Joko Pinjaman
July 25, 2024 · Latief S. Nugraha
Pada jam bacaan rohani sore hari, dentang lonceng gereja dari kapel SMA Seminari Mertoyudan, Magelang berdentang. Saat itu, seorang siswa kelas 1 yang memiliki kebiasaan merenung dan berimajinasi tengah menyendiri dan berjalan-jalan di taman. Ia dengarkan dengan saksama dentang lonceng gereja itu. Ia rasakan ada hal ganjil telah terjadi. Serupa seorang rahib yang menerima pencerahan, ia mendapatkan sebiji puisi.
KEMBOJA
Kemboja itu kelihatan duka
mengiring kepergian daun-daun tua
yang gugur diterpa gema lonceng gereja.
Ia asah imajinasi, ia tautkan satu peristiwa dengan peristiwa lain, ia temukan sensasi di luar kebiasaan pada suatu hal yang sesungguhnya rutin dan biasa. Ia sadari adanya sesuatu yang lain dalam puisi tersebut, yaitu hubungan gaib yang Ajaib antara gugurnya daun-daun kamboja dan gema lonceng gereja. Singkat cerita, saat itu Joko Pinurbo mulai merasakan asyiknya bermain kata.
Melalui puisi mungil itulah sebuah pintu menuju sebentang jalan kepenyairan terbuka. Suatu pilihan yang melebihi kehendak, atau dengan kata lain mengalihkan (atau malah mengalahkan) niat, yaitu bahwa asrama seminari justru merupakan kutub yang menentukan arah hidup Joko Pinurbo sebagai penyair: sebagai maestro!

Adalah Aquila, sebuah majalah legendaris yang diterbitkan SMA Seminari Mertoyudan, Magelang, wadah yang meyakinkan langkah awal karier penyair Joko Pinurbo. Puisi pertama karya Joko Pinurbo yang berjudul Kemboja itu terbit di Aquila kisaran 1978. Setelahnya, ia mulai percaya diri mengirimkan puisi-puisi lainnya ke berbagai media. Puisinya kemudian dimuat di majalah Praba (majalah Katolik yang tergolong tua karena terbit sejak 1949) dan majalah Semangat (majalah untuk remaja dengan rubrik sastra yang diasuh Ragil Suwarna Pragolapati). Saat SMA ia juga sudah mulai menulis esai dan pernah dimuat di rubrik bahasa surat kabar Kompas.
Kesenangannya menulis tidak lepas dari kegemaran membaca. Ia beruntung pernah menjalani masa persemaian di sebuah sekolah/asrama yang menaruh perhatian besar pada pentingnya kebiasaan membaca dan menyediakan berbagai bacaan yang dibutuhkan. Untuk ukuran saat itu, perpustakaan Seminari Mertoyudan sungguh mengagumkan.
Dalam percakapan Linus Suryadi AG dengan Joko Pinurbo yang tertulis di dalam antologi puisi 32 penyair Yogya, Tugu (1986), Linus menanyakan kenapa Joko Pinurbo tidak melanjutkan ke seminari tinggi dan menjadi pastor. Penyair muda yang baru berusia 24 tahun itu menjawab bahwa menjadi pastor merupakan cita-cita masa kecilnya yang terbentuk dari lingkungan keluarga. Namun, setelah menyadari bakat seni yang dimiliki, perlahan rasa tidak cocok muncul.
Baginya, formalitas dan rutinitas di seminari membosankan, namun sekaligus membentuk. Asrama seperti dunia lain. Hidup terpola untuk dipersiapkan menunaikan tugas tertentu. Bukannya merasa berdosa, Joko Pinurbo justru merasa menemukan panggilan: identitas diri. Kalaulah hal itu disebut sebagai dosa, dosa itu ia tebus dengan puisi-puisi yang diciptakannya.
***
Joko Pinurbo dan Yogya, entah kenapa, seakan tak terpisahkan adanya. Biarpun dilahirkan di Sukabumi, Yogya adalah rumah baginya. Pasalnya, bapak dan ibunya asli Yogya, tepatnya dari sebuah desa di Ngemplak, Sleman.
Selesai menimba ilmu di SMA Seminari Mertoyudan (1981), akhirnya Joko Pinurbo pulang juga ke Yogya. Ia kemudian “dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu walau kadang rumit dan membingungkan”[2] di IKIP Sanata Dharma (tamat 1987). Di Yogya ia alami gejolak budaya. Hal itulah yang justru membuatnya kerasan.
Dalam kancah kesastraan di Yogya, Joko Pinurbo jumpai pergaulan sastrawan yang guyub, yang saling nggatekke, sehingga terjalin tegur sapa yang ramah, hangat, dan bersahaja. Puisi-puisi tentang Yogya, puisi-puisinya tentang dan untuk sastrawan Yogya beserta segenap dinamikanya pun tercipta pada dekade 1980-an.
Dekade 1990-an agaknya menjadi masa emas puisi-puisi Joko Pinurbo. Puisi-puisi yang bergeser, puisi-puisi yang megal-megol, banyak yang nongol. Sejumlah besar sudah dipublikasikan dalam berbagai antologi, majalah, dan surat kabar. Sebagian hilang, sebagian lagi masuk keranjang sampah.
Sudah berkali-kali ia coba menyusun kumpulan puisi, dan setiap kali itu pula gagal. Ia merasa tidak kunjung menemukan sejumlah sajak yang secara kualitatif layak untuk dikumpulkan dalam satu buku dengan menimbang keseragaman tema dan/atau gaya. Pada saat itu ia masih bertanya-tanya, “Apakah suatu saat nanti saya―sebagaimana banyak penyair―bisa mencapai tingkat kemapanan tertentu?”
Tidak serta-merta Joko Pinurbo menjadi penyair yang karyanya diperhitungkan. Ia mesti melalui proses yang panjang. Butuh waktu dua puluh tahun―persisnya dua puluh satu tahun―hingga Joko Pinurbo berhasil menemukan “celana yang paling pas dan pantas buat nampang”[3] di arena sastra Indonesia.
Ya, Celana, buku kumpulan puisi pertama Joko Pinurbo, terbit pada 1999, berisi puisi-puisi yang tidak lazim, yang menggelitik, yang liar, yang absurd, yang kaya akan literasi humor cerdas berupa parodi-parodi nakal yang diolah dengan teknik kebahasaan yang tangkas. Isi Celana Joko Pinurbo menunjukkan ketegangan dan keketatan seorang penyair yang memahami tradisi silensium serupa kerja para filsuf.
Puisi-puisinya kemudian membuat orang-orang jadi suka membaca puisi. Puisi-puisinya menampakkan imajinasi dan pikiran yang lebih terbuka dan bebas. Puisi-puisi itu seperti terlepas dari kungkungan dan aturan rezim khazanah perpuisian Indonesia modern.
Penerbitan Celana juga merupakan suatu momentum kemunculan yang bukan kebetulan, yang tidak bisa diulang, seturut dengan ambruknya rezim pemerintahan di wilayah politik praktis yang bobrok. Ingat, buku puisi Celana terbit 1999.
***
Satu hal yang menarik, dan barangkali tidak semua penyair bisa mencapainya: puisi-puisi Joko Pinurbo diterima berbagai kalangan di mana saja dan kapan saja. Sebuah pengalaman pribadi: pada 2007, saya bertemu Joko Pinurbo saat sedang menikmati lapar di “Angkringan” dalam sempitnya bilik warnet. Lima tahun kemudian, puisi tersebut terbit bersama puisi-puisi lainnya dalam buku Tahilalat.
Seturut dengan itu Joko Pinurbo banyak berceloteh di Twitter dan menghasilkan puitwit―yang kemudian terbit menjadi buku puisi grafis Haduh Aku Di-Follow (2013). Dari situlah, sependek yang saya tahu, akronim nama Jokpin mulai dikenal khalayak banyak. Dari situ pula asal ungkapan “Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan” yang terkenal dan banyak digunakan sebagai hiasan alih-alih ikon Kota Yogyakarta (sudah salah mengganti penulisan “Yogya” menjadi “Jogja”, royalti hak cipta sepeser pun tak ada).
Kelak, di zaman ketika orang-orang lebih banyak bermain di halaman-halaman laman dan media sosial, puisi dan sosok Joko Pinurbo akan makin dikenal. Dengan mudah ia bisa dijumpai oleh para pandhemen sastra, wabilkhusus puisi. Nama dan puisi Jokpin kemudian lengket di kalangan anak muda Generasi Z.
Nasib mujur juga memepet buku-bukunya. Puisi-puisinya berumur panjang. Buku-buku puisi barunya terbit, buku-buku lamanya dicetak ulang. Penghargaan demi penghargaan pun diterimanya dari berbagai ajang. Diakui ataupun tidak, hal itu terjadi ketika para penyair sezamannya justru tidak lagi berkarya dan perlahan surut dari arena sastra.
Ia tidak enggan dan tidak segan memupuk bibit-bibit penyair yang masih mau suntuk “beribadah puisi”. Ia tidak pernah mengatakan buruk pada puisi “penyair pemula”, seperti apa pun bentuknya. Sekalipun dalam kondisi kesehatan yang tidak baik-baik saja, ia rela meminjamkan dirinya untuk mengisi seminar sastra, mengisi pelatihan menulis puisi, berbagi kisah proses kreatif, menjadi juri sayembara cipta puisi, atau sekadar mempercakapkan kehidupan keseharian sembari ngudud di angkringan atau kedai kopi.
Seakan ia kembali ke masa muda dan jenak berlama-lama ketawa-ketiwi bersama para seniman Yogya―sebagaimana telah ia tuliskan di dalam puisi “Yogyanya Linus” (1991)―”…kantuknya ia jaga sampai pagi, kantuknya ia tahan sampai mati.”
***
Telah ia kembalikan Joko pinjamannya. “Kembalikan” dalam pengertian yang sesungguhnya!
“Joko… Joko… Joko…!”
Di sisi pusara yang baru saja selesai ditaburi bunga, seorang perempuan sepuh tiba-tiba rubuh. Dalam sedu sedan, ketika dibangkitkan dan dibopong meninggalkan kuburan, perempuan sepuh itu seperti hendak ngomong, tetapi hanya bisa menyebut nama, “Joko… Joko… Joko…!”
Betapa beruntung ketika anak kalimat pulang, masuk ke dalam palung, ia masih mendapat doa dari induk kalimat; bahwa ibu tak pernah kehilangan iba. Hingga keduanya menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal.[4]
Alfatihah untuk Joko Pinurbo.***
Catatan: Dibacakan dalam Celoteh acara Tak Perlu Sedu Sedan Itu #3 “Membaca Joko Pinurbo” yang diselenggarakan Hiruk Pikuk X Jejak Imaji pada perhelatan 1 Dekade Jejak Imaji, Minggu, 21 Juli 2024. *Telah mengalami beberapa penyesuaian.
[2] Dari puisi “Kamus Kecil” (2014).
[3] Dari puisi “Celana (1)” (1996).
[4] Diolah dari puisi “Kamus Kecil” (2014) karya Joko Pinurbo.
Latief S. Nugraha adalah penyair kelahiran Kulon Progo, Yogyakarta.
Baca Biografi Selengkapnya →