Lewati ke konten

Saya Tidak Sempat Memberi Judul pada Cerita Ini

July 16, 2025 · Daruz Armedian

Saya Tidak Sempat Memberi Judul pada Cerita Ini

Sungguh, saya tidak sempat memberi judul pada cerita ini. Seharusnya saya tidak perlu berimajinasi untuk itu. Sehingga, beginilah jadinya; saya terperosok ke dalam imajinasi yang saya ciptakan sendiri.

Saya melihat burung dara sedang berdua di bawah langit mendung, tepatnya di bawah pohon kersen yang dinaungi mendung. Ah, baiknya saya memberi judul cerita ini: Pertemuan Dua Burung di Bawah Mendung. Tetapi, saya membayangkan salah satu burung itu, yang jantan, hidup di masa lalu. Dan yang ada di situ sebenarnya cuma bayangannya. Mereka berciuman, padahal sejatinya tidak. Si burung betina tidak menyadari itu, sebab yang ia tahu, masa lalu, hari ini, dan masa depan sama saja. Ia toh tetap merasakan bagaimana hangatnya bibir (eh, paruh) burung jantan.

Hujan pun turun. Seharusnya, burung jantan tidak perlu menghindar dari hujan. Sebab, hujan atau tidak, sama saja baginya. Ia tidak akan basah. Tolong perhatikan: saya mengimajinasikan burung jantan hidup di masa silam, dan sekarang ia hanya berbentuk bayangan. Tetapi, cinta membuatnya menjadi pengekor. Ia mengekor pada burung betina yang mencari tempat teduh. Lalu, apa yang terjadi? Tidak terjadi apa-apa. Hanya, saya tidak ingin memberi judul cerita dengan ‘Pertemuan Dua Burung di Bawah Mendung’. Sebab, cerita soal burung berhenti sampai di sini. Kedua burung itu telah pergi dari bawah pohon kersen yang daun-daunnya sangat jarang-jarang. Pohon kersen yang tua dan menghitam dan seperti tidak hidup lagi dan mungkin kalau dipanjati monyet akan roboh dan kalau ditebang pasti tidak butuh waktu lama dan tidak butuh benda tajam dan tidak membutuhkan kesusahpayahan dan….

Dan seseorang memanggil saya. Meminjam korek api untuk menyalakan rokok yang sedari tadi sudah terjepit di bibirnya. Saya melihat bagaimana dia menyalakan alat mungil itu. Satu batang dia pantik dan api kecil muncul. Api kecil yang kemudian membakar ujung rokok. Rokok yang berasap membuat udara berwarna kabut. Kabut yang tidak sejuk. Batang kecil yang terbakar itu dia buang sebelum apinya benar-benar mati. Aha, harusnya, saya beri judul cerita ini ‘Api yang Mencekam’ atau ‘Kepala Korek yang Terbakar’ atau ‘Terbakarnya Hutan Kecil’. Tidak. Tidak. Saya tidak mungkin membuat judul cerita ini dengan gaya Edgar Allan Poe. Itu menyeramkan. Saya merinding membaca cerita-cerita Edgar Allan Poe.

Edgar Allan Poe kerap membikin saya gemetaran karena tulisannya. Dia mengubah apa pun menjadi suatu yang menyeramkan. Bukan cerita horor. Bukan. Hanya saja, dia selalu memberikan sejumlah trauma kecil bagi pembacanya. Atau ketakutan kecil. Atau… apalah. Dan saya tidak ingin membuat cerita yang seperti itu. Hidup saya sudah terlalu suram. Bahkan akhir-akhir ini saya tidak punya harapan apa pun terhadap masa depan saya. Beberapa kali saya mempertanyakan, kenapa saya mesti menjadi manusia yang perlu mempertahankan hidupnya? Bukankah lebih enak menjadi batu, atau pohon-pohon, atau sesuatu yang tak perlu punya masalah yang sangat pelik, trauma yang berkepanjangan, atau kecemasan yang berlebihan?

Saya pikir, enak juga jadi batu. Ketika berada di pegunungan, saya menikmati keberadaan saya. Saya akan diam saja dan tidak perlu mengurusi hiruk pikuk dunia. Saya akan diam saja dan menunggu hari kiamat datang dengan istimewa. Saya tidak perlu mengalami peristiwa yang menyeramkan, misalnya mendapati orang tua saya sedang bertengkar hebat, hingga salah satunya ada yang dipukul dan salah satunya lagi cuma bisa meraung dan mengeluarkan kata-kata kotor dan busuk dan mengumpulkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper. Itu saya alami ketika masih belum pernah mimpi basah. Saat itu saya ketakutan. Benar-benar ketakutan. Karena pertengkaran itu adalah pertengkaran yang terakhir kali mereka lakukan. Ibu saya pergi beberapa saat kemudian bersama laki-laki yang tidak saya kenal. Sementara itu ayah saya, masih dengan amarahnya, merusak benda-benda di sekitarnya. Baik ibu maupun ayah saya, keduanya tidak ada yang peduli meskipun saya menangis sekencang-kencangnya.

Saya tahu, kedua orang tua saya memang sering bertengkar. Bahkan pertengkaran itu bisa dibilang setiap hari terjadi. Entah apa yang membuat mereka begitu. Setiap peristiwa selalu dijadikan masalah. Jujur, sebenarnya saya tidak tahu persis apa yang terjadi sebelum pertengkaran terakhir itu. Saya masih anak-anak yang belum paham dunia orang dewasa. Yang saya rasakan cuma satu: semenjak mereka berpisah, hidup saya yang awalnya cukup baik-baik saja jadi terasa suram. Dan, oh, seharusnya saya tak perlu berpanjang-panjang menjelaskan ini.

Mari melanjutkan yang ini saja; enak juga ya jadi batu. Meskipun misalnya ketika orang-orang mengambil saya dari pegunungan, saya akan tetap diam saja. Saya akan mengikuti alur hidup saya. Mereka mungkin akan memecah belah saya menjadi batu-batu kecil, lantas dijadikannya saya sebagai bahan bangunan, atau mungkin mereka malah menghancurkan saya jadi abu, saya tidak akan peduli.

Ketika saya sudah menjadi bagian dari bangunan rumah-rumah manusia, saya tetap tidak akan peduli bahkan jika seandainya di dalam rumah itu ada dua orang bertengkar hebat, lantas berpisah, dan meninggalkan anak-anak mereka dalam kemurungan abadi. Itu akan lebih baik daripada saya menjadi manusia yang bisa merasakan sakit hati, manusia yang dalam hidupnya terus-menerus dihantui trauma.

Dan saya pikir enak juga jadi pohon-pohon. Saya akan hidup dan bermanfaat bagi bumi. Saya mungkin akan sedikit memberi oksigen untuk kelangsungan hidup makhluk-makhluk. Saya akan menikmati angin yang berembus dan membelai ranting dan daun-daun yang saya miliki. Menjadi pohon tentu saja akan membuat saya tidak perlu lagi menjalani hidup yang luntang-lantung, yang butuh sandaran, yang butuh telinga orang lain untuk mendengarkan keluh kesah saya. Atau paling tidak, saya tidak perlu memikirkan di hari esok kesialan apa lagi yang akan saya hadapi.

Menjadi pohon juga akan mencegah saya untuk berpikir melakukan tindakan bunuh diri. Ya, saya sering memikirkan ini. Bagaimana jika saya cepat-cepat mati saja. Hidup saya sudah sungguh tak berguna. Setelah kepergian Ibu dari rumah, dan setelah melihat kemarahan Ayah, saya memutuskan pergi begitu saja. Saya lebih baik menjadi gelandangan daripada hidup di bawah asuhan Ayah. Ayah adalah monster yang kapan saja bisa membunuh saya.

Tapi, menjadi gelandangan sungguh bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Saya sering didera kelaparan karena tidak membawa sepeser pun uang. Saya meminta-minta, menjadi pengemis, untuk satu bungkus nasi. Ketika saya benar-benar capek, saya tiduran di taman kota dan sungguh anjing, benar-benar anjing, beberapa orang memang tak tahu caranya bersikap baik kepada gelandangan. Mereka bilang, jangan tidur di taman. Saya dianggap sebagai kotoran. Najis. Bangsat.

Saya sungguh tersiksa menjadi gelandangan. Kadang di situ saya membayangkan bagaimana kalau kedua orang tua saya adalah orang-orang yang baik. Mereka tidak pernah bertengkar. Mereka membiarkan saya hidup layaknya seorang anak. Mereka membiarkan saya menikmati kerja keras mereka. Ya, sebetulnya mereka adalah pekerja keras, yang akhirnya membuat keluarga kami jadi keluarga yang mapan. Oh tidak, bukan cuma itu. Keluarga yang kaya. Apa yang saya inginkan, pasti dituruti. Tapi, nasib baik memang sedang tidak berpihak pada saya.

Saya pernah ditangkap polisi karena dituduh mencuri. Dan sialnya, mereka tidak benar-benar menyelidiki apakah saya memang telah mencuri. Anjing betul. Saya mendekam di penjara selama enam bulan. Saya tidak tahu apakah itu adalah waktu yang panjang atau pendek.

Tapi, hal itu sudah berlalu. Saya tidak tahu kenapa juga nasib masih berpihak pada saya. Singkat cerita, saya masih ditolong orang baik. Ia mengurusi hidup saya, membiayai saya sekolah lagi, bahkan sampai kuliah. Tapi, ketika saya sedang duduk di sini, sedang memikirkan ‘enak juga ya jadi batu, atau enak juga ya jadi pohon’ ini, orang baik itu sudah pergi. Kepergiannya bahkan membuat kepala saya mau pecah. Hati saya hancur berkeping-keping. Ini sama menyakitkannya dengan peristiwa perpisahan kedua orang tua saya. Hidup saya benar-benar malang.

Tentu saja jika saya menjadi pohon, saya tidak akan pernah mengalami kemalangan yang seperti itu. Mungkin orang-orang akan menebang saya, lantas menjadikan saya sebagai kayu bakar, bahan miniatur, ukiran, kertas, dan sebagainya. Tapi, saya tidak peduli jika memang hal itu akan terjadi. Saya bahkan akan baik-baik saja jika mereka menghancurkan saya jadi selembut abu, lalu mencetak saya jadi batangan kecil untuk korek api kayu.

“Mas… pinjem korek.” Orang yang tadi duduk di samping saya menghampiri saya lagi. Pinjam korek api lagi. Saya buru-buru menyodorkannya.

“Sendirian saja sejak tadi?”

Saya mengangguk. “Iya, Mas.”

“Kulihat sejak tadi Mas-nya ngelamun terus. Ada apa?”

Mas-mas ini mungkin terasa sok asik, tapi kenapa saya tidak merasa terganggu?

“Oh, nggak, Mas. Saya emang suka bengong.”

“Okelah kalau begitu. Baik-baik saja, kan?”

Ha? Orang yang sama sekali tidak kenal saya menanyakan apakah saya baik-baik saja.

“Aman, Mas.” Saya menimpalinya dengan senyuman.

Setelah mengucapkan terima kasih karena sudah dipinjami korek, orang itu pergi. Entah kenapa kemudian dada saya mekar. Saya bahagia. Sudah lama tidak ada yang menanyakan kabar saya. Ini sedikit membuat saya lupa dengan kesuraman hidup saya, dan membuat saya tak sempat memberi judul pada cerita ini.

2023-2024

D
Tentang Penulis

Daruz Armedian

Lahir di Tuban

Daruz Armedian, lahir di Tuban. Pada 2016 dan 2017, ia memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya pernah di koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, detik.com, basabasi.co, dll.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.