Romansa di Jagat Pakeliran
February 14, 2025 · Muhammad Maulana Suryo Kusumo
/terbenam sudah patalon mengiring gendhing pembuka
tatkala di tengahnya Nyai Sindhen menyendu palaran;
digedhog kothak mewangi kayu cendana
kita termenung sambil mengerang tembang./
para emban datang menghiasi pakeliran yang padat
Raja Brewu datang congkak mendongak!
Paman Patih dan Bapa Nujum datang memberi salam hormat
Kakang Adipati tiba disambut hangat.
harum tersebar: bunga di Taman Ngastinapura
kaca air kedung tempat rembulan bersolek rupa.
o, Dalang, benarkah ucapmu itu?
kau katakan cinta Banowati hanya kepada Duryudana seorang.
namun, lihatlah! tawa terindah Banowati
telah ia sajikan pada Arjuna—tamu agung dari Negeri Madukara.
mereka berdansa di balik perdu-perdu Taman Hastina
yang dihiasi bunga kanigara.
o, Dalang! adilkah kau cipta angkara?
perselingkuhan antara ksatria dan permaisuri raja
cintanya abadi, dalam selubung jarik kampuh sekar jagad.
o, Dewa Asmara! kau buat Janaka linglung kepala
melompat pagar pembatas, dicurinya permata raja:
/mampus kau, si Maling Rupa!/
Banowati terkekeh:
“Tuan rupawan dari brang wetan! mampus kau kujerat pidana.”
“Kakang Banowati, adakah pasal yang menghukumku
bahwa aku telah mencuri hatimu?”
“Begitulah. Pasal-pasal dewasmara yang akan jatuh memidana namamu, Cinta.”
“Jika ada pasal yang menghukumku,
izinkan aku untuk kaupenjara dalam hatimu yang ‘lungid’ itu.”
ah! mereka berdua terbuai dalam ranjang malam.
sebelum mentari menyandarkan cahaya di bahu dinding kedatuan.
Yogyakarta, 2023
Muhammad Maulana Suryo Kusumo, lahir di Wonosobo, 13 Agustus 2005. Saat ini tengah menikmati bangku perkuliahan Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung, dan sempat mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Indonesia, FBSB, UNY.
Baca Biografi Selengkapnya →