Lanang
August 15, 2025 · Idham Ardi Nurcahyo
Jika bukan oleh kantuk yang sejati, tak bakalan orang bisa lelap di sini. Uh, kamar 3×2 ini seperti penangkaran nyamuk. Dan ini badan adalah pakan suguhan demi kelangsungan spesies mereka agar tak punah. Sumpah! Nyamuk kota besar ternyata bandit benar. Kebal obat bakar dan tak kenal ampun. Sudah sedari tadi diplonconya aku, pendatang yang baru datang ini. Tega betul mereka. Bentol-bentol kulitku barangkali sudah saling singgung-menyinggung seperti perbukitan saking rapatnya gigitan. Aku tak menyangka tidur di ibu kota sesengsara ini. Ya Allah, menangis aku, merengeki kasurku di rumah. Kalau saja kupunya uang, akan kuambil transportasi paling segera untuk mancal dari kamar terkutuk ini.
Tapi, aku ingat, yang tersisa di dompet tinggal janji UMR Jakarta yang kusaku dari mulut Bowo, kawanku yang tengah mendengkur di sampingku itu. Janji yang awas saja ya, Wo, kalau hanya bualan perantau yang ingin dipandang sukses belaka. Sumpah, aku tak akan segan mencubitimu sebanyak nyamuk-nyamuk kamarmu menggigitku.
Aku sudah mulai ada sangsi tentang sukses hidup di Jakarta sejak menelusuri gang sempit untuk sampai ke kandang rantauan Bowo ini. Saking sempitnya gang itu, ya Tuhan, papasan jalan kaki pun bisa tabrakan. Ini lebih sempit dari gang di dalam pasar inpres. Rumah-rumah tanpa emperan tak putus mengapitnya. Kalaupan ada renggang barang setebal tubuh miring, jadilah ia gang. Ada pagar tembok sedikit jebol, jadilah pintu.
Di sini, seolah tak boleh ada ruang kosong—jeda atau spasi—atau dianggurkan. Setiap senti musti berfungsi, setiap saat musti bermanfaat. Karena ini kota megapolitan, barangkali. Semua yang ada musti berguna. Semua yang mau pasti dapat kerja. Termasuk aku ini barangkali. Ya, sekalipun nanti tak sampai sukses, minimal aku akan ada dan berguna di sini.
Berkat pikiran itu, aku kembali yakin untuk melanjutkan laku. Laku macam kucing yang hendak dibuang. Berbelok-belok aku mengekor Bowo. Aku bakal tak tahu jalan kembali bila ditinggalkan sendiri. Gang sebersilangan begini, angin saja bakal tersesat kalau lewat sini.
Bukannya aku manja. Telah kucoba berbagai cara untuk tertidur. Tapi, tanganku terus harus bergerak mengusir nyamuk. Jengkel, aku menyerah untuk tidur.
Termangu-mangu dalam gelap, kukisarkan pandang ke seluruh penjuru ruang. Hanya dibantu remang cahaya lolos ventilasi, tak sampai tiga detik mataku khatam. Selain sempit, kamar ini teramat sederhana untuk dikatakan berkebudayaan. Hanya kasur lantai dan tiga kardus yang berfungsi sebagai lemari baju. Tak ada perabot! Enyah ke mana selama ini gajimu yang katamu sejuta di atas UMR itu, Wo!
Seakan mendengar, Bowo menjawab batinku dengan dengkur yang tiba-tiba melengking ngilu, seperti garukan kuku di kayu. Sedari tadi, bising tak putus-putus itu memperiuh aniaya malam padaku.
Baru sepertiga malam di sini, sepertinya aku sudah menyesali keputusan rantau ini. Tak hanya karena nyamuknya, pengapnya, baunya, dan dengkurnya, tetapi lebih-lebih karena perpisahanku kemarin dengan bapak. Perpisahan yang sungguh tak enak dikenangkan. Perpisahan seorang anak yang ingin lari.
Bayang Bapak duduk tepekur sendirian di rumah muncul. Nanti pada siapa dia bakal bertanya ketika aplikasi HP-nya minta di-update? Pada siapa dia minta tolong ketika memori ponselnya kepenuhan? Siapa yang akan masak kalau warung makan dekat rumah tutup? Siapa yang akan membantunya meloloskan tangan di lubang lengan baju? Pertanyaan-pertanyaan yang kemarin kupersetankan itu satu-satu naik ke permukaan pikiran.
Kemarin, ketika kusampaikan niatku, Bapak sama sekali tak melarang. Hanya bertanya apa benar hatiku sudah mantap. Lantaran gusar, aku menjawab sedikit kasar, “kalau di sini terus aku gak bakal berkembang, Pak.”
Malam ini, kusesali perkataan itu. Bapak mungkin merasa didakwa, kondisi tuanya yang bergantung pada orang lain menjadi penghalang untuk anak bungsunya ini berkembang. Ia diam cukup lama setelah perkataanku.
Dulu Bapak memang pernah meminta agar aku tetap tinggal di rumah menemaninya. “Kalau nanti menikah, tinggal di sini saja, Nang, biar Bapak tidak sendirian di rumah. Kakak-kakakmu sudah telanjur terikat dengan kehidupan mereka di perantauan. Mumpung kamu belum, cari kerja di dekat sini saja.”
Aku ingat betul, permintaan Bapak itu diucap seminggu setelah Ibu tiada. Saat kedua kakakku bersama anak istri mereka telah kembali ke rantauannya. Saat sepinya rumah tanpa Ibu baru benar-benar terasa. Ketika saudara, tetangga, dan kawan mulai melanjutkan hidup masing-masing. Ketika mereka sudahi belasungkawa. Ketika hidup berlanjut sebagaimana biasanya. Ada rasa tidak terima melihat kehidupan terus laju tanpa Ibu.
Aku dan Bapak pun mau tak mau juga melanjutkan hidup. Baru kusadari, kami dan rumah ternyata selama ini sangat bergantung pada komando Ibu, pemimpin yang bawel dan diktaktor. Rumah kami adalah kerajaan Ibu. Tata ruang dan adat kesehariannya puluhan tahun, Ibu yang tentukan. Selama ini, aku dan Bapak adalah rakyat yang hanya mengerti patuh. Kuasanya yang mendadak hilang membuat perabotan rumah sedikit chaos.
Kami tetap makan tiga kali sehari. Baju kucuci dan rumah tetap kusapu setiap hari, tetapi ternyata tak cukup hanya itu. Baru sebulan berjalan, rumah berantakan, banyak barang ketelisut, dan kesehatan Bapak merosot.
Pada suatu pagi, parkinson Bapak (yang sudah lama dideritanya) mengguncang lebih hebat dari biasanya. Ingatan Bapak jadi kacau setelahnya. Ia terus ambil wudu hendak salat, tak ingat bahwa baru saja ia mengerjakannya. Pukul satu dini hari ia mencoba keluar rumah. Katanya, hendak salat isya di masjid. Untung saja kupergoki. Dokter hanya bisa memberi obat penekan parkinson. Soal demensia, dokter hanya berkata harus ada keluarga yang terus mengawasi.
Kakak-kakakku datang. Mbak Ila, kakak pertamaku, langsung merangsang pertengkaran, mengaitkan kondisi Bapak dengan rumah yang berantakan. Menurutnya, kondisi itulah yang memperparah Bapak. Aku yang tersulut langsung hendak menggebrak. Untung Mas Rafi, orang yang banyak baca buku itu, menengahi. Baginya, ini lebih dikarenakan soal psikis paska kematian Ibu. Bisa jadi Bapak terkena widow syndrome. Ia lalu memberi contoh kawan, tetangga, dan saudara yang mengalami hal serupa.
“Tidak jarang pasangan ikut meninggal tak lama setelah ditinggal mati pasangannya. Kalau Bapak bisa melalui masa krisis ini, kemungkinan ia akan selamat dari sindrom tersebut. Mari kita berdoa dan mengusahakan kesembuhan Bapak,” begitu katanya.
Meski begitu, aku masih sakit hati dengan Mbak Ila karena sama saja dianggapnya aku tidak becus mengurus Bapak. Kalaupun itu memang benar, apa lebih buruk dibanding ia yang tak mungkin di sini mengurus Bapak? Aku hampir saja melontarkan pembalasan dengan mengajukan usul agar Bapak diurus saja oleh Mbak Ila kalau memang dia merasa lebih mampu. Tapi, batal karena Mbak Ila yang sedang hamil tua itu tiba-tiba kontraksi pecah ketuban. Mas Rafi segera mengantarnya ke rumah sakit.
Bapak sedang tidur ketika kuteruskan kabar dari rumah sakit. Kubisiki ia, “Pak cucu ketigamu lahir. Mbak Ila habis melahirkan bayi perempuan.”
Bapak membuka mata, berkedip-kedip menatapku. Kuulangi perkataanku. Bapak tersenyum, serak suaranya mengucap, “Alhamdulillah….”
Seakan ajaib, setelah itu demensia bapak seperti terusir oleh kelahiran cucu ketiganya. Ingatan Bapak kembali sehat seperti sedia kala. Dan saudara-saudaraku bisa kembali lagi ke perantauannya dengan tenang. Dan rumah kembali sepi. Aku dan Bapak melanjutkan hidup berdua lagi.
Pasca Bapak sembuh dari lupa ingatan, aku niatkan untuk total mengurus Bapak dan rumah. Ketergantungan rumah pada Ibu harus disudahi. Peran Ibu selama ini hendak kugantikan dengan caraku sendiri. Tentu saja kupanggil bala bantuan. Mesin cuci, rice cooker, penyedot debu, dan berbagai alat rumah tangga modern kudatangkan. Dulu Ibu anti dengan itu semua. Ia sangat menganjurkan manual. Mesin cuci, misalnya, baginya tidak bersih sama sekali, sedang rice cooker dianggapnya kurang tanak.
Pada malam lebaran ketiga tanpa Ibu, di rumah hanya ada aku dan Bapak. Kedua kakakku telah memberi kabar bahwa kali ini mereka berlebaran di rumah mertua. Dari berbagai penjuru, takbir kemenangan bersahutan terasa mengepung suasana sepi dalam rumah kami. Aku baru saja selesai menata ruang tamu, membersihkan dan menghias mejanya dengan berbagai kue dan panganan. Aku duduk puas menikmati hasil kerjaku. Ini lebih matang dari tahun-tahun sebelumnya. Terlebih lagi di dapur, sudah tersedia opor ayam masakanku. Kukira rasanya tak kalah dari masakan Ibu.
Usai santap malam dengan opor buatanku, Bapak datang, duduk di sebelahku. Ada satu harap kali ini Bapak memuji hasil kerjaku mempersiapkan lebaran sendirian. Juga tentang pengabdianku padanya dan rumah ini selama tiga tahun belakangan kuharap disinggungnya pula. Bukankah ini malam yang baik untuk bicara dari hati ke hati?
Aku mengharap pengakuan dari Bapak agar aku mendengar bahwa satu-satunya anaknya yang tersedia di hari raya ini mencukupi perasaan berlebarannya. Pamrihku bukan karena aku gila pujian. Aku ingin mendengar lantaran aku ingin memastikan bahwa pedalaman batin Bapak baik-baik saja malam ini. Tapi, bukan itu yang sedang dipikirkan Bapak.
“Tadi Rafi telpon, Nang, katanya kalau mau aku bisa dijemputnya malam ini untuk besok lebaran di sana. Atau kalau kamu mau ikut, Rafi tak perlu ke sini. Kamu antar aku ke sana.” Ucap Bapak sembari mengkorek-korek sisa opor di giginya.
Aku mencoba menekan sakit hatiku. Kuajukan keberatan dengan soal-soal di luar urusan perasaan anak bungsunya ini.
“Tapi, Pak… Bapak ‘kan di kampung ini sudah termasuk sesepuh. Pasti besok banyak tetangga yang ke sini silaturahmi. Kalau Bapak tidak di rumah, banyak yang kecele, nanti.”
“Aku tadi juga sempat mikir itu….”
Soal itu ternyata juga sudah bapak pertimbangkan, tapi soal opor yang susah payah kumasak seharian, sendirian? Tetap tak disinggungnya. Kue, panganan, toples, dan taplak di meja kurasai sedang menatapku, mereka menuntut dibela.
“Tapi, Nang…,” lanjut Bapak, “lebaran tanpa ada perempuan, tanpa ada anak kecil di rumah itu rasanya kayak bukan lebaran saja.”
Kuremas kulit sofa, untuk menahan ledakan di dadaku agar tak menguar ke ucapan. Istri dan anak. Soal yang belum bisa kupersembahkan ke bapak. Ternyata tetap yang utama dalam lebaran. Mengatasi hal yang sudah kukerjakan untuk menambal belang-bentong ketiadaan ibu di rumah. Kukira bisa menjadi tanda bakti yang senilai dengan kakak-kakakku yang memberinya cucu. Bapak tak peduli, ia terus bicara, terus menggarami.
“Bapak sudah lama ingin tanya ini, sebenarnya kamu itu belum, atau tidak ingin menikah?”
Sampai di sini, aku sudah menangis. Hanya belum berair mata dan bersedu-sedan saja. Pelan kujawab agar guncang perasaan tak kentara, “belum diberi Alloh, Pak, bukannya Lanang tidak ingin…”
“Nang, ini pendapat Bapak ya, menurut Bapak…”
Bapak menjeda, seperti ingin menunjukkan bahwa soal ini berat untuk disampaikan, “… kalau laki-laki tiap hari di rumah terus, bagaimana bisa dapat istri? Mungkin kalau kamu keluar, bekerja layaknya lelaki seusiamu, kamu akan dilihat orang sebagai lelaki yang pantas jadi suami, laki-laki yang bisa bekerja. Kalau kamu di rumah terus, keluar hanya untuk beli sayur, nampak di teras hanya ketika nyapu, bisa-bisa orang mengira…”
“Mengira apa, Pak? Mengira Lanang tak doyan perempuan?”
Kupotong Bapak. Sengaja. Agar segera pembicaraan yang menyiksa ini segera ke intinya. Aku tahu soal inilah yang dituju bapak. Aku tahu lantaran terus ia mengulang kata lelaki, lelaki, lelaki… dan dengan penekanan. Aku tahu soal inilah perkara yang paling jadi soal antara aku dan keluargaku. Tapi seakan tabu, tak pernah ini dibicarakan langsung denganku. Aku tahu, maksud bapak dulu memaksaku ikut bela diri waktu aku SD. Aku tahu, maksud ibu dulu selalu menggusahku tiap ingin membantunya masak di dapur. Aku tahu banyak ketertarikanku yang mereka resahkan. Aku tahu, sebab di sana, di luar rumah, selama ini, ketika sekolah, ketika berteman, dalam pergaulan, tak segan teman-teman melontarkannya padaku. Sering mereka sebut aku lelaki kemayu. Dan aku tak bisa membantah. Nama Lanang pemberian bapak, di luar sana, sering mereka ganti menjadi Wadon.
Aku sering dirundung para lelaki. Itulah kenapa aku lebih suka bergaul dengan perempuan meski tahu diam-diam mereka mencibir tindak-tandukku yang terlalu lembut untuk tubuh lelakiku. Tapi, setidaknya perempuan lebih tak risih untuk bercengkerama denganku.
Selesai kuliah, aku memilih untuk terus di rumah. Aku kapok bergaul lagi. Rumah satu-satunya tempat aman. Aku sembunyi dari kehidupan. Pergaulan teramat menakutkan dan mengecilkan perasaan. Memang ketakutan dan kemalasan berkaitan. Aku jadi enggan mencari kerja sebagaimana para sarjana sebaya. Aku punya segudang alasan untuk menunda. Untung saja keluargaku tak kekurangan uang kalau harus terus menanggung satu anaknya yang kerjanya hanya rebahan. Bapak pensiunan tentara yang punya beberapa kontrakan.
Saat Ibu masih ada, sesekali aku memang keluar, minta ongkos, dan pura-pura mencari kerja. Padahal, aku hanya pergi ke tempat-tempat di mana aku tak dikenali. Aku hanya sejenak menghindari tatap resah ibuku. Rutinitas itu terjadi menahun hingga akhirnya Ibu mati. Mendadak. Barangkali karena tak sanggup menanggung pikiran tentang anak bungsunya ini kelak bagaimana sehingga pecahlah satu pembulu darah di kepalanya.
Sebagai penganggur yang diresahkan sekeluarga, aku pun sebenarnya frustasi. Ada perasaan menekan lantaran merasa tak berguna di dunia. Hari-hariku penuh perasaan sedih tiap melihat orang tuaku nampak sedih dan khawatir oleh anaknya yang tak kunjung menemukan alasan bangun pagi.
Setelah di rumah tidak ada Ibu, barulah kutemui makna bangun pagi. Ya, aku mungkin tak akan seperti Mbak Ila dan Mas Rafi yang bisa menjadi sewajarnya: bekerja, menikah, dan beranak-pinak. Tapi, aku, anak yang dirisaukan ini, bisa sampai kapan pun, setiap saat ada di sini menemani dan merawat Bapak dan rumah ini. Keyakinan itu membiakkan gairah baru di hidupku. Dan tiap hari, kukerjakan dengan sebaik-baiknya pekerjaan yang kutentukan sendiri itu. Setiap melihat rumah sudah rapi, makanan sudah tersedia di meja, dan Bapak nampak sehat, aku merasa berbahagia. Dan selalu kuharap Bapak juga bahagia karenanya.
Semua itu akhirnya kutumpahkan ke Bowo. Dengan tersendat-sendat lantaran menangis sesenggukan tentu saja. Ia mampir ke rumah tak lama setelah Mas Rafi menjemput Bapak. Ia adalah satu-satunya kawan laki-lakiku sejak SMA yang tak pernah merundungku. Juga tak pernah takut aku bakal menaruh rasa ke dia. Ia adalah saksi hidup bahwa aku pernah punya cewek. Sekalipun hanya sekali dan itu sebentar. Tapi, kebetulan perempuan itu pernah dicintai sepihak olehnya. Mungkin karena keunggulanku kali itu, Bowo menaruh hormat padaku hingga hari ini.
Bowo tak memelukku dan tak menepuk-nepuk pundakku sebagaimana sebenarnya aku ingin ditenangkan. Ia malah memberi saran, padahal aku tak minta.
“Kamu harus ke Jakarta!”
“Kenapa Jakarta?”
Bak Duta Jakarta, Bowo lalu berpidato tentang kota rantauannya yang ia banggakan itu. Katanya, bahwa Jakarta ini dan itu, bahwa Jakarta adalah kota yang tak hanya penuh, tapi sesak dengan kemungkinan. Semua yang datang pasti kebagian kemungkinan. Semua yang tak mungkin di kabupaten ini menjadi mungkin di sana. Termasuk untuk aku yang kemayu dan pengalaman kerjanya hanya mengurus Bapak dan rumah ini sangat mungkin untuk bisa sukses di suatu bidang pekerjaan. Meski kerja apa itu, ia belum tahu.
“Juga mungkin dapat istri?” tanyaku kekanak-kanakan.
“Heh, Nang, semua model lelaki itu ada pangsa pasarnya, tenang saja. Kamu di sini belum laku itu bukan karena tidak bermutu, tapi karena tak ada pasarnya saja. Di Jakarta, uh model sepertimu yang bisa kawin berkali-kali saja banyak karena di sana pasar melimpah.”
“Tapi, kamu kok belum juga menikah?”
“Nah itu bedanya di sini dengan di sana. Di sana, cita-cita orang itu tak melulu nikah terus punya anak. Lumrah di sana seusia kita belum nikah dan tak perlu risau dengan pertanyaan-pertanyaan kapan nikah kapan punya anak….”
Bowo terus mengoceh mempromosikan Jakarta hingga akhirnya bulat tekadku. Bukan seratus persen percaya kata-kata Bowo. Tapi, lebih didorong keyakinan bahwa di rumah ini memang aku telah tak berpengharapan. Dengan janji Bowo bakal menampung sementara dan uang tabunganku yang tak seberapa, kuturut Bowo ke Jakarta, menyongsong satu kemungkinan yang entah apa itu.
Dan di sinilah kini aku termangu-mangu di kamar 3×2. Menghitung. Berapa malam aku kiranya harus menumpang di sini? Berapa miliar gigitan lagi yang harus kutahankan untuk sampai pada kemungkinan baik yang entah apa itu? Ya, aku akan bertahan. Harus bisa bertahan. Karena aku Lanang. Lanang sebagaimana maksud Bapak. Tapi, jika ternyata besok atau lusa Bapak menelpon dan minta aku pulang… aku memilih pulang. Karena, demi Tuhan, aku sangat rindu kamarku di rumah!
Sukoharjo, 10 April 2025
Ardi N. adalah sutradara dan penulis lakon di Teater Sandilara. Ia lahir dan bersetia tinggal di Sukoharjo hingga saat ini. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit: Tentang Ketidakpastian (Ad Hoc Pustaka: 2018), Lelaki yang Tinggal di Selangkangan Kota (Ad Hoc Pustaka: 2020), dan Nyonya Revolusi (Kutub Buku: 2025)
Baca Biografi Selengkapnya →