri lain untuk memeriksa kembali. Menteri kedua ini juga mengalami hal yang sama.

Ia tidak melihat apa-apa di dalam kamar penjahit. Namun, ia juga takut kehilangan jabatan tingginya di istana. Ia memilih untuk ikut berbohong seperti menteri pertama.

Menteri kedua melapor bahwa warna kain itu sangat serasi. Raja menjadi semakin tidak sabar untuk segera memakai baju tersebut. Ia memutuskan untuk melihatnya sendiri keesokan harinya.

Raja datang bersama rombongan menteri ke kamar penjahit. Kedua penjahit menyambut raja dengan senyuman yang sangat ramah. Mereka berpura-pura mengangkat selembar kain yang sangat halus.

Sang raja terbelalak karena tidak melihat benda apa pun. Hatinya merasa sangat cemas dan bingung seketika itu. Apakah dirinya termasuk orang yang bodoh dan tidak jujur?

Raja tidak ingin kewibawaannya jatuh di depan para pengawal. Ia akhirnya mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar melihat ruang kosong. Raja memuji karya kedua penjahit gadungan itu.

Penjahit nakal itu kemudian meminta tambahan bahan-bahan mewah lagi. Mereka meminta sutra terbaik dan emas dalam jumlah banyak. Raja langsung mengabulkan permintaan itu tanpa ragu.

Hari perayaan pawai kerajaan yang dinanti akhirnya tiba juga. Kedua penjahit berpura-pura mengantarkan baju baru ke kamar raja. Mereka meminta raja untuk melepaskan seluruh pakaiannya.

Raja berdiri di depan cermin besar hanya memakai pakaian dalam. Kedua penjahit seolah-olah sedang memakaikan baju kurung yang mewah. Mereka juga berpura-pura merapikan jubah yang panjang.

Raja mematut dirinya di depan cermin sambil tersenyum bangga. Ia memuji kelembutan baju baru yang sebenarnya tidak kasat mata. Pengawal istana juga ikut memuji penampilan sang raja.

Raja kemudian berjalan keluar istana dengan penuh percaya diri. Ia naik ke atas kereta kencana yang sangat megah. Mahkota emas berkilauan terpasang dengan rapi di atas kepalanya.

Kereta kencana mulai berjalan perlahan melewati jalanan kota besar. Seluruh rakyat berkumpul di tepi jalan untuk melihat raja mereka. Mereka sudah mendengar cerita tentang baju ajaib tersebut.

Semua orang dewasa berebut memuji keindahan pakaian sang raja. Mereka takut dicap sebagai orang bodoh oleh tetangga mereka. Suasana pawai menjadi sangat ramai dan penuh kepalsuan.

Di ujung jalan, rombongan raja melewati sekelompok anak kecil. Anak-anak itu berdiri polos bersama orang tua mereka masing-masing. Mereka memperhatikan penampilan raja dengan saksama tanpa berkedip.

Tiba-tiba, seorang anak kecil tertawa dengan sangat keras sekali. Anak itu menunjuk ke arah kereta kencana sang raja. Ia berteriak bahwa raja tidak memakai baju sama sekali.

Orang tua anak itu langsung terkejut dan membekap mulut anaknya. Namun, anak-anak lain justru ikut berteriak dengan jujur. Mereka semua berkata bahwa raja hanya memakai celana dalam.

Bisikan anak-anak itu terdengar jelas oleh telinga sang raja. Raja seketika merinding karena menyadari kebenaran ucapan anak kecil. Ia merasa sangat malu karena telah ditipu mentah-mentah.

Raja tetap melanjutkan pawai dengan menahan rasa dingin yang menyengat. Sesampainya di istana, ia langsung mencari kedua penjahit tersebut. Namun, kamar penjahit sudah kosong melompong tanpa penghuni.

Kedua penjahit itu telah kabur membawa semua emas kerajaan. Mereka berhasil mengelabui raja dan seluruh pejabat karena rasa gengsi. Raja menyesal karena tidak mau mendengarkan kebenaran sejak awal.

Pesan Moral / Hikmah Cerita

Kejujuran dan keberanian untuk menyatakan kebenaran adalah hal yang sangat berharga. Kita tidak boleh membiarkan rasa takut atau gengsi membuat kita berbohong demi menyenangkan orang lain. Kesombongan hanya akan membawa kita pada kerugian dan rasa malu, sedangkan kepolosan yang jujur akan selalu menyelamatkan kita dari kesesatan hidup.

Hans Christian Andersen

Profil penulis Hans Christian Andersen.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.