Tutur Peristiwa
October 11, 2025 · Syauqi Khaikal Zulkarnain
Aku merasa perlu menceritakan semua ini sebelum pada akhirnya terbunuh dan menyerah pada maut yang sejak sebulan belakang telah mencekik leher dan menekan-nekan dadaku. Sebuah batuk asing menyerang kedalaman tubuhku, menyiksa malam-malam panjang dengan helaan napas pendek-pendek. Telah kuperhatikan puluhan kematian, begitulah semua orang melepas jiwanya dalam sebuah akhir paling menyakitkan.
Wajah-wajah manusia meleleh penaka lilin membakar-habiskan diri pada setitik kecil api berwarna merah biru. Aku telah lebih dulu melupakan orang-orang sebelum pada akhirnya aku yang akan dilupakan oleh semua mereka. Pun demikian, satu yang masih terus kuingat kini, ia mengikut dalam setiap helaan napas berat, mencatut segala sisa kesadaran di ringkih tubuh yang sebentar nanti bakal menjadi mayat.
Orang itu, Syakhta dia punya nama. Orang dahulu, dua generasi atasku. Jika tak keliru mengingat, kisah-kisah deras mengalir dari mulutnya, atau hatinya? Entahlah. Satu yang pasti, sepasang mata keruhnya adalah cermin bersih tempat orang berkaca membasuh diri dan lalu jadi abadi dalam tutur peristiwa. Mata itu adalah laut tempat di mana orang-orang kita mecebur-basahkan diri dan lalu terjebak dalam sinema yang tak pernah diumumkan hingga kini.
Menjelang kematianku, di saat paling berat untuk terus bertahan dari maut yang senantiasa mengejar, Syakhta membayangi sepasang mata kepunyaanku. Mengelus tengkuk dan meniup-niup telingaku. Arwah orang itu mendadak jadi lebih sering menyapa daripada Izrail. Tangannya yang kasar, berwarna legam dengan urat-urat menyembul seperti akar-akar anggrek hutan mengusap dadaku yang sesak.
Katanya: Hiduplah hingga besok atau lusa, aku tak akan menyuruhmu membaca seperti kau kecil silam, sekarang, berceritalah sebagaimana dahulu aku hidup!
Demi mendengar kalimat pendek tegas namun penuh tuntutan dari seorang arwah, ini tubuh mendadak dikuasai gigil paling menyeramkan. Tahu kau bagaimana sebuah sampan berisi nyawa laki-laki terombang-ambing di laut dalam tepat ketika musim barat datang? Begitu getar-gemetarku mendengar kalimat Syakhta, seonggok mayat. Ucapnya telah menjelma badai di dadaku yang dangkal.
Katanya lagi: Tidak. Kau bukan cuma seorang lelaki yang duduk atas sampan, jauh sebelum itu, seorang perempuan dan anak-anak kecil telah bersimpuh di tubuhmu.
Ada lebih dalam samudera dari seutas kalimat arwah? Aku telah kehilangan gigil barusan, segala pemandangan mendadak jadi sunyi, senyap, namun mencekam. Di saat-saat paling sepi dalam hidup, kepala menjadi ramai berantakan. Arwah-arwah perempuan terbang rendah menghampiri kamar kecil pembaringanku. Mukul dentur selama; rampak kidung sayup di telinga; tangisan cuma lagu biasa; kematian telah ditunda.
Arwah perempuan-perempuan itu bicara, katanya: Kita tak akan membiarkanmu mati dengan mudah jika tak lekas kau atotor careta, bertutur kisah!
***
Baiklah, aku akan memulai. Maut telah digagalkan. Umur masih akan terus dikira. Aku menggapai-gapai cerita paling pantas sebab terlampau banyak memang apa-apa yang menguar dari Syakhta sebagai tutur peristiwa. Kupilih satu, begini…
Pada sebuah masa silam tak bertahun dan tak bertanggal, segala hitungan waktu cuma dibantu gerak laku bulan dan matahari. Orang-orang kami, manusia di pulau ini maksudku, bertanam segala yang dapat dimakan. Di lembah, di ladang tepian hutan, di punggung-punggung bukit cadas batuan.
Jika dipandang dari jauh, tempat ini penaka gundukan yang terus memanjang dari ujung ke ujung. Kuburan raksasa, tanpa nisan, ditinggalkan kafilah dan rombongan ziarah. Di sini jutaan orang telah dikembalikan, entah kepada tanah atau Tuhan di atas sana. Syakhta salah satunya, arwah-arwah perempuan tadi pun sama, aku sebentar nanti menyusul mereka.
Tempat ini kehausan senantiasa. Tanah-tanah kerontang seperti jiwa dan perasaan setiap orang dalamnya. Aku membayangkan, pada masa yang akan datang, kelak, barangkali air mata bakal jauh lebih deras mengalir daripada mata air.
Bagaimana kau dapat membayangkan sebuah pulau jauh terpencil, ditinggalkan zaman, ditanggalkan dalam kemasyhuran sejarah raja-raja, yang nyaris seluruh manusianya bertahan hidup sebagai peladang primitif dan petani tradisional, namun demikian juga dihadapkan pada keadaan di mana air enggan menyembul ke permukaan tanah. Bagaimana?
Bagaimana kau dapat membayangkan sepetak sawah dan sepetak ladang dipaksa meniup tujuh hingga sepuluh nyawa dalam setahun, sementara masa tanam padi atau jagung atau kacang tanah mesti menanti siklus musim bernama penghujan. Bagaimana?
Orang-orang kehausan di tempat ini telah bertahun lamanya menambang awan dan hujan, mengebor langit, membikin selang-selang raksasa panjang membentang. Darinya air terus mengalir dan menyeka dahaga manusia serta tanah sekaligus. Belakangan, orang-orang asing di luar sana menyebut orang kami, yang menambang awan dan hujan itu, sebagai bangsa manusia yang kesadarannya penuh-terpengaruh oleh takhayul. Betapa mereka telah menyangsikan keajaiban Tuhan Yang Mahagaib, kan?
Syakhta terkekeh demi mendengar caraku berkisah. Katanya: Masih sama sebagaimana kecil dahulu, tetap meminta dan terus meminta koreksi dari lain-lain manusia. Kenapa enggan memeriksa diri sendiri? Jika tak mampu memastikan diri, bagaimana dapat memastikan orang-orangmu, masyarakatmu?
Aku terkesiap demikian saja. Sepintas lalu telaga yang bersemayam di ini dada menjadi kian kering juga. Perasaan yang tak memiliki kedalaman, mendangkal-picikkan mata air, cuma akan menampakkan lumpur-lumpur hitam kecoklatan tempat di mana ikan-ikan kecil megap-megap menanti kehadiran Izrail.
Berhamburan juga segala perasaan, membuatku mengais lebih jauh tubuhku sendiri yang tanah. Kutemukan kembali cerita barusan, yang dengan caranya sendiri telah ditimpali bahak serampangan seorang arwah tetua bernama Syakhta. Begini selanjutnya tutur peristiwa itu…
Menjelang musim bertanam jika hujan tak kunjung datang, orang-orang kami…
“Orang-orangmu!” bentak Syakhta lagi sekali mengganggu tutur kisahku.
Menjelang musim bertanam adalah saat-saat di mana orang-orangku menjadi haus-kelaparan. Hujan lama tak datang bertandang, sisa-sisa panen setahun silam nyaris tandas. Di saat-saat seperti itu orang-orang berhimpun dalam sebuah masa bersiap untuk lekas menambang hujan beserta awan-gemawan. Para tetua, termasuk Syakhta, memimpin segala yang diperlukan.
Ketika isyarat musim tuntas dibaca tetua-tetua mulai bermufakat menetapkan hari baik. Pada hari perjanjian itu arak-arakan dimulai, orang-orangku berjalan pada barisan panjang mengular. Semakin jauh ke barat, setelah melampaui satu dua desa, bertambah panjang dan meriah pula arak-arakan kita. Barisan panjang mengular itu mengingatkanku pada cerita Syakhta tentang ular besar yang bersemayam di gua-gua purba dan bukit-bukit rimbun basah tempat ini.
Konon katanya, ular-ular raksasa itu cuma akan mentas ketika hendak membasuh diri dan dahaganya di telaga. Orang-orangku, dalam arak-arakannya, adalah ular-ular raksasa yang kehausan itu kini, berjalan terus hendak menambang hujan pada kebesaran datu yang bersemayam di barisan bukit tajam berbatu ujung barat pulau, Datu Betogulok.
Di atas bukit berbatu cadas pesisir barat itulah Datu Betogulok bersemayam. Bawahnya, pada kaki bukit, di tepi pantai, sebuah beringin purba telah didirikan oleh datu. Di sana, upacara menambang hujan akan dimulai oleh orang-orang pulau, orangku, mereka yang tak pernah memiliki pura sebagai tempat persembahan telah memilih beringin tua sebagai tempat melangitkan doa.
Seekor kambing berwarna legam digorok, kepalanya dikubur pada sela-sela akar pohon tua itu, sedang sisanya dimasak bersama sebagai persembahan utama bagi datu. Orang-orang mulai beranjak menjalari bukit berbatu, menggapai-gapai ketinggiannya yang paling. Daging kambing menyedihkan itu dihidangkan pada datu yang berumah di sana. Upacara menambang hujan resmi dimulai.
Lantun puja-puji mulai memenuhi telinga tiap-tiap manusia. Syair-syair liris, kidung tangis, dan lengking saronen mengawang di langit-langit pulau, doa. Itulah selang-selang raksasa yang sejak bertahun lamanya didirikan oleh orang-orangku. Darinya, malam nanti, setelah upacara menambang menemui akhir pemberhentian, air akan mengalir sebagai hujan.
***
Arwah-arwah itu menghampiriku lagi, katanya: Karena kalian, orang-orang setelahku, tak lagi menambang hujan, orang-orang asing berbondong datang dengan kapal-kapal besi. Dengan takhayul barunya mereka bakal menancapkan selang-selang raksasa, menarik hujan yang tak dapat mengairi sawah, ladang, hutan, dan jiwa kita.
Syakhta berlalu, arwah-arwah perempuan itu menyusul pergi, nasib kita akan mengikut sebentar nanti.***
Syauqi Khaikal Zulkarnain, lahir di Kangean, berkegiatan di Yogyakarta. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Kini memilih fokus untuk aktif menghimpun dan mendokumentasikan sisa-sisa khazanah kebudayaan manusia di kampung halamannya yang terlupakan itu.
Baca Biografi Selengkapnya →