Lewati ke konten

Sirene di Wuhan

January 29, 2025 · Hery Yanto The

Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tarikan napasnya yang satu-satu terdengar jelas. Chou Jun kembali melihat dunianya yang nyata. Terbangun dan sadar bahwa ia baru saja bermimpi. Bermimpi lagi melihat badannya yang digerogoti ulat-ulat. Terbujur kaku dalam satu kantong mayat yang berjejer di trotoar yang diselimuti serpihan salju tipis. 

Tubuhnya gemetar dan ia mencoba menghentikannya dengan memeluk dirinya sendiri. Setelah getaran itu berkurang, dinyalakan lampu tidur untuk memastikan bahwa ia memang di kamarnya. Ditatapnya langit-langit kamar sambil memastikan bahwa sirene yang didengarnya memang nyata. 

Musim dingin telah kembali dan Chou Jun sudah lelah menghitung berapa kali ia terus bermimpi buruk. Ia melangkah ke arah jendela. Melihat jalanan malam yang sepi. Hanya ada jejak ban mobil di salju tipis yang menutupi aspal. Pohon-pohon sama saja setiap musim dingin. Tanpa daun dan terlihat seperti tangan-tangan yang menjulur mencoba meraih langit. Suasana malam yang sepi ini membawa ingatannya kembali ke masa itu. 

Mimpi itu membuat Chou Jun enggan tidur lagi. Dicermatinya setiap sudut di dekat apartemennya dari jendela. Tempat ini tidak membisu sekarang. Hanya sepi. Bangku-bangku di taman memang kosong, tapi tidak lagi di saat matahari bersinar. Jika terang nanti, kota ini sepertinya sudah melupakan duka dan lara yang masih terus ada di mimpinya. 

Masih sulit bagi Chou Jun untuk mengusir ketakutan yang menyelubungi hatinya. Bahkan mimpi-mimpi selalu membawanya kembali pada kejadian-kejadian yang telah mengubah hidupnya dan kota ini. Ia masih mengingat dengan baik wajah-wajah tersenyum yang telah hilang, tawa canda yang berubah menjadi jeritan, dan kemarahan yang ditunjukkan dengan merusak apa saja. 

Dengan pikirannya yang penuh gejolak, ia menyadari bahwa rasa takut itu bukan hanya dari mimpinya. Mimpinya adalah kenyataan di luar sana yang tak henti-hentinya mengejarnya. Ia merasakan sebuah tanggung jawab yang berat, seolah-olah ia adalah satu-satunya yang masih bisa merasakan kesedihan ini, satu-satunya yang masih peduli.

Mimpinya tentang kematian dan kehilangan terus menggema, mengingatkannya bahwa hidup di tengah ketidakpastian bukanlah hal yang mudah, dan bahwa ia harus berjuang melawan bayang-bayang yang selalu mengintai. 

Ketakutan dari mimpi-mimpi itu telah mulai mengendalikan hidupnya. Ia ingin mengubah mimpi buruknya menjadi kekuatan untuk melanjutkan hidup. Chou Jun berjalan ke dapur kecilnya dan menyalakan teko listrik untuk memanaskan air. 

Saat air mendidih, ia berbicara pelan pada dirinya sendiri, “Apa ini akan berakhir? Bagaimana caranya aku bisa keluar dari mimpi-mimpi buruk itu?” Namun, jawaban yang datang hanyalah suara pelan dari uap yang keluar dari teko.

**

Ponselnya yang tergeletak di meja bergetar. Chou Jun mengambilnya dan melihat notifikasi pesan baru. Tertera ‘Chen Fang’. Masih diingatnya dengan baik, baru saja mereka turun dan berpisah di tempat perhentian bus. 

Mereka masih bercanda sepanjang perjalanan pulang. Ia masih ingat Chen Fang dengan muka lebar menunjuk ke arah kafe kecil di dekat gedung tempat mereka mengantarkan lamaran pekerjaan. 

“Kau tahu, Chou Jun,” sambil menunjuk dengan jempolnya, “Kalau kita diterima, aku akan mentraktirmu di sana. Aku sudah lama ingin mencoba kopi mahal itu!”

“Tunggu sampai kita benar-benar diterima, Chen Fang. Jangan terlalu percaya diri dulu. Saingan kita tidak mudah,” timpal Chou Jun sambil menurunkan tangannya. 

“Oh, ayolah,” balas Chen Fang sambil menepuk bahu Chou Jun. “Dengan nilai kita dan betapa keren penampilan kita hari ini, apa kamu kira mereka tidak langsung terkesan dengan kita, Da Ge!”

Masih banyak yang mereka bincangkan siang itu sambil menunggu datangnya bus. Chou Jun ingat pohon-pohon di sekitar tempat menunggu bus sudah meranggas. Dedaunan kering yang jatuh tertiup angin dan hatinya merasakan damai awal musim dingin. 

Chou Jun beralih untuk membaca pesan  dari Chen Fang. 

Blokku ditutup. Aku tidak bisa pulang!”

Ia buru-buru menekan “panggil”, dan suara Chen Fang terdengar begitu panik di ujung telepon.

“Chou Jun! Aku terjebak di luar! Mereka menutup seluruh blok karena ada yang terinfeksi,” suara Chen Fang terdengar gemetar. “Aku baru saja sampai di depan gerbang, dan sekarang aku tidak bisa kembali ke rumahku.” 

“Kalau begitu kamu ke tempatku saja,” ujar Chou Jun mencoba menenangkan.

“Petugas di sini tidak mengizinkan aku ke mana-mana. Mereka menintaku dan beberapa orang yang juga akan masuk ke kompleks untuk menunggu petunjuk dari ketua blok,” lanjut Chen Fang. 

“Jangan panik,” balas Chou Jun walau ia juga tidak bisa menghindari perasaan tersebut. 

“Aku hanya khawatir dengan keluargaku,”  tutur Chen Fang.

“Percayalah, mereka akan baik-baik saja,” balas Chou Jun. 

“Petugas jaga memanggilku. Nanti aku telepon lagi,” setelah itu sambungan terputus. 

Bersamaan pula Chou Jun mendengar suara sirene beriring-iringan di sekitarnya. Ia melihat keluar dari jendela dan melihat garis pembatas kuning yang baru dipasang di sekitar blok apartemennya. Para petugas medis dengan pakaian pelindung diri berwarna putih bergerak cepat, menyemprotkan cairan disinfektan ke jalanan. Pemandangan itu membuat dirinya mempertegas kenyataan bahwa situasi semakin kacau.

Chou Jun meletakkan ponselnya dengan tangan yang gemetar. Di luar, salju tipis mulai turun, mengiringi suara sirene dan sahut-sahutan petugas berpakaian pelindung diri. Seketika itu juga Chou Jun berfirasat akan ada yang lebih buruk dari badai salju yang biasa datang di kota ini.

**

“Kamu, ayo cepat, jangan berdiri di situ!” teriak salah satu rekan sukarelawannya yang sedang sibuk mencatat daftar penghuni blok yang harus diperiksa.

“Iya… iya, aku datang,” jawab Chou Jun tergagap, masih tertegun oleh pemandangan yang baru saja dilihatnya.

Po Tu, relawan yang baru saja memanggilnya, menatap Chou Jun dari balik penutup wajahnya dengan serius. “Kita tidak punya waktu untuk terkejut. Setiap menit berarti di sini.”

Chou Jun mengangguk dan mencoba mengumpulkan keberanian. Ia mengikuti Po Tu menuju pintu rumah yang tertutup rapat dan telah ditempeli segel kertas merah, tanda bahwa penghuni di dalamnya sedang karantina. Suasana tegang terasa di sekitar, dinginnya malam di musim bersalju semakin menusuk tulang.

Di sela-sela menjalankan tugas sebagai pasukan kesehatan sukarela, Chou Jun terkadang mendapati dirinya mengingat percakapan hangat bersama teman-temannya di masa lalu, saat mereka masih tinggal di asrama kampus. Ia teringat bagaimana mereka dulu sering membayangkan indahnya dunia kerja setelah lulus.

“Chou Jun, nanti kalau kamu sudah kerja di Jepang, kamu akan mengirimi kami oleh-oleh sushi asli, kan?” canda Wei Hong, teman sekamarnya, sambil tertawa.

“Tentu saja dan aku harus memberi sushi itu banyak pengawet supaya tidak basi,” jawab Chou Jun penuh semangat. “Mudah-mudahan saja kalian tetap sehat setelah memakannya.”

Kenangan itu terasa begitu jauh sekarang, seolah-olah milik kehidupan yang berbeda. Ia kembali ke kenyataan saat ini, Po Tu sedang  berbicara kepadanya.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali,” katanya sambil meletakkan tangan di bahu Chou Jun.

“Aku… hanya sedikit lelah dan semoga kita tidak harus mengisi kantong mayat lagi,” jawab Chou Jun pelan. “Semua ini terasa terlalu menyedihkan bagiku.”

Po Tu mengangguk dengan penuh pengertian. “Kita semua merasakannya. Tapi ingat, kita melakukan ini demi orang-orang yang kita sayangi. Jangan lupa untuk tetap menjaga dirimu sendiri.”

**

Sambil menyeduh teh dengan air panas dari teko, Chou Jun menatap dinding kosong dengan pikiran yang melayang. Ia merasa hampa, seolah-olah semua energi dan semangatnya telah terkuras habis. 

Ia mencoba mengingat-ingat lagi pesan dari Mei, “Kamu harus tinggalkan kota ini Chou Jun. Mungkin dengan begitu mimpi buruk itu tidak akan datang lagi.”

Chou Jun ingat juga ia menjawab Mei dengan pelan, “Aku tidak tahu, Mei. Kadang aku merasa seperti tidak ada jalan keluar dari semua ini.”

Mei mencoba menenangkannya, tetapi Chou Jun tahu bahwa bahkan kata-kata terbaik sekalipun tidak bisa menghapus trauma dan kenangan buruk yang telah tertanam begitu dalam. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti saran Mei untuk mendatangi sebuah pusat komunitas kecil yang menawarkan layanan konsultasi kesehatan mental gratis. Di sana, ia bertemu Lin Jian. 

“Rasa sakit ini tidak harus menjadi akhir ceritamu, Chou Jun,” kata Lin Jian suatu hari setelah beberapa bulan Chou Jun mengunjunginya. “Ini bisa menjadi awal baru. Jika kamu mau bergabung dan membantu rekan saya yang saat ini sedang mendapat tugas di Jepang.” 

“Kamu menawari aku pekerjaan?” tanya Chou Jun dengan muka berseri. 

“Lebih tepatnya sukarelawan berbayar. Walau bayarannya tidak besar, kamu akan dapat tempat tinggal. Lembaga sosial ini sedang mencari orang Cina yang bisa berbahasa Jepang. Kamu adalah orang yang tepat, “ ucap Lin Jian sambil tersenyum. 

**

Mimpi-mimpi itu masih datang juga. Tapi, wujudnya sudah berbeda. Bukan lagi kantong-kantong mayat dan tentang kematian. Sekarang mimpi itu sepertinya bersalin rupa. Menjadi senyuman dan pelukan hangat dari mereka yang pernah jadi kenangan di masa lalu Chou Jun. Meninggalkan Wuhan dan memulai lembaran baru di Kanazawa, Jepang membuat Chou Jun seperti menemukan cahaya yang menunggunya di tempat baru. 

Walau sama menggigilnya dengan Wuhan kala musim dingin tiba, Kanazawa memberikan sensasi dingin yang terasa lembut. Suasana permukiman yang diselingi dengan arsitektur lama membuat Chou Jun bisa melupakan dengan cepat kekacauan urban Wuhan. Daun-daun emas dan bunga-bunga yang unik menghiasi musim semi sedikit banyak telah membantu mengubur sebagian kenangan pahit.  Di sinilah ketenteraman hati Chou Jun bisa kembali. ***

H
Tentang Penulis

Hery Yanto The

Meski lebih banyak menulis non-fiksi, Hery Yanto The, yang juga adalah seorang guru kaligrafi Cina senang juga berpetualang di dunia sastra. Hery gemar sekali membaca cerpen dan novel di waktu luang. Ia juga mencoba mempraktikkan cara penulis favoritnya untuk bercerita.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.