Peristiwa
Sate dan Harapan: Dua Hal Sebagai Penutup
September 19, 2025
Saya selalu kesulitan untuk menutup. Ketika menulis, misalnya, saya selalu menghabiskan waktu paling banyak untuk paragraf-paragraf akhir. Kala berkunjung ke suatu tempat yang saya rasa nyaman, saya bakal susah untuk kembali dan pulang. Tak terkecuali untuk Jogja Book Fair 2025 ini.
Sebelas hari telah lewat. Puluhan mata acara telah terlaksana. Ribuan orang lalu-lalang datang dan pergi. Ribuan pula buku yang dibeli dan dibawa pulang. Orang-orang baru saling berkenalan, juga banyak cerita yang dibagikan.
Saya kesulitan membayangkan itu semua bakal berakhir.
Jadi, malam itu (14/09/2025) saya cuma bisa duduk termenung di pinggir panggung, menyaksikan teras depan gedung DPAD DIY yang sebentar lagi memulai acara penutupan. Sebelumnya, saya sedikit berkeliling melihat keramaian orang di sisi timur, di bazar buku yang masih sesak, dengan antrean di kasir yang masih mengular cukup panjang, sementara di sisi barat orang-orang masih ramai pula bercengkerama di bukit buatan, dan tenda-tenda kuliner masih ramai dikunjungi.
Saya masih termenung di pinggir panggung tatkala Wijil, sebagai pembawa acara, memperkenalkan diri dan membuka acara penutupan. Ia lantas bersemangat menyebut nama-nama, dari nama mata acara yang sudah terlewat, nama-nama dewan penyelenggara, sampai nama-nama pihak yang turut bekerja sama. Tak lupa ia juga menyebut rangkaian acara penutupan dan kemudian mempersilakan Wawan Arif sebagai Ketua IKAPI DIY untuk maju dan menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai sambutan.
“IKAPI DIY bersama banyak pihak lain bakal mengajukan Yogya sebagai ibu kota buku dunia ke UNESCO,” ucap Wawan dalam sambutannya.
Ketika mendengarnya, semangat saya langsung membuncah. Sebagai perantau yang memilih mempertaruhkan nasib pada buku-buku dan terutama sastra di Yogya, tentu hal semacam itu, kalau saja kemudian betul terpilih, menjadi harapan lain. Bayangkan kalau Yogya bersanding namanya dengan kota-kota di dunia seperti Madrid, Antwerp, Turin, Beirut, Buenos Aires, dan seterusnya. Bagi orang-orang seperti saya, itu tentu menjadi harta karun yang baru saja ditemukan. Saya membayangkan festival besar yang bakal digelar dan banyak sorot mata dari dunia luar. Belum lagi soal kesempatan bersilaturahmi ke komunitas luar negeri yang bakal terbuka lebih lebar.
Saya jadi teringat diskusi soal ibu kota buku beberapa bulan lalu dan tulisan-tulisan yang pernah saya baca yang membicarakan itu.
Program ibu kota buku atau yang lebih lengkap bernama UNESCO World Book Capital itu diselenggarakan dan dipilih oleh UNESCO sejak 2001. Ibu kota buku dipilih bukan melalui sistem kompetisi, melainkan lewat penunjukan. Agar terpilih, kota-kota dari seluruh dunia harus menunjukkan diri bahwa mereka layak. Misalnya, dengan menunjukkan bagaimana buku-buku dirayakan, bagaimana festival-festival buku digelar, dan bagaimana masyarakatnya terbuka dan berminat terhadap buku. Dan seterusnya.
Yogyakarta, hemat saya, jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, sudah cukup banyak membuktikan banyak hal. Festival buku banyak digelar di sini. Perpustakaan dari yang kecil sampai yang besar, toko-toko buku dari yang kecil, mandiri, dan sepi, sampai yang indie dan viral bermekaran satu persatu di sini. Privilese Yogya sebagai kota pendidikan pun menyuburkan kultur perbukuan.
Apalagi jika melihat geliat sastrawan di Yogya. Banyak penyair dan prosais yang pelan-pelan tumbuh dan berkembang di sini. Yogya itulah yang, bagi banyak orang—meminjam istilah Indrian Koto, penyair asal Sumatra Barat yang masih tinggal di Yogya, dalam salah satu puisinya—merupakan “kelahiran kedua”, tempat /di kota ini, aku merasa Kembali dilahirkan/. Atau, merasa berada “Di Pangkuan Yogya”, seperti kata Iman Budhi Santosa, Yogya yang membuat /aku lahir kembali//bersama ribuan anak//belajar menggeliat merangkak//berdiri, berlari, dan menggambar//memulai pintar dari sunyi kamar/.
Di sisi lain, Yogya juga memaksa para penyair dan prosais itu berebut tempat dengan kecemasan//politik seperti orang tua nyinyir dalam//kerangkeng masa lalu: realitas lain yang pelan-pelan menyembul keluar. Yogya adalah juga kota yang, bagi banyak penulis, menguarkan kegetiran, kemurungan, dan menggiring nasib untuk dipertaruhkan hanya untuk menerima kekalahan. Seperti puisi yang ditulis Dea Anugerah, penyair kelahiran Bangka yang juga pernah tumbuh di Yogya: /kusaksikan daun trembesi//perlahan terlepas//tetapi aku hanya mengerti: airmata begitu panas/.
Soal mana yang lebih penting antara menjadi ibu kota buku dunia atau mengurusi kesehatan industri buku dan kesejahteraan para penulisnya, saya tak tahu. Saya malah teringat satu hal lain: sate.
Tiba-tiba saja tiupan angin dari sebelah kanan panggung membubungkan asap. Aroma daging kambing yang dibakar perlahan-lahan menguar bersamaan dengan sambutan-sambutan lain. Kurniawan sebagai kepala DPAD DIY naik ke panggung, menyebut angka-angka, dan sedikit menyinggung pengajuan Yogya sebagai ibu kota buku.
Fairuzul Mumtaz kemudian memimpin doa bersama. Setelah itu, komunitas Suling Bambu Nusantara tampil membawakan enam lagu. Tiga di antaranya mereka sebut bisa digunakan sebagai relaksasi. Campur sari Setia Hati Music Family menyusul, berbarengan dengan pembawa acara yang mempersilakan para pengunjung untuk mengambil makan secara prasmanan di sebelah kanan panggung. Menu utamanya adalah daging kambing.
Saya selalu kesulitan untuk menutup banyak hal, dan menyaksikan banyak hal lain ditutup. Tak terkecuali Jogja Book Fair 2025 ini.
Sebelas hari telah lewat dan saya sendiri mendapatkan banyak hal di sini. Teman-teman baru, cerita-cerita dari mereka, pengalaman-pengalaman baru, dan banyak hal yang sulit dilepas begitu saja. Tetapi, untungnya ia ditutup dengan manis, dengan makan dan musik, dan terutama dengan mimpi masa depan dan harapan.
Kalau Abdillah Danny bilang bahwa baca puisi tak semudah menggigit sate, biarlah urusan festival-festival semacam ini dibuat semudah memakan sate yang digigit, dikunyah, lantas tusuknya enteng saja dibuang.
Dalam urusan sate, kita tahu tusukan itu penting. Tetapi, untuk menikmatinya, kita toh perlu membuang tusukan itu, dan sibuk menggigit daging dan mengunyahnya.
Dalam persoalan buku dan sastra, kita tahu festival-festival itu penting. Tetapi, untuk menikmati buku dan sastra, untuk sesuatu yang lebih dan tidak sekadar seremonial, kita mesti beranjak, mengakhiri, dan perlu tega melepasnya sembari fokus pada hal lain yang lebih penting untuk diurusi dan dibenahi.***