Lewati ke konten

Cinta, Benci, dan Alasan-alasannya

June 17, 2025 · Aveus Har

Cinta, Benci, dan Alasan-alasannya

Aku melihatnya. 

Penglihatan ini bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali dan kian sering mendekati hari nahas itu. Namun, Ngok tidak percaya. Selalu saja dia tak percaya pada ceritaku yang tak kasat mata baginya meskipun dia percaya pada Tuhan yang juga tak kasatmata. Dia percaya ada malaikat. Dia percaya ada iblis.

“Itu berbeda, Yin. Yang kamu ceritakan itu takhayul atau halusinasi,” katanya.

Tidak. Yang aku ceritakan kepadanya adalah “penglihatan”—kemampuan supranatural yang telah menjadi bakatku sejak kecil. Itu adalah pertanda untuk apa yang akan terjadi. Barangkali aku ditakdirkan menjadi cenayang, sebagaimana nenek buyutku dalam cerita Ibu. Namun, aku tidak ingin menjadi cenayang. 

Ketika aku dan Ngok pacaran, laki-laki itu selalu percaya apa kataku. Aku mengatakan itu kepadanya dan dia berkata bahwa dulu dia mengangguki semua penglihatanku semata agar aku menerima lamarannya.

“Aku mencintaimu,” katanya. “Aku takut kehilanganmu jika berkata tidak.”

“Dan sekarang kau tidak takut itu terjadi?”

“Sekarang kau sudah milikku, aku sudah milikmu. Dan dalam kondisi semacam ini kau toh tak akan meninggalkanku hanya karena aku tak memercayai halusinasimu.”

Aku tak tahu. Aku tidak yakin.

Sejujurnya aku benci dengan kejujurannya ini. Aku kecewa dengan pengakuan dustanya. Aku nelangsa karena dia tidak memercayai bahwa ada pertanda-pertanda yang diberikan Tuhan dalam hidup manusia. Sebagian dari kita mampu melihatnya, sebagian besar buta. Aku bisa melihat apa yang akan terjadi meskipun dalam bentuk yang harus ditafsirkan.

Aku pernah melihat burung-burung mencabik atap rumah. Itu sebelum Ibu mengajakku pergi dan kami tak pernah kembali ke rumah Ayah. Kemudian aku tahu mereka bercerai. 

Aku pernah melihat sepasang mata Ibu hilang dan tak berapa lama dia meninggal dunia. 

Aku pernah melihat laki-laki berjubah putih menggandengku pergi dan aku bertemu Ngok di rumah sakit—dia sedang menunggui ayahnya waktu itu dan aku bekerja di sana sebagai perawat dan kami berkenalan dan berpacaran dan menikah. Ngok membawaku ke sini, ke negaranya.

***

“Mengapa kau mencintaiku?” aku bertanya saat itu.

“Aku tidak tahu,” sahut Ngok.

“Bagaimana bisa?”

“Terkadang cinta tidak membutuhkan alasan, Yin.”

Aku mengikuti Ngok karena percaya padanya. Tak ada keluargaku di Singapura sejak Ibu meninggal meskipun aku masih mempunyai Ayah. Namun, semenjak ayah menikah lagi, hubungan kami merenggang. 

Demi cinta, demi Ngok, aku meninggalkan negeriku dan mengganti kewarganegaraanku dan menjadi bagian dari masyarakat yang, kata Ngok, ramah dan bersahabat pada orang asing sekalipun.

Aku hampir percaya. Hampir.

Meskipun demikian, aku pernah mengungkapkan keraguanku—mengingat beberapa peristiwa yang pernah menjadi berita nasional. 

“Bangsamu memusuhi Cina,” kataku, setelah membeberkan sederet kasus rasialisme atas etnis Cina yang pernah kubaca. 

“Yin,” kata Ngok, “Ada banyak etnis di bangsaku. Terkadang ada gesekan. Tetapi, itu bukan berarti seluruh.”

Ngok berkata bahwa etnis Cina sudah menjadi bangsa ini semenjak moyang mereka yang berdagang menetap di negeri ini. 

“Aku Cina,” kata Ngok, “tapi bukan orang China. Aku Indonesia.”

Dituturkannya kepadaku kisah Laksamana Cheng Ho, penjelajah muslim China yang jejak sejarahnya ada di Indonesia. Dikisahkannya padaku tentang PITI di mana kakeknya dulu pernah aktif dalam organisasi etnis-agamis itu. Tentang pebulu tangkis yang mengharumkan negeri ini.  

Lalu aku bertanya, “Bagaimana dengan PKI?”

Ngok berkilah bahwa moyang Cina tidak terlibat karena mereka tahu komunisme telah menyengsarakan rakyat Tiongkok. 

“Tapi selalu dicurigai?” tanyaku, lebih menyerupai pernyataan retoris.

“Itu lebih ke soal politik,” katanya. Lalu, ceritanya memanjang dan melebar. 

“Mereka tidak punya alasan untuk membenci kita, Yin,” Ngok menandaskan.

Aku percaya.

Aku percaya kepadanya.

Aku hampir percaya kebenarannya.

***

Aku diterima dengan baik dalam keluarga Ngok dan merasa telah menemukan keluargaku sendiri di sini. Kami berkomunikasi dengan sedikit rumit dan menggelikan. Aku berbahasa Mandarin campur Inggris, mereka Mandarin campur Indonesia. Namun, aku senang bersama mereka. Aku belajar bahasa Indonesia untuk, seperti kata Ngok, menjalin komunikasi dengan orang sekitar.

Namun, aku melihat api di mata orang-orang sekitar kami. Api itu bertabir senyum, tetapi tetap saja aku bisa melihat nyalanya.

Aku mengatakan itu pada Ngok.

“Jangan risaukan itu,” sahut Ngok.

“Ini buruk, Ngok.”

“Kau hanya mencemaskan sesuatu dalam bayanganmu, Yin. Mungkin kau perlu melakukan sesuatu yang mendekatkan. Maksudku, Yin, kau harus berinteraksi dengan orang-orang.”

“Orang-orang bermata api?” aku menyergah.

“Mereka tidak seburuk halusinasimu,” tukas Ngok.

“Karena kau tak melihat bara di mata-mata itu, Ngok.”

“Bara apa?” Ngok mengibaskan tangan. “Sejarah negeri ini adalah bangsa yang ramah kepada pendatang.”

Namun, aku melihatnya. Orang-orang yang tersenyum ketika datang ke toko kami matanya membara api. Orang-orang yang berlalu lalang di depan kami matanya pula membara api. Bagaimana dia bisa berkata bahwa kami berada di antara bangsa yang ramah?

***

Sekarang aku melihat sesuatu yang lebih mengerikan: tubuhku pucat mengambang di genangan bersama banyak perempuan lain dalam kondisi yang sama: telanjang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi sepertinya sesuatu yang buruk yang akan menimpaku. Aku cemas, ketakutan, gelisah. Namun, Ngok bilang aku terlalu berlebihan. Kau perlu ke psikiater, katanya.

“Tidak, aku perlu kau memercayainya!” tukasku.

Ngok tetap tidak percaya karena sesungguhnya sejak mula dia tidak percaya pada penglihatan-penglihatan yang tak kasatmata baginya. 

Aku mencintai Ngok. Aku tak punya siapa-siapa selain dirinya. Hidupku baik-baik saja selama ini, bersamanya, dan aku bahagia. Namun, Ngok tidak memercayaiku.

***

Indonesia sedang kacau saat dokter menyatakan aku hamil. Krisis ekonomi menjadi kata yang disebut-sebut sebagai biang kekacauan. Aku melihat burung-burung api beterbangan di langit. Aku bilang pada Ngok, kali ini dia harus percaya pada penglihatanku. 

“Ini pertanda buruk dan kita harus pergi!” kataku.

Ngok membenarkan bahwa petaka sedang diambang mata. Namun, Ngok tidak melihat penglihatanku sebagai pertanda. Dia melihat berita. 

“Presiden Suharto akan jatuh,” katanya, “dan negara mungkin akan kaos.”

“Jadi, mengapa kita tidak pergi?” kataku.

“Pergi? Petaka itu bukan hanya menimpa kita, Yin. Petaka itu akan menimpa Indonesia, bangsaku, dan telah menjadi bangsamu pula.”

“Apa mereka menganggap etnis Cina sebagai suku bangsa mereka?”

Ngok diam. Aku tahu sesungguhnya Ngok tidak terlalu yakin, terutama belakangan ini, setelah melihat berita dari tempat-tempat lain. Namun, Ngok keras kepala. Dia bersikukuh tak mau kami pergi.

“Kau harus mengelola stres, Yin. Itu nasihat dokter. Semua akan baik-baik saja,” sarannya.

“Mungkin aku perlu kembali ke Singapura, Ngok,” sahutku, “setidaknya untuk sementara, demi janin ini.”

Wajah Ngok sungguh keruh meskipun dia berusaha menyembunyikannya dengan ketenangan yang dipaksakan.

“Aku hanya bisa mengantarmu,” kata Ngok. “Tetapi tidak bisa menemani.”

“Aku bisa sendiri di sana, Ngok,” kataku. “Aku belum lama meninggalkan Singapura.”

“Minggu depan aku akan mengantarmu, Yin.”

Sayangnya, seminggu terlalu lama. Apa yang kutakutkan terjadi lebih cepat dari rencanaku pergi. 

Berita mengabarkan demonstrasi di berbagai tempat. Meskipun belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik, aku bisa memahami apa yang terjadi dari berita-berita itu. Ada yang tertembak. Ada yang mati.

Kerusuhan meletus di beberapa tempat. 

Juga di sini.

Api di mata orang-orang itu telah membakar diri mereka, membakar kawan mereka, membakar semuanya. Semuanya adalah ranting rapuh yang dilalap dengan ganas. 

“Usir Cina! Hajar Cina!”

Teriakan-teriakan itu: siapa mereka yang berjalan bergerombol di depan rumah dengan senjata-senjata? Mereka orang yang Ngok sebut sebagai saudara sebangsa?

“Mereka membenci kita, Ngok! Tidakkah kau menyadarinya?”

“Mereka tidak punya alasan membenci Cina!”

Teriakan menghujat semakin keras merembet bersama angin mati. Aku memandang Ngok. Laki-laki itu tertegun masygul. Beberapa toko telah ditulisi sebagai “milik pribumi”. Lalu, siapa Ngok—pribumikah? 

“Kita harus pergi, Ngok,” kataku, “sekarang!”

Muka Ngok mengeras. Dia ke belakang, dan kembali dengan sekaleng cat semprot hitam. 

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.

“Menulisi ruko kita: ‘Milik pribumi’!” 

“Ngok! Jangan keluar!”

Ngok telah membuka pintu. Sekonyong, orang-orang di luar menjelma menjadi serigala. Mereka mencabik-cabik Ngok. Mereka memaksa masuk. Mereka merampok. Mereka memperkosaku.

Aku terlempar ke dalam rawa-rawa bergenang duka, mengambang telanjang bersama perempuan-perempuan senasib, mengambang di atas air mata, lendir, dan darah. 

Pada akhirnya aku pergi dengan membawa luka dan kecewa. Aku tidak sungguh tahu apa yang terjadi dan yang sesungguhnya terjadi. Namun, aku tahu satu hal:  terkadang tak butuh alasan untuk membenci.***

A
Tentang Penulis

Aveus Har

Aveus Har tinggal di Pekalongan. Kesehariannya adalah seorang pedagang mie ayam sembari bereksperimen di Laboratorium Ide dan Cerita (LABITA). Cerpen-cerpennya telah dimuat di berbagai media. Ia telah menerbitkan beberapa buku dan memenangi beberapa lomba nasional. Menyukai dunia psikologi, kesehatan mental, dan kopi tanpa gula. Cerpennya yang berjudul “Istri Sempurna” mendapat Anugerah Cerpen Terbaik Kompas 2023.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.