Lewati ke konten

Malabar

July 31, 2024 · Fatih Muftih

Ilustrasi Cerpen Malabar Fatuh Muftih Suku Sastra

Malabar datang. Berdecit. Dia adalah dewa. Ketika melintas, setiap kendaraan harus berhenti. Truk, bus, mobil, motor, becak, sepeda. Pejalan kaki sekalipun. Buruk padahnya sampai berani melanggar Malabar yang datang dari arah barat.

Dengan cara yang amat anggun ia merapat. Peron lantas menggeliat. Ada yang turun, tak sedikit yang naik. Malabar diam sejenak hingga terdengar tiup peluit. Lampu hijau sudah dinaikkan. Asap sudah mengepul dari kepalanya. Malabar yang dilapisi cahaya senja itu bergerak. Melaju. Meninggalkan Bandung dengan segenap kenangan di benak setiap orang dalam perutnya.

Bergoyangan, tiap sambungan tubuh Malabar adalah tempat pesta. Terutama bagi kaum laki-laki ahli isap. Sebuah kebijakan frontal telah dipilih. Mereka, para pemegang kekuasaan, memutuskan untuk tidak lagi memberikan surga di tiap sudut. Malabar di antaranya. Sesiapa yang ingin melepas penat dan suntuk mesti rela mencangkung dan waspada pada mata petugas Malabar yang awas.

Kondisi itu pula yang mempertemukan aku dengannya, seorang gadis berjaket kulit hitam, dengan tindik di hidung dan bau parfum murahan. Ia jongkok di tepi gerbong dengan pintu terbuka. Rambutnya melambai-lambai diterpa laju angin Malabar.

Dengan mata berlensa kontak berwarna biru, ia menatapku yang datang dan turut jongkok. Sekilas, tak sampai tiga detik kemudian kembali melempar pandangannya ke luar pintu, menuju bebukit dan gegunung yang membentang sepanjang Jawa Barat bagian selatan.

Malabar berlari. Tapi, belum maksimal. Sepanjang perjalanan hingga ke Ciamis, ia tak bisa menggunakan tenaga maksimalnya. Selain karena jalan yang berliku-liku, juga karena kontur tanah yang acap longsor. Karena itu, Malabar memilih memperlambat jalannya.

“Pinjam korek.”

Punya satu bungkus rokok tanpa pemantik adalah kondisi yang paling menyebalkan. Perempuan itu mengangsurkan rokok mentolnya yang masih menyala. Tanpa kata. Bibirnya yang kehitaman itu tetap terkatup.

“Terima kasih,” kataku sembari mengembalikan rokoknya. “Mau ke mana, Mbak?”

“Madiun. Mas?”

“Malang.”

“Oh.”

Langit telah hitam. Hujan santai membasahi kaca Malabar. Pintu yang sedari tadi dibiarkan terbuka sudah ditutup olehnya. Tempias membasahi sebagian rambutnya yang ternyata disemir kemerahan. Baru kelihatan saat ia melintas di bawah siraman lampu dari atap. Ia duduk menekuk lutut dan mengencangkan ritsleting jaketnya. Tapi, matanya tetap terlempar ke jendela. Menembus kaca. Dan bisa jadi menembus ruang dan waktu.

Para petugas penyelia tiket sudah mulai bekerja. Sebelum didapatinya aku sedang melakukan tindakan ilegal, aku menginjak puntung rokok yang masih menyala lalu kembali ke tempat duduk. A1, begitu yang tertulis di karcis. Dan tak disangka, orang yang duduk di bangku A3 adalah gadis berlensa mata biru itu.

***

Malabar hanya berhenti sejenak di tiap stasiun yang dilewatinya. Sudah jadi maklum, kesempatan yang sempit itu tak pernah disia-siakan para pengais rupiah yang makin variatif. Dulu, sepuluh tahun silam, saat kali pertama aku menaiki kereta api, hanya para penjaja kacang, air mineral, dan nasi bungkus saja yang berebut masuk pintu kereta. Tapi, ini kali tidak. Gerombolan itu juga disesaki bocah-bocah. Mereka berteriak dengan rintih memelas, “Om… bagi duit, Om.” Mata teduh seorang bocah meninju mataku. Tak sampai hati. Kuulurkan seribu, berharap mata malaikat itu segera lenyap. Tapi, aku salah kaprah. Seribu yang semula adalah penghilang malah mendatangkan kawanan bocah lainnya, yang sama-sama berbaju kebesaran dan dekil.

Sontak saja aku mengangkat tanganku, tanda meminta maaf. Tapi, mereka memaksa, mengintimidasiku dengan sorot mata. Tak lama mereka jengah sendiri lantaran aku tetap tak bergeming untuk merogoh kocekku. Lalu mereka beringsut ke kursi A3.

Pemilik mata di kursi A3 menatap bocah-bocah itu sama seperti saat menatapku. Sekilas dan tanpa reaksi. Matanya seolah berkomunikasi dengan mata mereka. Sebuah bahasa yang tak mampu kudengar, apalagi dimengerti. Sepintas kemudian mereka bergegas lari ke pintu gerbong. Peluit sudah ditiup. Malabar kembali bergerak. Jig-jes… jig-jes… jig-jes… begitu bunyi yang terdengar. Perempuan di depanku itu lantas menyandarkan kepalanya ke kaca, memeluk dengkul, dan memejamkan mata. 

Ke mana perhatiannya terbang, batinku.

Untuk membuang rasa bosan yang mengancamku lewat jengah yang tak habis-habis, kualihkan pandangan ke turis-turis yang berjogetan di delapan baris belakang kursiku. Mereka begitu menikmati perjalanan ini. Begitu bila didengar dari tawanya yang cekakakan. Betulkah perjalanan itu sebuah kebahagiaan? Kenapa pula aku tak sempat tertawa sejak sore tadi? Aku seperti puncak gunung yang terus diselimuti kabut. Kabut kalut, tepatnya. Namun, yang membuatku susah adalah kalut yang tak kumengerti kenapa. Mungkin saja disebabkan karena aku lupa membawa beberapa buku bacaan sehingga membuatku tertikam bosan yang merajam.

Tiba-tiba saja perempuan A3 itu bergerak. Kakinya yang dipeluk sedari tadi kini ia selonjorkan. Mungkin karena peraliran darahnya yang tersumbat membuatnya kesemutan. Setelah dirasa cukup, ia kembali menatap kaca Malabar yang telah menghitam. Malam semakin pekat. Dari kaca, yang terlihat hanya titik-titik cahaya lampu rumah.

Kukira ponselku yang berdering, tetapi ternyata miliknya. Ponsel kami berbeda, tapi, karena setelan standar pabrik, nada deringnya sama. Aku terkesiap sambil setengah mengumpat. Lirih saja, tak sopan bila kuat-kuat. Namun, aku justru mendengar umpatan dalam bahasa Jawa. Lantang. Itu bukan dari mulutku, melainkan dari mulut perempuan A3 yang sedang bercakap-cakap lewat ponselnya.

“Hei, asu…” umpatnya, “jangan kira aku takut sama kamu, ya. Kalau berani kita ketemu di Madiun. Aku masih di kereta ini.”

Seseorang seperti apakah yang pantas dipanggil asu, anak anjing?

“Ngomong apa kamu?” ia kembali berteriak. Tak peduli jika banyak pasang mata yang memperhatikannya. “Kamu itu yang lonte! Seenaknya aja ngatain orang.”

Pendengaranku menajam, mencoba menerjemahkan topik pembicaraan. 

“Lagian Mas Dani itu suka sama aku. Dia itu tulus dan bener mau ngawinin aku. Kamu itu yang kegatelan. Dasar lonte! Lonte ya tetap lonte!”

Klik. Telepon ditutup. Perempuan itu menaruh, tepatnya melempar, ponselnya ke dalam tas. Lalu, karena menyadari banyak orang yang mengawasi, ia permisi padaku ke kamar mandi.

Jaket kulit hitam, parfum murahan, tindik hidung, tindik lidah, dua tindik telinga, celak tebal. Perempuan apakah ini?

***

Jig-jes… jig-jes… itu tak lagi terdengar saat kubuka mata. Entah sudah berapa stasiun kulewati dengan tidur. Kuintip dari jendela. Stasiun Wates. Sebentar lagi masuk Yogya. Sejenak aku keluar dari Malabar, membereskan kesadaran yang belum penuh. Putih asap rokok seolah mengantarkan ceceran puing-puing kesadaran hingga utuh. Namun, belum sebenarnya utuh karena perempuan A3 itu mendatangiku. 

Kuncir rambutnya tak lagi semenawan saat kali pertama di Kiaracondong tadi sore. Tapi, langkahnya masih sama. Suaranya juga masih serak khas penyanyi dangdut. Di mulutnya nangkring sebatang rokok.

“Api?”

Mungkin pemantiknya tertinggal di tas. Kebetulan, di Wates aku membeli dari seorang penjaja.

Ia mengembuskan asap pertama rokoknya habis-habisan, seperti membuang segala beban yang memenuhi rongga dadanya.

“Sudah pernah ke Madiun, Mas?” ia membuka percakapan, sesuatu yang tak berani kumulai meski jarak kami dalam Malabar hanya sedepa saja.

Aku menggeleng. Madiun hanya kukenal lewat peta saja. 

Ia menyeringai. “Kalau ke Madiun, paling enak itu makan nasi pecel. Sepanjang yang aku tahu, cuma nasi pecel Madiun aja yang super.”

Kupikir ia akan menceritakan soal asu atau lonte.

Aku hanya tertawa kecil untuk menimpali percakapan. 

“Aku bisa ngomong gitu karena dulu ibuku jualan pecel. Sedikit-banyak aku bisa buat pecel khas Madiun.”

Apa menariknya berbicara tentang pecel? Aku mulai ingin mengakhiri pembicaraan. Tapi, sebelum aku pamit naik ke Malabar karena rokokku sudah habis, ia bersuara.

“Itu dulu.” Ada jeda karena ia mesti mengembuskan asap. “Sebelum ke Bandung. Oh iya, Mas sendiri di Bandung mana?”

“Caheum, ke tempat pacar,” jawabku lengkap dengan keterangan urusanku.

Ia tertawa. Tawa yang sama dengan bule-bule gila tadi. “Hari begini masih percaya sama yang namanya pacar?” tawanya mulai terdengar mengejek. “Jadi, jauh-jauh dari Malang ke Bandung cuma mau nemuin cewek?”

“Iya,” kataku. Untuk menyembunyikan jengkel atau malu, aku menyulut lagi sebatang rokok.

“Mas,” ia memanggil sambil menepuk lenganku, “cinta itu kayak kulupan pas makan pecel. Bisa diganti apa saja. Sekarang, mungkin Mas itu kangkung buatnya. Kalau kangkung nggak ada kan bisa diganti bayam, sawi, kecipir, atau apa ajalah. Jadi, jangan terlalu ngarep.”

Betapa analoginya ini menggumpalkan asap rokokku, memukul tenggorokan, dan membuatku tersedak.

“Mestinya, Mas jadi kacang tanah. Bukan pecel kan kalau nggak ada kacang.”

Kini giliranku yang menyeringai sambil sesekali memperhatikan bahwa lampu hijau belum menyala.

“Sori soal yang tadi.”

Kenapa perempuan A3 ini meminta maaf. Rasanya ia tak bersalah satu pun. Sontak garis-garis mukanya menegas. Tak ada lagi cengegesan seperti saat ia menerangkan pecel.

“Aku kesal banget sama Janah. Dia itu mau ngerebut Mas Dani dariku. Pake ngata-ngatain lonte segala lagi. Apa setiap wanita yang kerja di bar itu lonte? Nggak kan, Mas?”

Matanya meminta pembenaran. “Iya, Mbak. Nggak semua kulupan pecel itu pakai kangkung.” Entah tenaga mana yang memberanikanku mencuri analoginya.

“Dan kangkung itu cepet basi, Mas.”

Juga melemahkan, begitu yang kubaca di buku IPA.

Kami tertawa bersama. Tawa yang lebih gila dari bule-bule itu. 

***

Langit pagi baru membiru. Biru tipis. Mataku mengeriyip melongok jam di tangan. Pukul enam pagi. Aku terjaga dari tidur. Suara bersahutan menelisik telinga, membangunkanku dari tidur yang tak lelap. Aku baru bisa memicing pukul empat pagi, saat kereta baru saja melintasi perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. 

“Pecel… pecel… sarapan pecel..,” pekik suara yang bertumpang tindih karena tak berasal dari satu mulut saja.

Aku mengintip dari balik kaca, mencari tahu posisi Malabar kini berhenti. Madiun. Aih. Aku terhenyak. Perempuan A3 itu sudah tak ada lagi di bangkunya. Barang-barang bawaannya pun sudah tak nampak di atasku.

Mungkin ia sudah turun, aku menyimpulkan. 

“Pecel satu, Mbake.”

Perut yang sedari malam tadi menahan godaan gudeg ini harus segera diisi. 

Benar kata perempuan itu. Pecel Madiun memang tiada bandingannya. Pedasnya pas tanpa menggigit-gigit lidah, bulir kacangnya diulek sehingga agak kasar, dan kulupan-nya memang segar. Dan aku sadar, kulupan itu bukanlah kangkung.

“Kangkung lagi susah, Mas. Jadi pakai bayam,” ibu-ibu penjual itu menerangkan. 

Apa pun, Bu. Kurasa itu tetap pecel.***

Catatan: Cerpen ini pernah terbit di situs web Joglitfest.com

F
Tentang Penulis

Fatih Muftih

Fatih Muftih lahir di Banyuwangi. Ia menulis cerpen, puisi, dan esai. Sekarang ia tinggal di Tanjungpinang. "Tak Melayu Hilang" di Jawa adalah buku kumpulan cerpen pertamanya sementara "Mengapa Mario Menghidupkan Raja Ali Haji" adalah kumpulan esainya. Ia Kini aktif sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.